Indahnya Kebersamaan dalam Secangkir Kopi Santri, Ini 5 Cerita Indahnya

  • 36
  •  
  •  
  •  
    36
    Shares

Dibaca: 2524

Waktu Baca3 Menit, 25 Detik

DatDut.Com – Kopi. Minuman hitam beraroma khas ini begitu akrab dengan banyak orang. Khusus kalangan santri, kopi punya keistimewaan tersendiri. Karena cara santri ngopi beda dengan cara orang kebanyakan.

Santri yang identik dengan keterbatasan, kekurangan, dan kedisiplinan mengatur keuangan, punya siasat tersendiri untuk meikmati kopi. Santri juga memiliki tradisi ngopi yang berkaitan dengan tradisi keilmuan. Bahkan, kopi juga menjadi sarana pengikat kebersamaan para santri.

Hanya saja bagi mayoritas santri penggemar kopi, rokok merupakan pasangan wajibnya. Sekelompok santri yang membentuk “halaqah” minum kopi, rata-rata juga merupakan halaqah ahli hisap alias perokok. Tapi di pesantren yang sudah lebih memperketat aturan terhadap rokok, acara ngopi bareng menyertakan makanan ringan sebagai ganti rokok.

Begitu uniknya arti kopi bagi para santri. Sehingga dari santri, ustaz, hingga kiai banyak yang menjadi penikmat bahkan pecandu kopi. Berikut ini 5 fakta unik secangkir kopi bagi santri:

[nextpage title=”1. Kebersamaan dalam Secangkir Kopi”]

1. Kebersamaan dalam Secangkir Kopi

Cara santri ngopi beda. Tidak perlu masing-masing orang pegang satu gelas sendiri-sendiri. Cukup satu cangkir besar atau kecil untuk bareng-bareng. Satu untuk semua, seperti slogan salah satu TV. Beginilah acara ngopi bareng ala santri.

Bagi yang sudah aktif dalam kelompok ngopi, kadang biaya belanja kopi diambil dari dana belanja masak alias uang hasil iuran. Tapi banyak juga yang dari kocek pribadi. Hitung-hitung sambil sedekah. Begitu sepakat ngopi, yang punya kopi menyeduh segelas kopi lantas dinikmati bersama.

[nextpage title=”2. Ajang Menjalin Kerukunan”]

2. Ajang Menjalin Kerukunan

Acara ngopi bareng ala santri juga merupakan ajang menjalin silaturahmi dan kerukunan. Bagaimana tidak, secangkir kopi dinikmati bergiliran. Kadang pakai sendok yang sama juga. Ada juga yang langsung seruput dari gelas. Dalam satu halaqah kadang juga terdiri 2 atau tiga cangkir. Tergantung banyaknya peserta. Satu cangkir biasa diminum 3 hingga 4 santri.

Baca juga:  Ini 5 Sisi Unik yang Tak Banyak Diketahui tentang Pesantren Sidogiri

Secangkir kopi dalam ngopi bareng ala santri merupakan media pemersatu sekaligus penjalin kerukunan. Karena dalam ngopi bareng, terwujudlah perbincangan, berkelakar hingga gojlok-menggojlok alias saling ledek. Pokoknya, kalau punya jamaah halaqah qahwah, nanti pas sudah pulang pasti deh kangen kebersamaan itu.

Dalam “ritual” ngopi bareng, tentu tak boleh sembarangan celegak-celeguk minum banyak. Karena hanya secangkir, minumnya pun harus sedikit-sedikit sembari ngobrol. Kalau ada yang minumnya agak banyak, ya digojloki dengan komentar, “Kalau haus, jangan minum kopi, Kang.”

[nextpage title=”3. Momen Curhat”]

3. Momen Curhat

Ada juga momen seru dalam secangkir kopi santri. Ini biasanya hanya untuk ngopi dalam rangka lobi. Hanya berdua atau bertiga bersama kalangan santri yang dianggap lebih senior. Acara ngopi bareng dengan senior, bisa menjadi kesempatan yang diciptakan untuk berbagi permasalahan diri maupun umum untuk mencari solusi. Kepala asrama dengan kepala komplek, ketua kamar dengan kepala asrama, bahkan siswa dengan mustahiqnya bisa ngobrol dan curhat dengan menyertakan kopi.

[nextpage title=”4. Penunjang Lembur Aktivis LBM”]

4. Penunjang Lembur Aktivis LBM

Kalau yang satu ini adalah kalangan santri pemburu jawaban Bahsul Masail. LBM (Lembaga Bahsul Masail) di pesantren biasanya punya tugas untuk memenuhi berbagai undangan forum musyawarah dari berbagai pesantren. Undangan yang sudah dilampiri pertanyaan fiqhiyyah itulah yang harus dicarikan jawabannya berdasarkan referensi kitab-kitab kuning.

Dalam proses pencarian ta’bir atau penjelasan dan dalil calon jawaban nanti, biasanya harus berlembur ria dengan tumpukan kitab. Kadang dilengkapi perangkat komputer untuk memudahkan pengetikan ta’bir.

Kopi tidak bisa lepas dari kegiatan para aktivis ini. Bahkan di pesantren yang menerapkan aturan ketat ataupun larangan merokok, para aktivis bahsul masail mendapat dispensasi untuk merokok. Soalnya, rata-rata aktivis bahsul masail itu memang para perokok dan penimum kopi. Tanpa kopi, ya ibarat mesin tanpa BBM. Macet.

Baca juga:  Ingin Memperdalam Islam selama Ramadan? Ikut Ngaji Kilatan di Pesantren Salaf Saja!

[nextpage title=”5. Seni Menyeduh Kopi”]

5. Seni Menyeduh Kopi

Ternyata ada juga seni menyeduh kopi. Ini saya lihat dari sebagian santri senior pecandu kopi. Menurutnya, aturan dalam menyeduh kopi adalah menuang kopi dulu kemudian gula barulah air. Ukuran gula hanya setengah dari jumlah bubuk kopi bahkan kurang. Kalau kopinya sesendok penuh, maka gula cukup setengah sendok atau kurang.

Ukuran manis dan pahitnya kopi juga menunjukkan seorang santri benar-benar penikmat kopi atau sekedar ikutan ngopi. Kopi lanang yang berarti kopi cowok biasa cenderung pahit karena gulanya sedikit. Kalau sampai membikin kopi yang manis, ya jadilah dapat istilah kopi wadon alias kopinya cewek.

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
100 %
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Nasrudin
  • 36
    Shares