Jangan Silau dan Terperdaya Oleh Para Penjual “Islam” dan “Kesalehan”

0 0
  • 32
  •  
  •  
  •  
    32
    Shares

Dibaca: 156

Waktu Baca2 Menit, 59 Detik

DatDut.Com – Setelah kemarin jadi ledekan kaum liberal tentang seorang penulis terkenal yang meminta honor 25 juta untuk undangan debat, saya jadi berpikir ulang mengenai orang-orang yang menjual “islam”, “kesalehan”, dan “kebaikan”.

Apakah memang harus “islam” dan “kesalehan” mesti diuangkan?! Terima honor apa pun itu masih wajar, tapi menjadi tidak wajar bila angkanya tidak wajar. Untuk ukuran acara debat, memang itu tidak wajar. Wong mengundang debat profesor, kaliber internasional, dan bahkan dari luar negeri sekalipun, tak meminta bayaran semahal itu.

Ini sama tidak wajarnya dengan dai seleb yang mematok honor selangit untuk materi yang amat tidak berkelas dan sama sekali bukan sesuatu yang baru. Wajar bila kemudian orang-orang liberal selalu mencibir para penjual “islam” dan “kesalehan”. Saya sendiri beberapa kali punya pengalaman dengan para penjual “islam” dan “kesalehan”, entah itu ustad seleb atau penulis yang selalu menisbatkan kata “islami”. Mungkin juga orang-orang yang dikenal publik sebagai orang yang “islami” dan “saleh” dalam profesi apa pun.

Pertama, dulu saat awal-awal menulis buku dan penerbit minta untuk ada endorsment dari ustad seleb. Apa yang terjadi? Untuk hanya 1-2 kalimat saja, ustad itu melalui menejemnnya, meminta honor 7 juta.

Kedua, masih dulu saat awal-awal menulis buku dan untuk buku yang berbeda. Penerbit juga meminta saya untuk mencari endorsment dari penulis lain yang lebih dulu terkenal. Singkat kata sesuai tema buku dan atas saran penerbit, saya akhirnya meminta endorsment dari seorang penulis cerpen terkenal. Hingga saya datang ke rumahnya demi mengantar dummy naskah, tapi sampai buku itu terbit, tak pernah ada kabar dan penjelasan soal dia mau atau tidak memberi endorsment.

Baca juga:  Saat Dihadapkan pada Masalah Rumah Tangga, Ini Seni dan Solusinya

Ketiga, beberapa hari lalu saya meminta endorsment terkait novel yang saya buat, pada dua orang penulis novel terkenal. (Karena saya baru pertama tulis novel, maka penerbit menyarankan agar mencari endorsment dari novelis yang lebih dulu dikenal publik).

Apa yang saya dapat? Ternyata mereka tak sesuci dan setulus apa yang selama ini saya kenal dalam tulisan-tulisannya. Untuk hanya 1-2 kalimat saja, betapa sombong dan angkuhnya dua orang itu. Padahal, orang-orang yang ilmu dan reputasinya jauh di atasnya saja, tidak sesombong itu.

Melalui tulisan, cerpen, dan novel, saya sering melihat mereka menyebut-nyebut kepedulian pada umat Islam lainnya, dan sering menyebut-nyebut Palestina dan wilayah konflik lainnya. Lah, bagaimana mereka menyampaikan soal kepedulian yang lebih besar, kalau hanya dimintai 1-2 kalimat saja sepelit itu! Atau apa saya dianggap bukan “umat Islam”?

Entahlah! Yang jelas kesan saya karena pengalaman ini berulang, mereka ini hanya omdo: omong doang, “Islami” di tulisan, tapi sepertinya tak se-“islami” itu dalam alam nyata. Sepertinya mereka juga perlu mengajari dirinya tentang makna hakiki dari “islami”, “kesalehan”, dan “kebaikan” pada hal-hal yang sederhana.

Mereka perlu diingatkan soal “kabura maqtan indallah Allah an taqulu ma la taf’alun” (besar sekali murka Allah bila kalian mengatakan [menuliskan/menbarkan] sesuatu (yang dipersepsi baik) yang tak kalian lakukan). Mereka juga perlu juga disadarkan tentang sabda Nabi yang menyebut bahwa tidak dikatakan beriman orang yang tidur nyengak, sementara tetangganya kelaparan. Bila hadis ini dikontekstualisasikan dalam kasus ini, maka mungkin akan begini bunyinya: “tidak dikatakan beriman orang yang sudah nyaman dalam keterkenalan, sementara diminta endorsment saja pelit tidak ketulungan (atau karena berharap sesuatu)”.

Baca juga:  Lima Orang Ini Berani Kritik Ulama yang Ilmunya Jauh di Atasnya

Kesimpulannya, jangan terlalu percaya begitu saja apalagi terpesona lalu mengidolakan berlebihan orang-orang yang menjual “islam” dan “kesalehan”. Karena, pada banyak kasus, itu semua hanya dijadikan alat untuk cari makan. Tidak lebih. “Islam” dan “kesalehan” hanya dijadikan bungkus untuk keduniaan yang sering mereka caci dalam tulisan dan ceramah mereka.

Maka, jangan salahkan kaum liberal kalau mereka begitu membenci para penjual “islam” dan “kesalehan”. Kali ini saya harus setuju dengan posisi kaum liberal.

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah
  • 32
    Shares