Nah, Ini 5 Fakta terkait Banjir Bandang Zaman Nabi Nuh

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Hampir semua tradisi memiliki kepercayaan soal terjadinya banjir bandang yang menenggelamkan sebagian besar bumi. Kisah banjir bandang itu bisa ditemukan di India, Cina, Burma, Melayu, Australia, Samudera Hindia, dan masyarakat Indian. Namun, banjir bandang yang berhubungan dengan Alquran adalah banjir yang terjadi pada zaman Nabi Nuh.

catatanTemuan-temuan para ilmuwan membuktikan bahwa banjir pada zaman Nabi Nuh itu memang benar terjadi. Bahkan, situs kapal yang dipercaya sebagai bekas kapal Nabi Nuh telah ditemukan di wilayah Turki dekat perbatasan Iran.

Di sekitarnya ditemukan pula jangkar batu, reruntuhan bekas pemukiman, dan ukiran dari batu. Kayu dari perahu tersebut sudah tidak ada lagi. Yang ada hanya sebuah bentuk simetris raksasa seperti perahu. Diduga tanah, debu dan batuan vulkanis yang memiliki usia berbeda-beda telah masuk ke dalam perahu tersebut selama bertahun-tahun sehingga memadat dan membentuk  sesuai bentuk perahu.

Berikut 5 fakta terkait banjir bandang pada zaman Nabi Nuh a.s., yang saya sarikan dari buku Mausu’ah al-I’jaz al-Ilmi lish-Shighar karya Yusuf al-Haj Ahmad:

1. Terjadi di Gunung Judi

“ Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman, ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.’ Yang beriman bersama dengan Nuh itu hanya sedikit,” (QS Hud [11]: 40).

Ayat pada Surah Hud tersebut menginformasikan peristiwa banjir bandang yang terjadi di Gunung Judi, puncak pegunungan Ararat, yang terdapat di Turki bagian timur.

Informasi Alquran tersebut seratus persen sama dengan informasi yang diperoleh dari ilmu sejarah dan temuan-temuan arkeologi modern. Informasi Alquran justru tidak sama dengan apa yang diketahui oleh kebanyakan manusia pada saat Alquran turun.

2. Temuan Arkeologis

Tim dari Museum Inggis dan Universitas Pennsylvania Amerika pada 1920 yang diketuai oleh Sir Leonard Wooley. Tim ini melakukan penggalian di Tell Al-Obeid, bagian utara Kota Ur, di Iraq. Mereka berhasil menguak lapisan endapan tanah yang amat dalam, yang menyimpan wadah, patung keramik, dan bagian-bagian tanah liat yang masih menyisakan bekas-bekas tumbuhan alang-alang yang menempel di tanah itu.

Baca juga:  Begini Lho Model Kekhilafahan pada Era Khulafa Rasyidin

Berdasarkan penelitian dengan mikroskop, Leonard menyimpulkan kuantitas endapan tanah yang terdiri dari berbagai bahan yang disapu oleh air dari wilayah bagian tengah Sungai Efrat dalam satu banjir bandang yang tingginya tidak kurang dari 25 kaki. Di Taurat sendiri diinformasikan tinggi banjir bandang itu mencai 26 kaki.

3. Lembah Dujlah dan Efrat Tak Cukup Menampung

Menurut Leonard, banjir bandang itu memang tidak menghanyutkan seluruh dunia, tetapi banjir itu sangat dahsyat yang melampaui tampungan Lembah Dujlah dan Efrat. Ia juga menenggelamkan semua tempat yang berpenduduk antara pegunungan di bagian timur bumi dan anak bukit bersahara di bagian barat bumi.

Saat itu, tempat-tempat itulah yang berpenghuni. Namun, Nabi Muhammad Saw. lebih dulu menginformasikan semua itu kepada kita sebelum para arkeolog mengungkapkannya.

4. Perintah Membuat Kapal

“Buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu. Mereka itu akan ditenggelamkan,” (QS Hud [11]: 37).

Nabi Nuh pun melaksanakan perintah untuk membuat kapal. Ia membangun satu tempat khusus untuk pembuatan kapal itu, yang letaknya jauh dari kota. Ia menyiapkan banyak papan kayu dan beberapa gergaji. Ia mulai pengerjaan pembuatan perahu itu dengan semangat, karena itu merupakan perintah Allah Swt.

Meski demikian, ia tidak juga terbebas dari ledekan dan pelecehan dari kaumnya. Bahkan ada yang sampai tega hati mengatakan, “Nuh, kemarin-kemarin kamu mengaku dirimu seorang nabi dan utusan Tuhan. Lalu, mengapa sekarang kamu justru menjadi tukang kayu? Apa kamu sudah tidak berminat lagi menjadi nabi, dan beralih profesi menjadi tukang kayu?”Nabi Nuh tidak memperdulikan semua itu. Dia tetap meneruskan pengerjaan pembuatan kapal, sampai kapal itu kelihatan bentuknya.

5. Cahaya dari Tungku Khusus

Nuh membuatnya dengan tiga tingkat: bawah, tengah, dan atas. Saat Nabi Nuh selesai membuat kapal itu, Allah Swt. mewahyukan kepadanya, seperti dalam ayat berikut:

“Hingga apabila perintah kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman, ‘Naikkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (naikkan pula) orang-orang yang beriman.’ Dan, yang beriman bersama Nuh hanya sedikit,” (QS Hud [11]: 40).

Baca juga:  Tren Menghafal Alquran dan Menghormati Penghafalnya

Cahaya dari tungku menjadi tanda khusus antara Nabi Nuh dan Allah. Pada saat tanda itu jelas, Nabi Nuh membawa keluarga dan kaumnya untuk menaiki kapal. Dia membawa serta semua hewan dengan pasangannya.

Konon, jumlah keseluruhan orang yang ikut serta ada 13 orang, yang terdiri dari: Nuh beserta tiga putranya (Sam, Ham, Yafits), beserta istrinya masing-masing. Ada enam orang lagi lainnya. Ada satu putra Nuh yang tidak ikut serta dalam kapal itu. Anak itu bernama Kan’an, yang menolak ajakan Nabi Nuh dan memilih menjadi kafir.

***

Nah, saat Nabi Nuh sudah dalam posisi yang nyaman di kapal, air pun datang dari segala penjuru, guyuran dari langit, ditambah air yang keluar dari semua mata air. Mengenai hal ini, Allah Swt. berfirman sebagai berikut:

Lalu Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, lalu bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan,” (QS Al-Qamar [54]: 11-12).

Sekali waktu kapal itu berlayar dengan hembusan angin yang tenang, dan di waktu lain kapal itu berlayar dengan angin yang berhembus kencang. Ombak yang demikian besar menggulung orang-orang kafir. Saat itulah mereka tenggelam. Nabi Nuh beserta orang-orang yang ada di atas kapal itu selamat. Mulai saat itulah, kapal menjadi alat transportasi baru yang dipergunakan di lautan. Dan, Nabi Nuh yang pertama kali membuatnya atas perintah Allah.

syarif hadeDr. Moch. Syarif Hidayatullah | Founder DatDut.Com
Twitter: @syarifhade

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah
Previous post Ini 5 Tren Jadul yang Telah Hilang Tergerus Media Sosial
Next post Ini 5 Pelajaran Berharga dari Kelakar Gus Dur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *