Mudik, Benar-benar Surga yang Dirindukan Para Perantau

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Benar kata Nabi, surga itu dikelilingi hal-hal yang tidak menyenangkan, sementara neraka dikelilingi hal-hal yang menyenangkan. Kalau kita sepakat bahwa mudik itu surga, maka jangan menggerutu dengan segala kesulitan dan kesengsaraan yang kita rasakan dalam perjalanan mudik kita.

Bagaimanapun rumitnya perjalanan mudik, bagi para perantau bertemu dengan orangtua, keluarga, dan menghirup udara segar kampung halaman, tetaplah hal yang tak bisa digantikan oleh apa pun. Benar-benar kenikmatan surgawi.

Yang jelas mudik memberi energi tersendiri bagi para perantau sehingga mau bersusah payah melakukan perjalanan yang tidak mudah. Bermacet-macet ria, kepanasan, perjalanan ratusan hingga ribuan kilo, bahkan di tengah-tengah sebagiannya tetap menjalankan ibadah puasa. Semua dilakukan demi merasakan kehangatan bersama keluarga.

Baca juga:  Meski Non-Muslim dan Cina, Umat Islam Tak Pernah Mempermasalahkan Kwik Kian Gie

Namun, semua lelah itu rasanya langsung hilang seketika ketika mulai memasuki kampung halaman dan mulai menghirup udara yang dulu pernah membesarkannya. Karena mudik sejatinya adalah cara Tuhan menunjukkan pada kita bahwa kita selalu menyukai asal kita, bagaimanapun jelek dan tidak nyamannya tempat itu.

Kalau merujuk pada makna “inna lillahi wa inna ilayhi rajiun”, maka maknanya dalam konteks mudik: ‘kita ini milik asal kita dan kita akan kembali padanya’. Asal kita dari Allah, dan kita akan kembali pada-Nya. Inilah fitrah kita.

Maka, bagaimanapun rumitnya mudik, bagaimanapun amburadulnya pengaturan lalu lintas mudik, bagaimana tidak siapnya pemerintah mengatur momen tahunan ini, kita tetap mudik. Karena hanya di dalam mudiklah, kita menemukan surga yang benar-benar kita rindukan selama di perantauan.

Baca juga:  Kaum Muslim Indonesia Punya 5 Tradisi Khas Ini Ketika Lebaran

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah