Ini 5 Sisi Unik yang Tak Banyak Diketahui tentang Pesantren Sidogiri

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Berdiri sejak tahun 1745 M., dalam versi lain 1718 M., Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) termasuk salah satu pesantren tertua di Indonesia (Baca: 5 Pesantren Tertua di Indonesia).

Kawasan Sidogiri dibabat pertama kali oleh Sayyid Sulaiman Bin Abdurrahman bin Umar. Beliau masih keturunan Rasulullah dari marga Basyaiban. Sang Ayah merupakan perantau dari Tarim, Hadramaut, Yaman. Ibunya, Syarifah Khodijah, adalah putri Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Dengan demikian, dari garis ibu, Sayyid Sulaiman merupakan cucu Sunan Gunung Jati.

Proses babat alas dilakukan oleh Sayyid Sulaiman dibantu santri sekaligus menantunya, Kiai Aminullah dari Pulau Bawean. Sidogiri yang saat itu masih berupa hutan belantara yang angker selesai dibuka dalam waktu 40 hari.

Banyak hal yang menarik dari pesantren ini. Sistem pendidikannya, perkembangan usahanya, dan berbagai hal menarik lain yang tak akan cukup dibahas dalam tulisan singkat. Karenanya, di antara sekian keunggulan pesantren sidogiri, berikut ini 5 sisi unik pesatren ini yang tak banyak diketahui:

1. Dua Versi Riwayat Berdirinya Pesantren

Pesantren yang saat ini diasuh oleh K.H. A. Nawawi Abdul Djalil ini memiliki dua versi catatan tahun berdiri. Menurut catatan Panca Warga yang ditandatangani oleh almarhum K.H. Noerhasan Nawawie, K.H. Cholil Nawawie, dan K. A. Sa’doellah Nawawie pada 29 Oktober 1963, disebutkan bahwa Pesantren Sidogiri didirikan pada tahun1718 M.

Dalam surat lain yang ditandatangani K. A. Sa’doellah Nawawie pada tahun 1971, saat itu Pesantren Sidogiri berulang tahun yang ke 226, yang berarti tahun berdirinya pesantren Sidogiri adalah 1745. Selanjutnya, versi kedua inilah yang dijadikan patokan hari ulang tahun Pondok Pesantren Sidogiri.

2. Definisi Santri Ala K.H. Hasani Nawawie

Banyak versi yang menjelaskan arti kata santri. K.H. Hasani Nawawie menegaskan definisi santri yang menjadi acuan Pesantren Sidogiri. Definisi itu Diungkapkan dalam bahasa Arab yang terjemahannya, “Berdasarkan peninjauan tindak langkahnya santri adalah orang yang berpegang teguh dengan Alquran dan mengikuti sunnah rasul serta  teguh pendirian. Ini adalah arti dengan bersandar sejarah dan kenyataan yang tidak dapat diganti dan diubah selama-lamanya. Allah-lah Yang Maha Mengetahui atas kebenaran sesuatu dan kenyataannya.

3. Sistem Pendidikan Madrasah dan Pengajian

Selama kurang lebih 193 tahun, Pesantren Sidogiri hanya menggunakan sistem pengajian langsung kepada kiai atau pengasuh. Baru pada masa kepengasuhan K.H. Abdul Djalil, sejak 15 April 1938/14 Safar 1357, Pesantren Sidogiri resmi menerapkan sistem pendidikan Ma’hadiyyah dan Madrasiyyah.

Baca juga:  Indahnya Kebersamaan dalam Secangkir Kopi Santri, Ini 5 Cerita Indahnya

Sistem madrasiyah diwujudkan dengan mendirikan Madrasah Miftahul Ulum (MMU), sedangkan sistem ma’hadiyah berupa kegiatan pendidikan dan pengajian santri siang maupun malam hari.

Kegiatan ma’hadiyah (nonaakdemik) meliputi shalat lima waktu berjamaah, shalat tahajud, witir, duha secara berjamaah. Lalu ada takrar (pengulangan hafalan) nazam, pengajian kitab kuning bersama pengasuh maupun pengurus, musyawarah ma’hadiyah, pendidikan baca Alquran. Kegiatan pembacaan macam-macam wirid meliputi istighfar, salawat, burdah, istighasah, Ratib al-Haddad, surah al-Kahfi, Simthu Durar, dll.

Selain itu, ada juga pengajian Ihya’ ‘Ulumiddîn, Fathul-WahhabShahih BukhariHasyiyah al-Bannani, dan kitab-kitab lain langsung ke pengasuh untuk tingkatan tsanawiyah dan kuliah syariah. Setiap bulan juga digelar forum-forum kajian dan diskusi ilmiah di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Studi Islam (LPSI).

Meskipun Pondok Pesantren Sidogiri adalah pesantren yang menggunakan sistem salaf dan tidak mendirikan pendidikan sekolah formal, tetapi pesantren ini banyak menghasilkan lulusan yang mumpuni. Madrasahnya pun telah mendapat status muadalah (persamaan). Sehingga ijazah aliyah bisa digunakan untuk kuliah.

4. Tradisi Kepenulisan

Ini termasuk salah satu keunggulan pesantren sidogiri. Tradisi menulis semakin semarak di pesantren tertua ini. Bahkan, pesantren mendirikan BPP (Badan Pers Pesantren) yang bertugas mengawasi, mengkoordinir dan mengarahkan media-media terkait standar isi, tampilan desain, jadwal terbit, orientasi isi dan segmen pembaca masing-masing media pers. BPS juga bertanggungjawab atas proses seleksi dan redaksional media-media tersebut. Setidaknya ada 15 media kepenulisan yang dimiliki Pesantren Sidogiri yang meliputi buletin, majalah, dan majalah dinding.

Ketekunan santri mempelajari kitab-kitab klasik dan memadukannya dengan musyawarah dan pengajian kepada guru dan kiai menghasilkan alumni yang memiliki dasar akidah ahlussunah wal jamaah yang kuat. Sebut saja Ustaz Muhammad Idrus Ramli misalnya, yang kian mentereng namanya dalam kancah penentangan terhadap Wahabi.

Selain itu, banyak buku-buku karya santri Sidogiri yang patut diperhitungkan. Misalnya buku Menelaah Pemikiran Agus Mustofa karya A. Qusyairi Ismail dan Moh. Achyat Ahmad yang dengan cerdas membantah pemikiran-pemikiran Agus Mustofa yang dipandang nyleneh dan menyimpang. Santri Sidogiri juga ada yang menulis bantahan atas buku Prof. Quraish Shihab yang berjudul Mungkinkah Sunni-Syiah Bersatu dalam Ukhuwah?

Di era perang pemikiran ini, kaum santri dituntut untuk mempertahankan corak keislaman Aswaja Indonesia dan menyebarkannya untuk mengimbangi, bahkan melawan corak Islam Wahabi maupun Syiah. Untuk itu, telah banyak pesantren yang mendirikan usaha penerbitan buku-buku agama Islam, termasuk Sidogiri. Melalui Penerbit Pustaka Sidogiri, pesantren ini aktif menerbitkan buku-buku agama terutama pembelaan terhadap faham aswaja yang dianut NU. Hingga saat ini lebih dari seratus judul buku telah diterbitkan baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab.

Baca juga:  Mau Pesantrenkan Anak? Jangan Berikan 5 Benda Ini Selama Dia Nyantri!

5. Badan Usaha

Pesantren Sidogiri menjadi salah satu pesantren di lingkungan NU yang tersukses dalam bidang ekonomi. Keberhasilan mengembangkan lembaga keuangan dan badan usaha di pesantren diperkuat dengan jaringan alumni yang cukup kuat dan lebih fokus bergerak di bidang pengembangan ekonomi. Contohnya, jaringan BMT sidogiri yang hingga usianya yang ke-13  telah memiliki 230 Unit Layanan Baitul Maal wat Tamwil alias Jasa Keuangan Syariah dan 1 Unit Pelayanan Transfer.

Sayap bisnis Ponpes Sidogiri dikembangkan lewat tiga lini, yaitu BMT MMU (Maslahah Mursalah lil Ummah) yang fokus pada pemberdayaan guru, BMT UGT (Usaha Gabungan Terpadu) yang melayani jasa keuangan syariah secara umum, dan Koperasi Ponpes (Kopontren).

Lini bisnis Sidogiri lewat Kopontren juga luar biasa. Kopontren Sidogiri membangun jaringan gerai ritel, terutama di wilayah Pulau Madura. Hingga 2011 saja, di Pulau Madura ada 16 unit minimarket Kopontren Sidogiri, sebagaimana dilansir kabarbisnis.com.

Selain karena merupakan salah satu pesantren tertua, perkembangan pesantren sidogiri yang begitu lengkap, baik sisi pendidikan maupun perekonomian layak menjadi pertimbangan Anda untuk memilihnya sebagai tempat pendidikan anak-anak Anda.

nasrudin maimun

Nasrudin | Kontributor tetap DatDut.Com

FB: Nasrudin El-Maimun

Komentar

Nasrudin
Previous post Ini 5 Meme Kopi Jessica yang Berseliweran di Media Sosial
Next post Membongkar 5 Fakta di Balik Situs NU Garis Lurus yang Meresahkan Nahdliyin