Kategori
Intisari

Gus Mus Berkisah tentang Kiai Hamid Pasuruan

2. Suwuk Kiai Hamid sebagai Doa

Ayah Gus Mus berkata kepada Kiai Hamid, “Ini anak saya, Mustofa, Sampeyan suwuk!” Dan tanpa terduga-duga, tiba-tiba, kiai karismatik itu mencengkeram dada Gus Mus sambil mengulang-ulang dengan suara lembut: “Waladush-shalih, shalih! Waladush-shalih, shalih!”

Telinga Gus Mus menangkap ucapan itu bukan sebagai suwuk, tapi cambuk yang terus terngiang; persis seperti tulisan ayah Gus Mus sendiri di notes Gus Mus: “Liyakun waladul asadi syiblan la hirratan.” (“Anak singa seharusnya singa, bukan kucing!”). Apalagi dalam beberapa kali petemuan selanjutnya, cengkeraman pada dada dan ucapan lembut itu selalu beliau ulang-ulang. Tapi dalam hati, diam-diam Gus Mus selalu berharap cambuk itu benar-benar mengandung suwuk, doa restu.

Baca juga:  Ini 5 Fakta yang Mengungkap Kebenaran Lengan Robot Bli Tawan, The Iron Man From Bali
Redaksi

Oleh Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.