Ketika Maaher At-Thuwailibi Kebongkar Memplagiat Puisi Syarif Hade

  •  
  •  
  •  
  •  

Hits: 2750

DatDut.Com –  Setelah terbongkarnya tindakan plagiat yang dilakukan oleh Soni Eranata alias Maaher At-Thuwailibi, dia memblokir semua akun yang ingin mengonfirmasi kebenaran tindakan plagiarisme yang dilakukannya. Ia seperti ketakutan boroknya diketahui oleh para penggemarnya, yang silau dengan gamis dan serban yang dikenakannya.

Ia rupanya tak ingin kehilangan penggemar yang sudah susah-susah dikumpulkannya dengan sensasi-sensasi yang dibuatnya, padahal sebagian dari sensasi itu adalah karya orang lain. Inilah sisi kepengecutan dan kepicikannya. Ia tak mau bertanggung jawab dan tak gentle mengakui kesalahannya.

Satu lagi, puisi yang diakui sebagai puisinya tetap tak dihapus dan tak diubah sedikit pun, baik judul maupun tambahan 1 bait, yang dikomplain oleh penulisnya, sastrawan Syarif Hade. Padahal sudah jelas-jelas itu bukan puisinya. Anehnya, ia bahkan tak mau meminta maaf pada orang yang dilanggar haknya. Dan, dia tak malu mengumpat dengan kata-kata kasar pada orang yang dicuri karyanya.

Mungkin benar, pendapat Dr. Arya Bagus Aji Shofin terkait keengganan Sony Bunglon untuk minta maaf. “Dia sangat menjaga baju kesuciannya (ishmah). Tidak akan dibiarkan siapa pun menodainya. Karena, hal itu akan menjatuhkan personal branding-nya di hadapan jamaahnya. Ini adalah modal utamanya. Oleh sebab itu, dia tidak akan ngaku, atau ngrasa salah lalu minta maaf,” kata Dr. Shofin, doktor alumni salah satu universitas Islam bergengsi di Maroko.

Inilah yang membuat netizen marah, geram, dan mengutuk keras perbuatan dan umpatan kasar Sony Bunglon. Diprakarsai oleh Indra Setyo Rahadhi, Mahasiswa Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia, Program Studi Kajian Timur-Tengah dan Islam, Jurusan Politik dan Hubungan Internasional di Timur-Tengah, netizen mengungkapkan kemarahan dan kekecewaannya pada Sony Bunglon yang melabeli diri “ustaz”, tapi perbuatan dan perkataannya amat tak terpuji.

Baca juga:  Para Korban Hoax dalam Sejarah dan Sikap Kita

“Saya bukan orang yang terlalu religius, akan tetapi ketika ‘jubah agama’ dipakai oleh para plagiator untuk menarik simpati dari orang-orang yang juga buta ilmu dan buta akhlak dengan tidak tahu malu untuk meminta maaf atas tindakan plagiatnya yang keterlaluan, maka saya pun khawatir Islam sebagai agama yang mulia ini pelan-pelan dirusak dari dalam!” tulis Indra di laman Facebooknya.

“Atas nama ilmu pengetahuan, saya mengutuk tindakan plagiarisme keterlaluan yang dilakukan siapa pun tanpa meminta izin penulis aslinya dan tanpa mencantumkan sumbernya!” lanjut Indra.

Kutukan keras Indra ini pun diamini oleh netizen lainnya. Aditya Harris Nababan menuliskan, “Keterlaluan banget itu namanya! Gak bisa ditolerir lagi kalo udah plagiat tapi ngutak-ngatik isinya sekalian!”

Andini Puspita Sari juga menulis, “Orang seperti itu nggak layak disebut ustadz dan memakai embel-embel agama supaya kelihatan alim. Dia yang sebenarnya menistakan agama.”

Tanggapan lain datang dari Annisa Sabrina Agustina. “Semoga kita semua dihindarkan dari kebiasaan tak terpuji dan perbuatan tercela seperti itu. Amin,” tulisnya.

Intan Tri Vannie Agustin juga menyayangan sikap sombong dan angkuh Si Sony. “Sony Bunglon itu tidak punya hati nurani ya? Sudah salah kok tidak mau minta maaf? Masya’ Allah!” Ungkapan senada juga disampaikan oleh Kemal Hassan Assegaf, yang menulis, “Turut berduka cita atas wafatnya rasa hormat kepada ‘ilmu dan ‘alim.”

Padahal, yang dituntut sastrawan Syarif Hade sederhana. Ia hanya minta Sony Bunglon minta maaf untuk menunjukkan kebesaran hatinya dan mengakui bahwa itu bukan karyanya. Ia juga tak punya hak untuk mengubah judul dan menambahkan 1 bait di tengah puisi, tanpa seizin penulisnya.

Baca juga:  Jangan Bully Orang Gemuk! Di Medsos Beredar Jawaban Menohok dari Mereka yang Kelebihan Berat Badan

Ini pula yang dikemukakan netizan Zend Manual. “Yang jiplak, tinggal minta maaf.” Hal senada dikemukakan oleh Alfiyah Via. “Bagaimanapin plagiat itu adalah tindakan tidak terpuji dan sangat tercela. Walau bagaimanapun sebaiknya meminta maaf dengan tulus kepada penulisnya karena telah mengganti judul puisi tanpa izin,” begitu tulisnya.

“Walau mengatasnamakan kebaikan, cara yang diambil juga harus halalan thayyiban. Hasil tidak akan memuaskan dan tak kan ada artinya tanpa diawali dengan proses yang baik dan bermutu,” imbuh Alifiyah Via.

Sikap netizen yang keras ini menunjukkan bahwa tepat dan tak salah julukan teman-teman salafi pada Soni Eranata sebagai “bunglon”, “hubbuzhzhuhur”, “pendusta”, “musykilah”, dan sebutan negatif lainnya. Karena gara-gara orang seperti ini, tidak hanya kaum salafi tapi umat Islam secara umum juga kena getahnya.

Umat Islam dirusak citranya oleh perbuatan dan ucapan orang-orang model Sony Bunglon, yang kasar, tak beradab, dan tak mencerminkan akhak islami. Semoga apa yang dilakukannya tak ditiru oleh generasi Islam masa kini dan masa mendatang. Amin.

Komentar

Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *