Orangtua Juga Perlu Tahu 5 Pesan Kiai pada Santri Sebelum Liburan Lebaran Ini!

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Bulan Ramadan memasuki pertengahan. Kegiatan di berbagai pesantren sudah mulai ada yang diakhiri. Santri memasuki liburan panjang. Memang tidak sama antara satu pesantren dengan yang lain. Ada pesantren yang memulai pengajian kilatan sejak pertengahan Sya’ban dan berakhir tanggal 15 Ramadan. Ada juga yang mulai tanggal 20 Sya’ban dan berakhir 20 ramadan. Maka hari-hari ini, sebagian pesantren sudah meliburkan santrinya.

Liburan panjang bagi santri adalah saatnya menyegarkan badan dan pikiran dari sekian kegiatan dan kekangan aturan di pesantren. Untuk sejenak mereka tak akan mendengar suara Kamtib (keamanan dan ketertiban) dan pengurus yang tukang membangunkan salat jamaah subuh atau tahajud. Mereka juga tidak akan dikejar-kejar agar mengikuti kegiatan. Apa yang tadinya dilarang di pesantren sebagian sudah bisa dilakukan, seperti menggunakan HP, main game, hingga plesiran.

Nah, menjelang liburan panjang santri, biasanya kiai atau pengasuh memberikan tausiyah atau mauizah pembekalan kepulangan santri. Tujuannya agar para santri tidak lepas kendali karena sedang tanpa pengawasan pengurus dan kiai. Untuk itu orantua atau wali santri juga harus tahu apa saja pesan-pesan itu? Berikut ini yang harus diperhatikan dan dijaga para santri selama liburan panjang. Untuk para orangtua, awasi putra-putri Anda terkait 5 hal ini:

[nextpage title=”1. Praktikkan Adab terhadap Orangtua”]

1. Praktikkan Adab terhadap Orangtua

“Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu, sedangkan adab tanpa ilmu seperti ruh tanpa jasad.” Demikian ungkapan dari Zakariyya Al-‘Anbari,  yang dinukil oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam Al-Jami’ li Akhlaq ar-Raawii wa Adab as-Sami’, 1/80. Setinggi dan seluas apa pun keilmuan, tanpa dihiasai adab mulia, maka orang lain akan sulit menerima dakwah orang tersebut.

Karena santri di pesantren tak hanya belajar mengisi otak dengan ilmu, namun juga dididik untuk beradab dan berakhlak mulia, maka liburan adalah waktu untuk mempraktikkan sopan santun kepada lingkungan nyata, terhadap orangtua, tetangga, dan lainnya.

Bagi yang bersuku Jawa, ukuran sopan santun biasanya dimulai dari penggunaan bahasa yang baik kepada orang yang lebih tua. Kromo inggil atau boso, merupakan bentuk bahasa Jawa yang harus dikuasai santri Jawa selain bahasa Arab kitab dan bahasa lainnya.

Baca juga:  Sebelum Dipesantrenkan, Sebaiknya Kenalkan Dulu Dunia Pesantren pada Anak Anda

[nextpage title=”2. Jaga Nama Baik Santri dan Pesantren”]

2. Jaga Nama Baik Santri dan Pesantren

Santri yang identik dengan pelajar Islam terdidik menjaga identitas keislaman dan kesopanan. Namun hal itu belumlah teruji apabila masih dalam pesantren. Ketika dalam pesantren, santri masih terjaga dan terarahkan olehnya adanya peraturan dan pengawasan. Namun, ketika di rumah saat liburan, santri dituntut memilki ketakwaan. Tanpa harus diawasi pengurus dan pengasuh, harus bisa menjaga kehormatan diri dan almamater santri.

Saat liburan pula, tampaklah mana santri yang sudah meresap kesantriannya dan mana yang masih sekedar mondok saja. Contoh paling gampang, santriwati yang di pesantren biasa terbalut busana muslimah yang sopan, akan terbukti apakah di rumah ia akan tetap menjaga identitas diri atau justru membuang busana santri ala jilbabers dan berganti menjadi santri jilboobers.

[nextpage title=”3. Jaga Keselamatan”]

3. Jaga Keselamatan

Santri di pesantren umumnya jarang berkendara sendiri. Sepeda motor utamanya. Hanya sebagian santri dari kalangan tertentu saja yang leluasa naik motor karena ada tugas terkait pesantren atau pengasuh.

Saat momen liburan, berulang kali setiap tahun selalu ada saja santri yang mengalami inseden kecelakaan di jalan raya. Mungkin karena sudah jarang berkendara, saat kembali bebas naik motor mereka sedikit ceroboh. Hal inilah yang selalu diperingatkan oleh para pengasuh pesantren. Hendaklah berhati-hati saat di jalan. Utamakan selamat. Karena para santri masih harus menuntut ilmu dan menggapai cita-cita.

Bagi Anda para orangtua, saat buah hati liburan panjang, perhatikan hal ini. Awasi anak agar tidak terlalu bebas naik kendaraan dan kurang hati-hati.

[nextpage title=”4. Jangan Lupa Hafalan”]

4. Jangan Lupa Hafalan

Meskipun masa liburan panjang, sebenarnya itu hanya istirahat sejenak. Dibanding rentang waktu dalam setahun yang harus ditempuh santri untuk belajar, maka liburan sebulan hanyalah istirahat sejenak.

Ibarat kendaraan, janganlah mematikan mesin berhari-hari tanpa ada pemanasan. Kelak saat akan digunakan agar kendaraan tidak butuh waktu lama untuk segera jalan. Begitu pula fungsi otak yang agak disitirahatkan saat liburan. Janganlah terlalu blong tanpa kendali. Menjaga atau mempersiapkan hafalan adalah salah satu caranya agar otak tetap terjaga kondisi “panas mesinnya”.

Baca juga:  Santri Juga Bisa Jadi Menteri, Ini 5 Buktinya

[nextpage title=”5. Jangan Melanggar Larangan Pesantren yang Termasuk Larangan Syariat”]

5. Jangan Melanggar Larangan Pesantren yang Termasuk Larangan Syariat

Aturan pesantren ada sebagian yang juga merupakan aturan syariat. Larangan-larangan agama semacam mencuri, minum minuman keras atau memabukkan, konsumsi narkoba, menjalin hubungan khusus dengan lawan jenis lain mahram, adalah sebagian aturan yang dalam peraturan pesantren tercantum sebagai daftar larangan.

Maka sebagian pesan para kiai, juga yang harus diperhatikan orang tua adalah agar santri di rumah tidak sampai melanggar hal itu. Tidak semua santri itu sudah terdidik takwa, karena mereka pada dasarnya adalah anak muda atau remaja yang sedang berproses. Masih terus belajar. Karenanya perlu perhatian orangtua.

Para santri atau oknum santri yang melanggar larangan pesantren sekaligus larangan agama saat liburan, cepat atau lambat akan ketahuan oleh pengurus. Dan, hukuman setimpal pun segera menghadang. Dari yang paling ringan seperti digundul, membersihkan lingkungan, hingga yang harus dicabut status santrinya di pesantren bersangkutan.

Itulah beberapa pesan yang biasa saya dengar dari kiai menjelang liburan panjang santri. Ketika liburan, maka tanggung jawab mengawasi anak didik kembali kepada para orangtua. Kepada para santri, liburan juga momen untuk membuktikan atau melatih diri, bahwa selama ini Anda tekun di pesantren itu ikhlas karena Allah ataukah hanya sekedar taat aturan, dan ketika di rumah lalu bebas sesuka hati.

Komentar

Nasrudin
Previous post Kucing Kampung Berkaki Buntung (Cerpen Chitra Sari Nilalohita)
Next post Jadikan Ramadan Ini sebagai Ramadan Terakhirmu Menjomblo! Tapi Pahami Dulu 5 Hal Ini