K.H. Zayadi Muhajir, Ulama Besar Betawi yang Makamnya Banyak Diziarahi

  •  
  •  
  •  
  •  

Dibaca: 1605

DatDut.Com – Sebelum mondok di Bogor, sekitar 7 tahun yang lalu, Saya selalu diajak berziarah oleh ayah saya ke makam para alim-ulama di sekitar Jakarta, khususnya di daerah dekat rumah. O iya, saya tinggal di pinggiran kota Jakarta timur, tepatnya di kelurahan bernama Duren Sawit. Sebuah kelurahan kecil yang masih kental nuansa Betawinya.

Kembali lagi soal ziarah, yang mana ada satu makam seorang kiai. Beliau dikenal dengan sebutan Buya Tanah 80 (karena memang nama daerah itu tanah 80) yang memiliki nama asli Kiai Zayadi Muhajir. Saya selalu menyempatkan diri dengan ayah saya, untuk sekadar nyekar, atau berziarah dan membaca tahlil di makam beliau.

Jasa beliau amat banyak kepada masyarakat sekitar, dan mungkin tak terhitung oleh jari. Banyak sekali perguruan Islam yang beliau bangun, mulai dari pesantren, madrasah, hingga kampus Islam. Semuanya bernama Az-Ziyadah.

Beliau lahir sekitar tahun 1918, tanggal 23 Desember tepatnya. Ayah beliau bernama H. Muhajir bin Ahmad Gojek bin Dato Moh. Soleh, dan dari ibu bernama Umi Anisah. Dari garis ayahnya, K.H. Zayadi adalah cucu ulama Banten, K.H. Muhammad Sholeh yang dikenal sebagai “Mu’allim Ale”. Dia hijrah dan menetap di Kampung 80. Ibunya wanita asli Betawi.

Baca juga:  Gus Maksum, Kiai Sakti Mandraguna dari Kediri

Semasa beliau hidup, sekitar tahun 1972 saat bangunan madrasah dan juga pesantren sudah permanen semuanya, santri beliau hampir berjumlah 7000-an. Itulah saat masa jayanya Az-Ziyadah masih dipimpin beliau saat hidup.

Yang mana, santrinya pun berasal dari penjuru Nusantara. Lebih puncaknya, bahkan pada tahun 1990, beliau mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam. Yang amat tersohor di sekitar, dan amat tersohor pada masanya.

Di antara guru beliau, banyak dari jajaran ulama Betawi tersohor, yang hingga kini makamnya juga sering diziarahi oleh umat Muslim di sekitar Jabodetabek. Di antaranya, ada Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi, atau yang terkenal dengan julukan Habib Ali Kwitang. Ada juga guru beliau yang bernama Habib Ali bin Husin Alatas, yang terkenal dengan nama Habib Ali Bungur.

Pada hari Ahad 27 Maret 1994, Kiai yang dikenal luas dengan kemuliaan akhlaknya ini wafat dalam usia 76 tahun di Musholla Uswatun Hasanah di kaki Gunung Jati, Cirebon, ketika tengah mengikuti ziarah Walisongo yang diadakan secara rutin sejak tahun 1974.

Baca juga:  Siapakah Bahrun Naim, Otak Intelektual Teror Bom Sarinah? Ini 5 Penjelasannya

Lalu, jenazah beliau dibawa kembali pulang ke Tanah 80 dan disalatkan. Pada pukul 14.00 keesokan harinya, jenazahnya dibawa ke tempat peristirahatannya yang terakhir di sebelah barat masjid tersebut. Di antara pelayat adalah Gubernur DKI Jakarta pada saat itu, Surjadi Soedirja. K.H. Idham Khalid, K.H. M. Syafi’i Hadzami, Tuty Alawiyah, dan beberapa tokoh ulama, habaib, dan masyarakat luas.

Hingga kini, makam beliau masih terpelihara, dan selalu diziarahi. Madrasah hingga kampus yang beliau ditinggalkan masih terpelihara. Walaupun, tak seramai saat beliau masih hidup. Semoga masih ada ulama lain dan umat muslim yang mengikuti jejak beliau. Semoga.

.

Komentar

Nasrullah Alif Suherman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *