Karamah Mbah Kiai Syafa’at, Pendiri Pesantren Darussalam Blokagung

3. Membaca Pikiran dan Masa Depan

Tholib, adalah salah satu santri kalong (tidak menetap) yang ikut mengaji kepada Mbah Kiai Syafa’at. Ia berasal dari Sukorejo, Banyuwangi. Ketika awal-awal pernikahannya ia kebingungan dan kesusahan karena belum memiliki pekerjaan dan penghasilan. Ia bermaksud sowan dan minta arahan kepada Mbah Kiai soal keadaan hidupnya pasca menikah.

Saat di kediaman Mbah Kiai, Tholib urung mengadukan kesusahannya karena merasa kurang pantas kalau sowan hanya mengeluhkan perkara dunia. Namun tiba-tiba Mbah Kiai berkata, “Begitu saja kok bingung? Perbanyak wiridan, insyaallah tahun depan bisa naik haji.”

Sepulang dari kediaman Mbah Kiai, Tholib mengamalkan wiridan yang diijazahkan. Dan benarlah, setahun kemudian ia bisa menunaikan ibadah haji.

Baca juga:  Begini Seharusnya Orang Indonesia yang di Luar Negeri, Bukan Justru Jadi Buzzer!

Pengalaman serupa juga dikisahkan oleh K.H. Mahfudz, Pasembon. Ketika sowan, seperti biasanya ia dipersilakan makan terlebih dahulu begitulah tradisi yang dicontohkan Mbah Kiai Syafa’at dalam menghormati tamu. Usai makan, Mbah Kiai berkata, “Kang Mahfudz, sampean nanti bisa berangkat haji kalau sudah memilki dua anak.” Kemudian Mbah Kiai menuliskan sesuatu di tangan kiai mahfudz. Ternyata benar, setelah kelahiran putra yang kedua, kiai mahfudz melaksanakan haji.

Nasrudin
Latest posts by Nasrudin (see all)