Klarifikasi Konsultan IT KPU Terkait Berbagai Isu Seputar Peretasan Situs KPU

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Setelah proses pilkada serentak, kerja yang lebih keras menjadi tanggung jawab jajaran KPU sebagai pelaksana hajatan nasional ini. Semua perhatian terkait Pilkada bertumpu pada kerja mereka. Mulai penghitungan secara manual di berbagai TPS, pengiriman kotak suara, hingga hitung manual di KPU pusat serta nantinya hasil akhir perhitungan yang dinanti banyak orang.

Meskipun dari hasil perhitungan cepat sudah terbaca siapa yang menjadi pemenang dalam pilkada setiap daerah, namun karena yang sah adalah hasil hitung manual, maka semua orang menunggu hasil hitung manual oleh KPU.

Situs resmi KPU, kpu.go.id menjadi rujukan bagi siapapun yang ingin melihat data resmi hasil perhitungan yang terus bergerak. Tak ayal situs tersebut mendapat trafik pengunjung membeludak bak jalan tol jelang lebaran. Apalagi pilkada DKI yang menjadi pusat perhatian sebagian besar orang.

Mengiringi perhitungan manual dan publikasi data hasil pilkada beredar berbagai kabar heboh soal peretasan situs KPU oleh hacker.

Ada pula yang mengedarkan isu datangnya trafik dari luar negeri, soal mesin penyedot suara dari China, hingga campur tangan pihak istana yang dibuktikan dengan gambar-gambar jejak IP orang yang mengakses situs KPU. Ada juga yang memposting seolah-olah sedang sibuk berperang membentengi situs KPU dari serangan hacker luar negeri.

Menanggapi isu yang terus beredar dan diviralkan sebagian pihak, Herry Sufehmi, Konsultan IT Komisi Pemilihan Umum, yang juga IT Infrastructure Architect untuk KPU merilis beberapa klarifikasi yang dipostingnya dalam Grup Forum Anti Fitnah Hasut dan Hoax (FAFHH). Berikut ini beberapa klarifikasinya.

[nextpage title=”1. Website KPU Dijebol Oleh Hacker China?”]

1. Website KPU Dijebol Oleh Hacker China?

Menanggapi isu yang berkembang soal, Herry Sufehmi menjelaskan bahwa yang sejauh ini tidak ada indikasi serangan dari hacker China. Dijelaskannya juga bahawa website KPU hanyalah untuk menampilkan informasi penghitungan dan bukan alat hitung yang sah. “Yang sah secara hukum adalah perhitungan manual,” ungkapnya.

Menganggapi sebuah postingan yang bernarasi tentang adanya serangan hacker China diperkuat dengan daftar IP Adress (alamat komputer pengakses internet), konsultan IT KPU ini membantahnya dengan tegas.

“Sejauh ini sama sekali tidak ada indikasi hacking oleh hacker China. Yang ditampilkan di posting ini justru IP address di Amerika, dan cuma tampilan tanpa makna, bukan bukti hacking.”

Memang sebelumnya beredar postingan dari beberapa akun yang berbunyi begini:

“Mohon doanya yang tanpa henti. skrg lg fight lawan server yg nyerang kpu: IP hacker di deteksi dari Singapura, Vietnam dan China…mereka menggunakan 6 lapis Proxy, dan menyerang dengan mengirimkan jutaan traffic dalam hitungan menit, sehingga menyebabkan server KPU down. Skrg proxy yg nyerang nambah lg dr Australia. HASBUNALLAH WA’NIMAL WAKIL….

Mohon doanya team sedang berusaha membackup, ayo yang mau bantu pertahanin ip KPU 112.215.71.242 semakin banyak yang gabung semakin kuat , dan yang lagi depan komputer silahkan dibantu yah web KPU diserang dari 4 server yang berbeda , bertubi2.”

Baca juga:  Ini Jawaban Dosen yang Disebut Bloon oleh Akademisi Ahoker

[nextpage title=”2. Server KPU Down sebagai Indikasi Kecurangan?”]

2. Server KPU Down sebagai Indikasi Kecurangan?

Sebagian isu yang berkembang juga menggiring opini masyarakat awam agar tidak percaya pada perhitungan KPU. Karena server down, maka otomatis perhitungan tidak bisa diakses oleh masyarakat. Sehingga indikasi kecurangna kian kuat.

Menanggapi isu tersebut, Harry menegaskan bahwa itu adalah hasutan yang bertujuan mengesankan bahwa ada kecurangan IT dengan cara mematikan server KPU sehingga KPU tidak bisa dipercaya lagi.

“Situs KPU down karena beban yang terlalu besar, antusiasme masyarakat terkait Pilkada 2017. Kemudian dilakukan proses #tuning, sehingga, tidak lama kemudian situs kembali berjalan.”

Lebih lanjut ia menjelaskan, “Yang kadang down adalah situs PUBLIKASI, yaitu http://pilkada2017.kpu.go.id. Sementara itu, situs INPUT DATA terus berjalan lancar. Dan para petugas KPU terus bekerja memasukkan data.”

Karena petugas terus bekerja saat situs KPU yang diakses sedang down, maka ketika situs bisa kembali normal, otomatis angka hasil perhitungan juga sudah berubah. “Ketika situs PUBLIKASI berfungsi kembali sudah ada pertambahan data dari situs INPUT DATA. Sehingga, tentu saja tampilan yang ada jadi berubah. Bukan karena kena hack atau kecurangan IT,” tandasnya.

Tuduhan “Kecurangan IT” memang sempat diposting oleh akun atas nama Tara Palasara yang viral dibagikan hingga lebih dari 2500 kali. Dikatakan sebagai hasutan karena postingan tersebut di akhir dengan kata-kata, “Masih layakkah hasil perhitungan KPU kita percaya ?!”

[nextpage title=”3. Membela KPU Sembari Menebar Fitnah”]

3. Membela KPU Sembari Menebar Fitnah

Ada pula postingan salah satu akun yang mengunggah beberapa gambar status netizen yang memposting seolah ada perang siber antara muslim cyber melawan cyber ahoker. Yang paling viral misalnya postingan Perdana Akhmad Lakoni yang telah lebih dari 10 ribu kali dibagikan.

“Mujahid Cyber Muslim vs Hackers Cyber Ahoxers. Sisi lain pasukan Mujahid Cyber Muslim yang berusaha pertahankan situs KPU https://kpu.go.id/ dari serangan pasukan Hackers Cyber Ahokes yang ingin ubah data KPU di Pilkada Jakarta. Berkali situs KPU down dan bangkit lagi datanya juga berubah ubah sekarang. KPU mengakui bahwa Situs mereka diserang Hackers,” tulisnya diikuti dengan mencantumkan tautan dari metro.sindonews tentang penjelasan KPU soal serangan hacker.

Menanggapai postingan tersebut dan berbagai postingan sejenis, Harry Sufehmi mengatakan itu sebagai fitnah.

“Modus baru memfitnah, pura-pura membela KPU – padahal menebar fitnah; yaitu data KPU diubah oleh Ahokers.”

FAKTA : (1) KPU memang selalu jadi sasaran hacker setiap acaranya. (2) Sejauh ini tidak ada hacker ataupun Ahoker yang merusak data KPU. (3) Data situs KPU terus berubah karena walaupun kadang SITUS PUBLIKASI down,  SITUS INPUT DATA tetap terus berjalan menerima data. Sehingga, ketika up lagi, maka angkanya sudah berubah lagi. Bukan karena di hack oleh Ahoker.

Baca juga:  Ini 5 Penjelasan tentang Pemimpin Non-Muslim dalam Konteks Indonesia

(4) Yang diakui secara hukum adalah perhitungan MANUAL, bukan angka di situs KPU. (5) Situs KPU adalah sarana untuk menampilkan informasi kepada publik. Situs KPU #BUKAN alat hitung suara yang sah secara hukum.”

[nextpage title=”4. IP Address dengan Nomor 112.215.71.242, Campur Tangan Hacker Istana?”]

4. IP Address dengan Nomor 112.215.71.242, Campur Tangan Hacker Istana?

Penjelasan poin ini adalah di luar klarifikasi dari Harry Sufehmi. Sebab semua orang bisa mencari tahu kebohongan isu ini. Ada hoax yang memfitnah pemerintah, menuduh adanya hacker istana yang ikut menyerang situ KPU dan kemungkinan mengubah data. Tudingan ini juga sempat ditulis penyebar isu pada poin pertama diatas.

“Booommm…. ENG IENGG….” tulis Yanuar Johan mengawali postingannya di Grup Rakyat Bersuara. “Ternyata oh ternyata istana juga pelakunya hahahah. Usut cuy sampai tuntas, hitungan harus manual data dari tps yg di hitung secara manual bukan secara yg sudah di rangkum, data yg di rangkum itu bisa di manupulasi contohnya seperti ( tps 36 ) Ahoax cuma 61 suara malah jadi 261 suara ( itu 200 nyolong dari istana ). Hahahhaa hancurkan hacker istana cuyy…”

Dalam postingannya Yanuar mengunggah gambar yang salah satunya dari status netizen bernama Edho Tanjung yang mengatakan bahwa IP dengan nomor 112.215.71.242 adalah hacker dari kawasan istana kepresidenan sembari menyertakan gambar peta hasil pencarian lokasi IP.

Faktanya, nomor IP 112.215.71.242 tidak berlokasi di istana presiden dan justru milik swasta. Anda pun bisa mendeteksi sendiri dengan klik tautan geoipinfo.org ini. Pilihlah interactive map. Hasilnya Anda dapat lihat sendiri bahwa komputer dengan nomor IP 112.215.71.242 berlokasi di Jl. Swadaya II No.25, Manggarai, Tebet, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12850. Alih-alih milik orang istana, IP tersebut justru terdaftar milik PT Excelcomindo Pratama.

Itulah beberapa isu dan klarifikasi seputar kabar peretasan situs remi KPU. Lebih berhati-hati menerima informai tentang hal yang belum dikuasai adalah lebih baik ketimbang tertipu provokasi, hasutan dan fitnahan. Waspada, setelah #mendadaksantri, sekarang ada #mendadak hacker. Semoga bermanfaat.

 

Komentar

Nasrudin
Previous post Ceramah K.H. Zainuddin M.Z. di Hadapan Pengurus NU soal Penyakit Bangsa Ini
Next post Mustolih Siradj Pahlawan Konsumen yang Ingin Tahu Kemana Donasi Alfamart Disalurkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *