Loh, Kenapa Orang Puasa yang Minta Dihormati Haknya, Justru Dianggap Lemah Iman?

  •  
  •  
  •  
  •  

Dibaca: 295

DatDut.Com – Saya perhatikan, orangnya ya itu-itu aja dari dulu. Yang bilang, pemimpin non-Muslim yang adil lebih baik daripada pemimpin Muslim yang korup, ya dia. Eh, sekarang dia-dia juga yang ngomong, “Orang puasa yang minta dihormati, itu imannya lemah!”

Pertanyaanya, dia ini punya termometer iman, ya, sampai bisa ngukur keimanan orang lain! Kalau situ punya, kenapa termometernya tidak dipakai untuk ngukur imannya sendiri? Emang situ Nabi sampai tahu kadar keimanan seseorang.

Ini soal politik identitas, Bro! Pengakuan dan penghargaan negara terhadap pemeluk agama itu ya memang diwujudkan dalam pengakuan atas identitasnya. Jadi, sesuatu yang amat wajar bila umat Islam di Indonesia menuntut haknya. Masa minta hak untuk dihormati saat berpuasa dari hal-hal yang mengganggu saja disebut lemah iman. Apalagi, apa yang kita tuntut ini juga dijamin konstitusi!

Karenanya, mengapa kalau Nyepi harus begitu dan negara harus mengikuti? Kita yang tidak merayakannya juga dipaksa untuk mengikuti saat di Bali. Karena itu bagian dari kediakuannya agama yang merayakan Nyepi itu sebagai entitas agama di negeri ini. Atau, mengapa gereja-gereja juga dijaga oleh aparat keamanan waktu peringatan Natal? Karena di situlah bukti negara mengakui keberadaan orang yang merayakan Natal! Kita juga mesti diliburkan untuk ikut menghormati hari besar agama lain, yang sama sekali tak ada hubungannya dengan kita.

Baca juga:  Tak Ada Kesetiakawanan di Medsos

Kenapa situ gak ngomong, “Orang yang Nyepi di Bali itu imannya lemah! Kalau mau Nyepi, di acara konser musik metal saja, supaya imannya teruji!” atau, “Orang yang Natal tapi gerejanya masih dijaga aparat keamanan, berarti imannya lemah!”

Rupanya selalu ada orang yang gagal paham dalam memahami situasi dan amat polos memandang sesuatu. Orang seperti itu tak pernah sadar bahwa ia sedang diremot orang lain untuk menyuarakan kepentingan orang itu. Ia tak sadar, cacat dan sesat logika di kepalanya, sedang ditanam orang agar ia tak punya kepedulian lagi terhadap apa yang menimpa agamanya dan juga kaum Muslimin.

Untuk orang-orang seperti itu, berwudulah! Periksa kembali apa yang dikonsumsi dan dimiliki. Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak halal dikonsumsi atau dimiliki sehingga membuat hatinya keras dan selalu sulit menerima kebenaran. Dan, orang-orang seperti itu memang perlu dikasihani.

Baca juga:  Ada yang Sok Artis atau Berlagak Mufti, Ini 5 Tipe Kita di Media Sosial

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah