Susahnya Jadi Santri, Tak Hanya Soal Agama, Ia Kadang Dimintai Doa Keserupan, Mahabah, atau Tolak Santet

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Seperti halnya para kiai, para santri ketika pulang dari pondok alias boyong, nggak balik mondok lagi, juga sering dijadikan tumpuan oleh masyarakat.

Utamanya soal keagamaan dan berbagai kegiatan keagamaan. Menghidupkan kegiatan mushalla dan masjid, menyemarakkan kegiatan sejenis tahlilan, barzanji dan lain lain.

Bahkan kadang masyarakat tidak terlalu butuh untuk dibacakan kitab ini dan itu. Cukup dengan mengajar anak-anak baca tulis Alquran, mengisi pengajian ibu-ibu atau bapak-bapak dengan kajian paling dasar.

Selain tugas keagamaan sebagai bagian dari pengembangan syiar, ternyata santri juga sering dituntut hal yang aneh-aneh. Bahkan kadang sebagian santri ada yang tidak mempelajarinya di pesantren, tapi ketika pulang ada saja yang memintanya. Mau tahu apa saja itu ini 5 hal unik yang kadang diminta kepada santri alumni pesantren.

[nextpage title=”1. Mendoakan Orang Sakit”]

1. Mendoakan Orang Sakit

Ini seperti pengalaman salah satu rekan saya. Meskipun belum boyong dari pesantren, namun ketika liburan kadang-kadang ada tetangga yang datang seraya mengadukan anaknya yang sakit. Orang itu meminta air doa dari teman saya.

Rekan saya ini sampai bingung mau dibacakan apa? Apalagi di pesantren dirinya bukan tergolong santri yang menekuni dunia “ air ajaib.”

Dengan niat menyenangkan orang, seraya bertawakal ia pun membacakan fatihah pada segelas air lalu diberikan pada tetanganya itu. Besoknya si tetangga sudah datang lagi dengan membawa anaknya yang sudah sehat.

Menghadapai keadaan seperti itu, rekan saya itu ya hanya bisa geleng-geleng kepala. Ya Alhamdulillah, katanya. Tapi dia sendiri juga bingung kalau terus-terusan dimintai seperti itu.

Baca juga:  Para Kiai! Ini 5 Konflik dan Masalah yang Menyebabkan Pesantren Gulung Tikar

[nextpage title=”2. Mengobati Orang Kesurupan”]

2. Mengobati Orang Kesurupan

Ini yang agak horor. Apalagi kalau di pesantren tidak pernah ikutan ijazahan doa-doa ruqyah. Bagi masyarakat dan santri pesantren, istilah suwuk lebih familiar ketimbang istilah ruqyah yang baru booming akhir-akhir ini.

Memang nggak sembarang orang bisa mengusir jin yang numpang di badan manusia. Apalagi kalau sudah ngamuk-ngamuk.

Santri kadang harus berhadapan dengan kejadian seperti ini. Benar-benar bingung. Apalagi yang tidak bisa doa-doa khusus. Mungkin pernah mengaji tapi tidak menghafalkan doa tersebut. Akhirnya lagi-lagi jusurs kepepet dipakai.

[nextpage title=”3. Dimintai Doa Mahabbah”]

3. Dimintai Doa Mahabbah

Yang satu ini agak menjengkelkan. Dimintai doa untuk mahabbah alias pelet atau pengasihan. Lah emangnya mondok diajari mengguna-guna cewek? Apalagi buat tujuan nakal? Wah…

Memang sebenarnya banyak bertebaran di kitab-kitab doa ijazahan doa-doa untuk keperluan ini. Tapi jelas bukan untuk tujuan negative semisal gonta ganti pacar. Biasanya lebih bersifat untuk menguatkan usaha pendekatan dengan tujuan menikah.

[nextpage title=”4. Dimintai Ijazah Kekebalan dan Kejadugan”]

4. Dimintai Ijazah Kekebalan dan Kejadugan

Pesantren memang pernah menjadi basis perjuangan kemerdekaan. Berbagai doa dan karomah para ulama pernah muncul dari pejuang kalangan santri. Pada momen-momen genting, pesantren juga sering kembali menunjukkan taringnya.

Maka tak heran, jika sebagian masyarakat punya asumsi bahwa semua santri pasti punya kesaktian. Entah itu kekebalan, kekuatan pukulan atau apapun.

Nah, gara-gara asumsi pukul rata seperti itu, kadang santri yang nggak punya bekal doa-doa kesaktian/kejadugan juga kena sasaran. Dimintai ijazah doa kekebalan.

Baca juga:  Orangtua Juga Perlu Tahu 5 Pesan Kiai pada Santri Sebelum Liburan Lebaran Ini!

Kalau si santri bilang tidak punya, biasanya ada yang ngotot dengan mengatakan, “Masa santri nggak punya kekebalan?” Lho… emangnya saya nyantri di tempatnya Dimas Kanjeng, apa? hahaha

[nextpage title=”5. Dimintai Tolak Santet”]

5. Dimintai Tolak Santet

Ini juga masih senada dengan poin sebelumnya. Bahkan lebih sangar. Terlebih jika sudah pernah mondok di Banyuwangi. Daerah yang pernah identik dengan ilmu tenung atau santet.

Sehingga jika sudah mondok di Banyuwangi dianggap pernah belajar tolak santet. Wah, susah deh. Pulang mondok malah dianggap calon dukun baru nih.

Ada lagi yang lebih ngeri. Dites kebal santet apa tidak. Beneran, ada rekan yang cerita seperti itu lho. Karena baru pulang dari pesantren, ada yang usil ngetes si santri kebal santet atau tidak. Duh…

Itulah 5 hal yang kadang-kadang dimintakan dan dihadapkan pada santri yang pulang dari pesantren. Catatan, tidak semuanya begitu, tapi memang ada yang seperti itu.

 

Komentar

Nasrudin
Previous post Permadi Arya alias Abu Janda al-Boliwudi Mengadakan Sayembara Berhadiah 10 Juta, Minat?
Next post Beda dengan PBNU, Ini Sikap PCNU Jember Soal Hukum Salat Jumat di Jalan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *