Ini Tradisi dan Amaliah Muharam di Pesantren yang Sering Dituduh Bidah, Yuk Baca Penjelasan dan Dalilnya!

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Muharram dalam masyarakat Jawa juga disebut dengan bulan Suro. Kalau dalam masyarakat Jawa bulan Suro ada beberapa tradisi yang berbau mistis, maka dalam tradisi pesantren juga ada tradisi tersendiri dalam bulan Suro. Sebagian mungkin mirip dengan tradisi masyarakat Jawa, tapi tetap beda.

Tradisi-tradisi di bulan Muharram berikut ini selain terlaku di kalangan pesantren, namun juga banyak dilakukan oleh kalangan Nahdliyyin yang notabene juga alumni pesantren. Sebagaimana biasanya, apa yang mereka lakukan juga tak akan lepas dari tuduhan bidah, sesat dan syirik. Seperti sebuah foto yang baru-baru ini diunggah memperlihatkan adegan tes kekebalan yang dilengkapi tulisan bernada menghujat.

Sekadar berbagi dan bernostalgia, berikut ini di antaranya tradisi bulan Muharram yang banyak terjadi di kalangan santri pesantren:

[nextpage title=”1. Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun”]

1. Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun

Dalam hadis riwayat ad-Darimi [1730] dan at-Tirmidzi [3451], disebutkan bahwa Rasulullah apabila melihat hilal (bulan sabit), maka beliau berdoa: “Ya Allah, perlihatlah bulan ini kepada kami dengan kebahagiaan, keimanan, keselamatan dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.

Juga dalam sebuah hadis riwayat Abu Daud, ketika Rasulullah melihat hilal, maka beliau berdoa: “Semoga bulan ini membawa kebaikan dan petunjuk. Semoga bulan ini membawa kebaikan dan petunjuk. Semoga bulan ini membawa kebaikan dan petunjuk. Aku beriman kepada Allah yang telah menciptakanmu,” sebanyak tiga kali. Kemudian beliau berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah membawa pergi bulan ini, dan datang dengan bulan ini,” (HR. Abu Dawud [5092]).

Diqiyaskan dengan adanya doa pergantian bulan inilah, maka tradisi doa pergantian tahun rutin dilakukan di beberapa pesantren. Misalnya tradisi yang dilakukan di Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi.

Kenapa tidak setiap bulan seperti sunah Nabi? Untuk doa pergantian bulan tentunya bisa dilakukan sendiri. Nah, karena momen pergantian tahun datangnya 12 bulan sekali, maka acara doanya dibuat lebih semarak dan semangat dengan dilengkapi khataman Alquran di masjid kemudian disusul pembacaan doa akhir tahun dan awal tahun.

Baca juga:  Nah Ini 5 Jenis Petasan yang Paling Mengganggu dan Berbahaya di Bulan Ramadan

[nextpage title=”2. Puasa Tasyu’a dan Asyura”]

2. Puasa Tasyu’a dan Asyura

Usai berlalunya doa bersama saat pergantian tahun hijriyyah, memasuki tanggal 10 Muharram para santri bersiap menerima instruksi ataupun pengumuman anjuran puasa sunah. Seperti halnya saat puasa Tarwiyah dan Arafah pada tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah, puasa Tasyu’a dan Asyura pada 9 dan 10 Muharram juga mendapat perhatian khusus.

Rasulullah SAW memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura), ia boleh berpuasa. Barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa), ia boleh berbuka. (HR Bukhari)

Demikian salah satu hadis yang mendasari pelaksanaan puasa pada tanggal 10. Adapun puasa pada tanggal 9 merupakan sunah yang ditetapkan oleh Rasulullah meski belum sempat dilakukan karena beliau wafat, sebagaimana keterangan dalam Shahih Muslim [2722].

[nextpage title=”3. Santunan Anak Yatim”]

3. Santunan Anak Yatim

Tradisi ini selain banyak dilakukan di pesantren, juga oleh masyarakat umum. Meskipun akhir-akhir ini mereka juga dihantui dengan tuduhan bidah atas tradisi tersebut.

Santunan anak untuk anak yatim di Pesantren Darussalam berlangsung simpel saja. Diawali tausiyah dari pengasuh, sedikit pengarahan kemudian disusul dengan pengusapan anak yatim sekaligus santunan dalam bentuk uang yang dikumpulkan oleh panitia.

Dasar pelaksanaan santunan anak yatim sebenarnya termasuk keumuman hadis-hadis tentang keutamaan menyayangi dan menyantuni anak yatim. Misalnya dalam Fath al-Bari, Ibnu Hajar menjelaskan, “Dan telah datang hadits-hadits mengenai keutamaan mengusap kepala anak yatim yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Thabrani dari Abu Umamah dengan pernyataan, “Barangsiapa mengusap kepala anak yatim yang semata-mata karena Allah  disetiap rambut yang ia usap, niscaya Allah berikan kebaikan“, sanadnya dhaif.

Ini juga didasarkan pada hadis dari Abu Hurairah  “Sesungguhnya seorang lelaki mengadu pada Nabi SAW tentang kerasnya hatinya, Nabi bersabda “Berikan makanan orang miskin  dan usaplah kepala anak yatim“, sanadnya Hasan.

Adapun pemilihan atau penentuan tanggal 10 Muharam bukanlah satu hal pasti. Karena di berbagai daerah, pelaksanaan santunan yatim piatu tidak selalu mematok tanggal 10 Muharram. Selain itu, tradisi tersebut bukan mengajari untuk menyantuni yatim piatu hanya pada bulam Muharram saja, tapi mengingatkan kaum muslimin agar memperhatikan para yatim piatu.

Baca juga:  Ini 5 Fenomena yang Ngetren Jelang UN, dari yang Syar'i, Unik, hingga Syirik

[nextpage title=”4. Ijazahan Kitab-kitab Kanuragan”]

4. Ijazahan Kitab-kitab Kanuragan

Ini yang mulai langka dan tidak setiap pesantren ada. Sekaligus menjadi sasaran empuk tudingan syirik dari mereka yang tak paham esensinya. Ijazahan kitab kanuragan alias amalan-alaman khusus agar dikaruniai kekuatan atau kemampuan supranatural. Dalam istilah pesantren disebut kejadugan.

Kitab-kitab seperti Khazinah al-Asrar, Manba’ Ushul al-Hikmah, Syams al-Ma’arif merupakan sebagian kitab yang diijazahkan. Ada juga yang hanya mengijazahkan kitab-kitab berisi amalan khusus yang lebih mudah dimengerti ketimbang harus menggali kitab-kitab tersebut.

Memang, santri yang berminat ikut ijazahan kitab-kitab amalan berbahasa arab biasanya harus sudah mampu membaca sendiri kitab-kitab diatas. Karena ijazahan bersifat umum dan tidak detail.

Tetapi bagi yang belum bisa menguasai kitab berbahasa Arab, tetap bisa mengikuti kitab-kitab tertentu yang merupakan susunan ulama Indonesia. Biasanya rangkuman berbagai amalan yang sudah dijalani sendiri dan berhasil.

[nextpage title=”5. Ijazahan Zikir dan Tirakat Puasa Tahunan”]

5. Ijazahan Zikir dan Tirakat Puasa Tahunan

Muharram di pesantren juga menjadi momen untuk mengawali tirakat tahunan. Sehingga banyak ijazahan zikir dengan laku tirakat tahunan yang diberikan pada bulan ini. Misalnya doa khusus yang ditirakati dengan puasa Daud (sehari puasa sehari tidak), puasa dahr atau tahunan, puasa dalail dan sebagainya. Momen awal tahun dianggap cocok dan mudah untuk menjadi penanda perhitungan dimulainya tirakat tersebut.

Itulah 5 dari sekian tradisi Muharram yang terlaku di kalangan santri. Semoga menambah wawasan.

Komentar

Nasrudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *