Gus Mus Berkisah tentang Kiai Hamid Pasuruan

5. Kiai Hamid; Ulama Paripurna yang Mengamalkan Ilmunya

Banyak orang alim yang tidak mengajarkan secara tekun ilmunya dan tidak sedikit yang bahkan tidak mengamalkan ilmunya. Lebih banyak lagi orang yang tidak secara maksimal mengajarkan dan atau mengamalkan ilmunya. Sebagai contoh, banyak kiai yang menguasai ilmu bahasa dan sastra (Nahwu, sharaf, Balaghah, Arudl, dsb.), namun jarang di antara mereka yang mengamalkannya bagi memproduksi karya sastra.

Kebanyakan mereka yang memiliki ilmu bahasa dan sastra itu menggunakannya ‘hanya’ untuk membaca kitab dan mengapresiasi, menghayati keindahan, kitab suci Al-Quran. Tentu tak banyak yang mengetahui bahwa salah satu peninggalan Kiai Hamid adalah naskah lengkap berupa antologi puisi.

Baca juga:  Ini 5 Keuntungan Menikah dengan Calon Guru Madrasah Ibtidaiyah

Banyak kiai yang karena keamanahannya mendidik santri, sering melupakan anak-anak mereka sendiri. Kiai Hamid, bukan saja mendidik santri dan masyarakat, tapi juga sekaligus keluarganya sendiri.

Dari sosok yang sudah jadi Kiai Hamid, kita bisa menduga bahwa penghayatan dan pengamalan ilmu itu sudah beliau latih sejak masih nyantri. Demikian pula pergaulan luas yang membangun pribadi beliau, sudah beliau jalani sejak muda, sehingga beliau menjadi manusia utuh yang menghargai manusia sebagai manusia; bukan karena atribut tempelannya. Dan kesemuanya itu melahirkan kearifan yang dewasa ini sangat sulit dijumpai di kalangan tokoh-tokoh yang alim.

Redaksi
Latest posts by Redaksi (see all)
Baca juga:  Hujatan terhadap Kiai Said Aqil Siradj, dari Pemimpin Non-Muslim hingga Yayasan Peduli Pesantren