Sulit Makrifat pada Allah, Hindari 5 Sifat Buruk Ini

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Allah memberikan manusia akal dan nafsu. Sementera itu, malaikat hanya diberikan akal oleh Allah. Akal dapat mengarahkan manusia untuk berbuat baik, sedangkan nafsu selalu merongrong manusia untuk melakukan keburukan. Itulah mengapa, manusia lebih mulia daripada malaikat.

Bahkan, Tuhan menegaskan dalam Alquran, “Aku jadikan manusia dalam kesempurnaan (karena akalnya) (QS. At-Tin [95]: 4).” Ingat, kesempurnaan manusia bukan karena wajah Anda tampan atau cantik, kekayaan Anda menumpuk setinggi gunung, rumah Anda berbalur emas. Tapi akal yang selalu dapat membimbing Anda membedakan antara baik dan buruk.

Namun ingat, Tuhan juga mewanti-wanti, “Kemudian aku hinakan dia (manusia) sehina-hinanya (karena nafsunya) (QS. At-Tin [95]: 5).” Oleh karena itu, gunakan akal Anda sebaik-baiknya, karena ini adalah anugerah Tuhan yang terbesar. Bila akal berpikir positif, maka hatipun akan selalu bersih, sehingga perbuatan yang dilakukan pun akan selalu baik.

Menurut Syekh Ibnu Athaillah dalam al-Hikam, sifat-sifat tercela itu dapat membuat kita ter-mahjub mengenali Allah. Sifat buruk seharusnya kita dapat meminimalkan melakukannya atau bahkan menghindarinya. Paling tidak, ini 5 sifat mengapa kita sulit makrifat pada Allah.

1. Hasud

Kata Hasud dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan dengan iri hati. Kata ini diserap dari bahasa Arab yang berasal dari akar kata h s d, yang berarti menginginkan hilangnya anugerah dan kenikmatan yang Allah berikan pada orang lain, sebagaimana disampaikan Ibn Faris dalam Maqayisul Lughah.

Fenomena rebutan jabatan sering kali kita saksikan, baik pada taraf kampus maupun pemerintah. Anak bangsa ini ditanam dan dicekoki dengan tontonan bahwa pemilik kekuasaan itulah yang hebat. Sehingga, ketika lawan politik menjabat sebagai pimpinan, kita diajarkan bagaimana cara menjatuhkannya.

Baca juga:  Difitnah Orang? Tak Usah Galau! Belajarlah dari 5 Hal yang Dilakukan Istri Nabi Ini

Kita tidak didik bagaimana menopang dan men-suport orang yang sedang mengemban jabatan untuk memajukan program-programnya. Yang ada, kita diajarkan bagaimana menggerogotinya.

2. Ria

Jangan Anda kira yang namanya musyrik itu hanya menyembah kuburan saja. Musyrik itu banyak macamnya. Ketika perbuatan baik yang Anda lakukan selalu ingin diketahui orang lain itu namnya ria, juga musyrik.

Artinya, ketika setiap perbuatan yang Anda lakukan ingin dianggap manusia, bukan semata murni karena Allah, itu sama saja Anda menduakan Allah. Anda menganggap keberhasilan yang Anda lakukan adalah murni kekuatan Anda.

Memang sulit menanamkan keyakinan 100 % bahwa keberhasilan yang kita capai dalam hal apa pun itu anugerah dari Allah. Umumnya kita biasanya merasa besar hati dan ujub ketika kita sukses dalam melakukan sesuatu, tanpa menyadari bahwa Allah ikut andil dalam usaha Anda. Sebaliknya, ketika gagal, tidak jarang kita menyalahkan Allah, tanpa mau introspeksi diri sendiri.

3. Sombong

Allah memiliki sifat al-mutakabbir, Yang Maha Sombong. Manusia tidak berhak memiliki sifat ini. Ketika manusia sombong, sama saja dia ingin merebut sifat yang hanya dimiliki Allah. Karenanya, kita sebagai makhluk sosial tidak patut menyombongkan apa yang kita miliki. Makhluk sosial itu saling membantu dan menolong satu sama lain.

Ingat peribahasa Di Atas Langit Ada Langit? Anda pintar, pasti ada yang lebih pintar dari Anda. Anda kaya, pasti ada yang lebih kaya dari Anda, dan begitu seterusnya. Manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Keahlian yang dimiliki seseorang belum tentu dimiliki orang lain. Oleh karena itu, manusia itu satu sama lain seharusnya saling melengkapi.

Baca juga:  Agar Ilmu yang Didapat Jadi Berkah bagi Hidupmu, Ini 8 Cara Mendapatkannya

4. Dendam

Alquran mengajarkan kita untuk memaafkan pada seseorang yang berbuat salah pada kita. Memang, Alquran membenarkan kita membalas setimpal perbuatan jahat yang dilakukan orang lain. Contoh kecilnya, Anda dicubit, maka Anda hanya boleh membalas dengan mencubitnya kembali. Tidak boleh lebih dari itu. Dia mencubit satu kali, Anda tidak boleh mencubit dua kali.

Marah itu wajar, manusiawi. Namun yang keliru itu dendam. Konotasi dendam itu marah yang tidak berkesudahan. Sehingga perbuatan baik yang dilakukan orang yang Anda dendam padanya selalu Anda anggap buruk. Bencilah sifat buruknya, jangan Anda benci orangnya.

5. Menggunjing

Menggunjing. Nah, yang satu ini seakan-akan menjadi sarapan, makan siang, dan makan malam setiap orang. Dalam bahasa Arab disebut dengan namimah, membicarakan dan menyebarkan keburukan orang lain.

Bila kita terbiasa membicarakan keburukan orang lain, tidak menutup kemungkinan sifat buruk yang disebutkan sebelumnya akan ikut menyusul dan menyusup dalam diri kita. Karenanya, berusaha keraslah nasihati hati dan jiwa Anda bila terbesit ingin membuka aib orang lain.

ibnu kharish1Penulis : Ibnu Kharish | Penulis Tetap Datdut.com

Fb : Ibnu Harish

Komentar

Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *