Menyoal Pertanyaan Hukum Maulid Nabi

  •  
  •  
  •  
  •  

Hits: 33

DatDut.Com – Sebenarnya, saya agak malas membahas maulid Nabi saw dari perspektif hukum. Persoalan ini telah selesai berabad-abad yang lalu.

Namun, entah kenapa di Indonesia, masalah ini selalu menjadi trending topik di bulan maulid. Seandainya saja Presiden Prancis tidak melakukan kesalahan, saya yakin, medsos akan dipenuhi dengan topik ini.

Dengan berat hati, mari kita bahas, dengan harapan semoga tahun depan, di bulan maulid, tidak terdengar lagi pertanyaan, “Apa hukum maulid?”

Perdebatan tentang hukum merayakan maulid Nabi saw, antara haram atau mubah, sudah salah sejak dari pertanyaannya. Terlepas dari maksud si penanya, redaksi yang digunakan, menurut saya, keliru. Mari kita bedah.

Pertanyaan yang sering dilontarkan adalah, “Apa hukum maulid Nabi saw?”

Biasanya, yang bertanya seperti ini adalah mereka yang belum memahami secara etimologi apa itu maulid. Bahkan belum mampu membedakan antara maulid dan maulud.

Sehingga sering juga muncul pertanyaan dengan redaksi, “apa hukum maulud Nabi?”. Maulud dan maulid adalah kata serapan dari bahasa Arab.

Kedua kata ini berasal dari kata yang sama, yaitu walada yang artinya melahirkan. Kata maulud merupakan keterangan waktu, yang berarti waktu melahirkan, sedangkan maulid artinya sosok yang dilahirkan.

Jika redaksi pertanyaannya berbunyi, “apa hukumnya maulid”, berarti yang ditanyakan adalah hukum kelahiran Rasulullah saw. Apa hukumnya? Ya, tidak ada.

Alih-alih berkata haram, kelahiran Rasulullah saw justru menjadi kabar gembira bagi makhluk di seluruh alam. Hukum itu melekat pada perbuatan, bukan pada obyek.

Ini sudah dijelaskan secara panjang lebar oleh Ustadz Adi Hidayat yang videonya saya tonton tahun lalu juga karena pertanyaan ini.

Baca juga:  Ulah dan Komentar Netizen pada Polisi terkait Bom Panci Bandung

Demikian juga, jika redaksi pertanyaannya, “apa hukum maulud nabi”, artinya, apa hukum hari kelahiran nabi. Jawabannya sama, tidak ada hukumnya.

Jadi, dimohon kepada para pembaca yang budiman untuk tidak bertanya dengan redaksi seperti ini lagi dan menyebarkan tulisan ini agar ummat islam berhenti bertanya seperti ini.

Redaksi pertanyaan yang lain yang agak lengkap, “Apa hukum merayakan maulid nabi?” Nah, ini agak mendingan.

Jadi, yang ditanyakan adalah hukum merayakannya. Jawabannya ada dua; haram atau mubah (boleh).

Selanjutnya, ustadz akan memaparkan dalil-dalilnya. Saya tidak ingin membahasnya di sini karena itu akan terlalu panjang dan juga bukan fokus tulisan ini.

Menurut saya, pertanyaan ini masih kurang tepat. Belum saatnya ustadz berbeda pendapat di sini. Jika yang ditanyakan adalah hukum merayakan hari kelahiran Nabi saw (maulid Rasulullah saw), maka jawabannya cuma satu, boleh dan dianjurkan. Eh, itu kan dua. Intinya, boleh.

Mengapa demikian? Karena Rasulullah saw sendiri merayakan hari kelahirannya, yaitu dengan berpuasa setiap hari Senin. Amalan inilah yang kemudian menjadi amalan sunnah bagi ummatnya.

Jadi, di samping sebagai ibadah, berpuasa pada hari Senin juga berarti “merayakan” maulid Nabi saw. Yang aneh, justru melarang merayakan maulid Nabi saw, tetapi menganjurkan puasa sunnah pada hari Senin dan Kamis.

Jadi, pertanyaannya harus bagaimana?
“Apa hukum merayakan maulid dengan cara ………….. (sebutkan tradisinya)?”

Yang harus disoal adalah cara merayakannya. Apakah boleh merayakan maulid dengan cara menyebarkan uang koin yang diwariskan nenek moyang atau biasa disebut “Sebar Udikan” seperti yang ada di Madiun?

Atau berebut mengambil makanan yang sudah ditata sedemikian rupa atau biasa disebut “Grebeg Maulid” di Yogyakarta? Ataukah dengan cara memasak bersama (Mauripee) seperti yang dilakukan masyarakat Aceh?

Baca juga:  Ketika Purgatory Bershalawat Asyghil

Tentunya, masih banyak lagi budaya perayaan maulid sesuai dengan adat istiadat setempat. Apakah boleh merayakan maulid dengan cara ini dan itu?

Sampai sini, paham?
Inti dari cara Rasulullah saw merayakan hari lahirnya dengan berpuasa adalah ibadah. Jadi, sebisa mungkin tradisi-tradisi perayaan maulid tetap harus mengandung nilai ibadah, bukan hanya sekedar ungkapan ekspresi belaka. Di sinilah tugas ustadz untuk menyaring menyaring berbagai macam tradisi agar sesuai dengan nilai-nilai agama, bukan malah menghapus atau melarang perayaan maulid itu sendiri.
Budaya/tradisi dalam agama tetap perlu dipertahankan. Hal ini akan menambah corak keberagamaan dan menjadi ciri khas dari setiap penganutnya. Dengan adanya budaya juga akan memperkuat kesan bahwa Islam adalah agama yang elastis bukan agama kaku. Bahwa Islam adalah agama pembebasan bukan membelenggu.
Dengan budaya juga dapat tercipta solidaritas yang kuat. Saya ingin meminjam istilah Kuntowijoyo ketika menulis sebuah makalah tentang Agama dan Budaya Lokal yang kemudian dimasukkan ke dalam bunga rampai antologi essainya yang berjudul Muslim Tanpa Masjid. Ia berkata, “Agama tanpa kebudayaan memang dapat berkembang sebagai pribadi, tetapi tanpa kebudayaan agama sebagai kolektivitas tidak akan mendapat tempat”.

Komentar

Muhammad Salahuddin Al-Ayyubi
Latest posts by Muhammad Salahuddin Al-Ayyubi (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *