Ketika Pasar Senen Jadi Tempat Nongkrong Para Pendiri Bangsa, Ini Sejarahnya

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Pasar Senen, siapa yang tak tahu? Jika seseorang ber-KTP DKI Jakarta, sungguh amat lancang kalau tak tahu Pasar Senen ini. Terletak di daerah yang bernama sama, Pasar Senen tumbuh bersama para warga Jakarta dan menjadi icon tersendiri bagi Jakarta.

Sayangnya, tempat itu kini sedang terkena malang. Kebakaran besar sedang melanda tempat itu. Semoga para korban kebakaran diberi ketabahan, dan cepat di selesaikan urusan mereka.

Tapi, kebakaran bukan menjadi topik utama pada tulisan kali ini. Bukan sama sekali. Penulis sendiri lebih tertarik kepada kisah “kecil” yang melekat pada Pasar Senen.

Apalagi, lekatnya Pasar Senen dengan Jakarta yang mana bagi penulis sendiri belum afdal jika belum ke sana jika mengunjungi Ibukota. Sekali lagi, saking iconic Pasar Senen sendiri.

Pasar yang dibangun pada 30 Agustus 1735 itu punya sejarah panjang. Awalnya, Pasar itu memang hanya dibuka khusus hari Senin, dan didominasi oleh para pedagang dari etnis Tionghoa. Namun, pada 1766 karena banyaknya pengunjung pasar ini akhirnya dibuka di hari-hari lain.

Baca juga:  Jangan Senang Dipanggil Ustad Bila Tak Cukup Ilmu, karena Bisa Menipu

Menurut Alwi Shahab, sejarawan Jakarta, “Pasar Senen dibangun bersamaan dengan Pasar Tanah Abang. Harinya sama. Pasar Senen dibangun seorang tuan tanah yang juga arsitek, Yustinus Vinck. Dulu lahan itu milik anggota Dewan Hindia bernama Corrnelis Chastelein,” ujar beliau dalam sebuah artikel di Republika.co.id.

Menariknya, sekitar tahun 1930-an Pasar Senen juga sering menjadi tempat perkumpulan para founding father Indonesia dahulu, khususnya para aktivis bawah tanah dari Stovia. Para intelektual muda macam Adam Malik, Soekarno, dan juga Moch. Hatta berkumpul di sini. Setelah zaman penjajahan Jepang pun, para seniman juga sering berkumpul di Pasar Senen.

Amat menarik bukan, kisah “kecil” yang tadi diceritakan? Bahkan, penulis sendiri baru tahu akhir-akhir ini. Dan, ternyata amat menarik kisah Pasar Senen selama ini. Luar biasa.

Baca juga:  Dalam Pengasingan, Soekarno Tak Pernah Berhenti Berjuang dan Melawan

Jadi, berbanggalah menjadi warga Jakarta! Apalagi, jika menjadi warga Senen. Tugas kita hari ini adalah jangan sampai mencemarkan peninggalan, dan bisa kita mulai dari hal tekecil. Dengan tidak berbuat vandalisme itu sudah cukup kok. Semoga Pasar Senen dan kisahnya tak menjadi sekedar kisah belaka. Mari kita doakan, dan lestarikan!

Komentar

Nasrullah Alif Suherman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *