Wahai Kaum Terpelajar! Adillah Sejak di Alam Pikiran hingga Perbuatan

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Mungkin judul risalah ini sedikit membingungkan dan sulit untuk dipahami. Tapi lain ceritanya jika kita pernah membaca karya sastrawan terkenal Pramoedya Anantatoer. Dia pernah berkata, “Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”

Pram seolah ingin mengingatkan pada semua orang yang berilmu untuk bijak memanfaatkan ilmunya, bahkan sikap adil itu harus sudah ada sejak dia mulai berpikir. Adil adalah menempatkan segala sesuatu dengan tepat lawan kata dari adil adalah zalim, yang artinya tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Semua kepercayaan manusia pada dasarnya meletakan sikap adil menjadi pondasi utamanya, karena dengan keadilanlah hidup akan berjalan dengan baik tidak akan terjadi chaos atau kekacauan. Kehidupan yang berjalan dengan baik atau teratur adalah impian semua manusia dibumi ini karena fitrah manusia adalah hanief (cenderung pada kebaikan).

Namun realitas yang dapat dilihat oleh mata kepala sendiri adalah kehidupan ini tidak pernah seutuhnya berdiri di atas pondasi keadilan. Kezaliman terus saja terjadi, seperti tidak ada akhirnya. Secercah cahaya yang bernama keadilan semakin sulit terlihat karena tertutupi debu dan kotoran yang bernama hawa nafsu manusia.

Hawa nafsu manusia yang membabi-buta dan tak terkendali adalah penyebab tertutupnya pintu keadilan, makna dari adil itu sendiri bias seiring dengan tumpulnya rasa mencintai sesama manusia dan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Menurut Karl Marx ketidakadilan atau yang ia sebut sebagai kapitalisme itu mulai ada ketika kepemilikan pribadi muncul.

Baca juga:  Terkait Serangan Paris, Ini 5 Bukti Nabi Larang Bunuh Non-Muslim

Karenanya, Pramoedya sudah mewanti-wanti sejak saat dini tentang keadilan, yaitu sejak proses berpikir. Berpikir adalah proses mencari pengetahuan, dalam proses inilah manusia menggunakan panca inderanya untuk melakukan pengamatan atau objektifikasi pada segala sesuatu yang dapat dijangkau.

Sejak fase berpikir inilah harus sudah adil, melakukan pengindraan dengan objektif sesuai yang terasa oleh inderanya, “Katakanlah manis saat ada gula masuk kemulut, jangan katakan kalau gula itu pahit.”

Jika sejak berpikir saja sudah adil, maka harus diikuti oleh kerja manusianya (amalnya), tidak boleh terjadi kontradiksi antara pikiran dengan kerja manusianya. Keadilan dalam Islam merupakan perintah Tuhan yang harus dilaksankan sebagaimana firman-Nya.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya  dan menyuruh kamu jika menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya kamu menetapkan hukum secara adil,” (QS An-Nissa, 58).

Berbuat adil memanglah kewajiban semua manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi, akan tetapi tidak semua manusia bisa memahami arti adil itu sendiri. Arti adil itu hanya bisa dipahami oleh orang-orang berilmu, orang yang berilmu di sini bukan hanya orang-orang yang sekolah formal.

Baca juga:  Konflik Suriah dan Media Hoax

Orang berilmu yang dimaksudkan adalah orang yang menggunakan akalnya dengan baik atau menggunakan akal sesuai dengan fungsinya sebagai alat untuk mencari kebenaran objektif. Maka dari itu kaum terpelajar menempati posisi penting sebagai penegak keadilan. Kaum terpelajar mampu menyelesaikan suatu masalah dengan kemampuannya berpikir rasional dan objektif.

Keadilan sejak dari pikiran sampai perbuatan akan terwujud jika ada kemerdekaan pada diri manusia. Keadilan tidak akan terwujud jika ada yang membelenggu dan menjadi tirani. Hanya dengan meyakini Tuhan yang benar, maka belenggu dan tirani yang menjerat manusia akan terlepas.

 

 

 

Komentar

Nasrullah Alif Suherman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *