Lewatilah Masa-masa Galau Jadi Santri! Semua yang Nyantri Pasti Mengalami

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Santri mengalami beberapa fase dalam proses mondoknya. Bila sukses melalui fase tersebut, maka bisa dikatakan ia betah atau kerasan di pesantren. Namun kalau gagal melewati salah satu fase terpenting, maka santri tak akan bertahan lama di pesantren.

Fase tersebut hampir pasti selalu dialami santri. Berawal dari sebagai santri baru, santri lama, hingga santri yang super lawas pasti mengalaminya. Ada saat-saat rawan di antara fase tersebut. Yang menentukan keberhasilan santri menempuh pendidikannya di pesantren. Nah, berdasarkan kerasan atau betahnya santri, 3 fase berikut ini selalu dialami para santri.

[nextpage title=”1. Belum Betah”]

1. Belum Betah

Fase belum betah adalah milik santri baru atau santri pindahan. Mereka baru mengalami suasana baru dan berbeda dari saat di rumahnya. Ia Sedang dalam masa penyesuaian diri. Biasanya, santri baru banyak di antaranya yang menangis.

Masa-masa ini juga ditandai dengan fisik yang mudah sakit. Perubahan pola makan dan rutinitas berpengaruh terhadap kesehatannya. Interaksi dengan banyak orang yang belum tentu menjaga kebersihan mengakibatkan santri baru paling rawan terserang penyakit kulit.

[nextpage title=”2. Betah”]

2. Betah

Fase ini biasanya dialami santri yang sudah agak lama di pesantren. Ketika mereka sukses melewati ketidakbetahan pertama, akhirnya mereka bisa merasakan sisi nikmatnya nyantri. Mereka sudah bisa menerima pola hidup santri. Dari porsi makan, berapa kali makannya sehari, sudah terbiasa bangun sebelum subuh, sudah asyik mengantri kamar mandi dan sebagainya.

Baca juga:  Ini 5 Kebiasaan Unik Santri Putri yang Tak Terlupakan

Fase betah atau kerasan ditemukan setelah berhasil menahan diri untuk tidak pulang saat mengalami fase belum betah. Soal penyakit, santri yang terhitung sudah lama, sudah kerasan biasanya lebih kebal penyakit.

Meskipun sama-sama mandi dalam satu kolam pemandian atau satu penampungan air umum, sama-sama gampang tertukar pakaian, tetapi santri lama sudah jarang kena penyakit kulit. Kalaupun punya sudah tidak separah ketika masih berstatus junior. Aneh juga sebenarnya.

Termasuk dalam kategori fase kedua ini adalah santri yang membetahkan diri. Mereka sebenarnya tidak kerasan di pondok. Namun karena tidak mungkin untuk boyong disebabkan suatu alasan, akhirnya mereka menahan diri.

Namun golongan santri yang membetahkan diri ini biasanya malah terjerumus ke dalam hal-hal kurang baik. Karena keinginan mereka untuk keluar pondok tidak terpenuhi, maka santri ini melampiaskannya dengan hal kurang baik di pesantren. Jadilah golongan santri nakal.

[nextpage title=”3. Tidak Betah Lagi”]

3. Tidak Betah Lagi

Fase ini adalah milik santri purna. Jenjang madrasah diniyyah usai ditempuh seluruhnya. Mengaji kitab pun sudah lumayan banyak. Mengabdi sebagai pengajar atau pengurus juga sudah agak lama. Mengurus santri sepanjang hari juga sudah mulai lelah.

Semua itu ditambah faktor usia yang kian dewasa. Mendekati usia 30 tahun ke atas. Apalagi sering mendapat undangan resepsi nikah justru dari juniornya. Nah, fase inilah milik para ustaz, pengurus dan santri senior. Mereka mulai memikirkan kapan dan dengan siapa akan menikah.

Baca juga:  Ini Alasan dan Solusi Ketika Anak Tidak Betah di Pesantren

Fase ini harus disikapi dengan bijak. Memang sudah saatnya para senior itu untuk menikah. Namun juga perlu dipikirkan penerusnya. Agar pesantren tak kehilangan guru yang berpotensi. Masa tidak betah yang ini juga harus dicarikan solusinya, agar para santri yang tidak pandai mencari jodohnya bisa mendapatkan jodoh.

Nah, ada satu lagi fase langka. Hanya dimiliki santri yang melewati fase tidak betah yang kedua. Yaitu fase betah lagi. Santri yang sampai pada titik ini  sudah tidak ingin keluar pesantren atau berhenti mondok. Kalau tidak diusir kiai atau dipaksa nikah, santri model begini akan menghabiskan umurnya di pesantren.

Di fase manakah Anda saat ini?

Komentar

Nasrudin