Menjadi Netizen Santuy Demi Kedamaian Dunia Medsos

  •  
  •  
  •  
  •  

Dibaca: 231

DatDut.Com – Bukan hanya baru-baru ini saja, tindak komentar ngegas di dunia maya sudah lama dilakukan oleh para netizen. Tak terkecuali dari Indonesia yang kerap disebut netizen negara +62.

Saya kira atmosfer ‘war’ di media sosial bakal ramai pas musim kampanye doang. Lah kok setelah selesai pemilihan dan ditetapkan hasilnya masih ribut juga ya? Mungkin saya sudah salah menilai situasi.

Bukan cuma politik yang mengundang keributan, segala hal juga bisa menjadi pemicu perang antar-netizen.

Entah dendam lama atau memang hobi. Semua orang seakan bersaing untuk memenangkan perang komentar di suatu postingan yang dirasa tak sejalan.

Mulai dari postingan tokoh terkenal sampai rakyat biasa, asal menyinggung topik sensitif pasti ada saja serangan komentar tak terduga dari netizen. Bisa juga dengan saling sindir lewat status pribadi.

Masih bagus kalau mengutarakan argumen dengan santun. Ini sampai saya sebut war karena memang banyak hawa negatif bernama kebencian di sana. Atau istilah gampangnya hate speech. Nggak ada habisnya tingkah polah lucu bin nyeleneh dari netizen +62.

Ada postingan teman yang berisi hoaks, dihujat. Katanya, udah tahun 2020 masih aja percaya yang begituan.

Lanjut lagi lihat status tokoh favorit yang ternyata bermuatan sama, malah dipuji-puji. Memang kayaknya kebenaran di medsos terserah netizen.

Saat ini pun, ketika semua orang sedang sama-sama berjuang menghadapi pandemi, masih sempat juga perang di medsos. Bahkan makin banyak karena bertambah pula bahan untuk diperdebatkan.

Baca juga:  Ini 13 Meme Sindiran untuk Kebijakan Full Day School Pak Menteri yang Baru

Mohon maaf sebelumnya, tapi saya nggak tahu apakah solusi yang tepat untuk meredakan perang antar netizen ini.

Semua berlomba menyatakan pendapat dengan caranya masing-masing. Termasuk saya di sini. Cuma masih bingung gitu, nggak capek apa berantem melulu?

Sebenarnya orang berantem pasti ada pemicunya kan? Kemungkinan besar karena sebuah postingan atau statement yang ramai dibicarakan itu bertentangan dengan pendapat pribadi.

Kemudian dikomentari, yang kadang dengan cara tidak baik.

Nyinyir. Julid. Ngotot. Pokoknya bertingkas seolah kebenaran hak milik pribadi.

Coba tenangkan diri dulu, deh. Tarik napas… Hembuskan perlahan dari mulut. Yak, apakah sudah santuy?

Kalau lihat yang viral, banyak dikomentari, rasanya memang mau ikutan nimbrung sih. Apalagi pas di-scroll banyak komentar-komentar yang seru. Tapi ingat, budayakan santuy. Jangan terbawa suasana yang ada.

Buka medsos langsung lihat hate speech bertebaran, kepala apa nggak mau pecah lama-lama? Bukannya kena virus, bisa-bisa malah serangan darah tinggi karena sehari-hari adu komentar sampai emosi. Bisa repot nggak tuh kalau kejadian beneran?

Lagi susah, lihat medsos jadi makin kronis. Lagi senang, lihat medsos malah bikin nggak mood. Kira-kira begitu seandainya medsos berubah jadi media perang komentar bukan media hiburan dan komunikasi biasa lagi.

Kecuali perang di medsos bisa dianggap hiburan dalam bersosial. Nggak mungkin kan, ya?

Kalian merasa lelah dengan segala keributan di medsos? Nah, kalau begitu mari kita hentikan rantai bernuatan negatif ini dengan tidak berkontribusi dalam perang.

Baca juga:  Sepuluh Tahun Jadi Warga Aktif Facebook

Ini nggak lagi membela tanah air kan? Yang perang komentar juga hampir semuanya sesama warga negara +62 kok.

Lagian ini pada berantem tuh menang kalahnya dilihat dari aspek apa, deh? Apakah yang paling viral? Atau ada yang lain? Tolong kabari saya kalau ada perlombaan dalam bentuk perang komentar di medsos.

Apalagi kalau hadiahnya uang tunai puluhan juta rupiah, mungkin bisa saya pertimbangkan untuk ikut. Lumayan kan kalau bisa menang?

Sayangnya, saya belum menemukan lomba semacam itu. Rugi dong, ngotot-ngototan pengen jadi lebih unggul malah cuma dapet capek?

Ayolah, kita jadi netizen yang santuy. Demi menjaga ketenangan di dunia medsos yang kita arungi tiap hari.

Bikinlah status yang santuy, nggak usah ngegas. Apalagi pakai istilah dan majas, padahal isinya sindiran keras. Capek emosi ini terus-terusan dikuras.

Dan jangan lupa untuk tetap santuy, oke?

Komentar

Yasmin Azzuhri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *