K.H. Sholeh Darat Semarang; Mahaguru K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Ahmad Dahlan

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Nun di pinggiran kota Semarang terdengar sayup-sayup lantunan ayat suci, dan pengajian kitab di sebuah tempat yang cukup sederhana. Meski bergelut dengan kesehajaan pesantren ini yang kemudian menjadi saksi dua tokoh besar pembaharu Islam di Nusantara.

Dua sosok yang kelak akan mendirikan dua organisasi besar agama tauhid ini di tanah air: NU dan Muhammadiyyah. Inilah Pondok Pesantren yang didirikan dan diasuh oleh ulama kharismatik, K.H. Sholeh Darat.

Setiap hari Mbah Sholeh mengajar para santrinya ilmu dasar keislaman. Dalam bidang tasawuf, Mbah Sholeh mengajarkan Kitab al-Hikam karya Ibnu Athaillah Al-Sakandari, Kitab al-Munjiyah karya K.H. Sholeh Darat sendiri; dalam bidang fiqih, beliau mengajarkan Kitab Lathaif al-Taharah; serta beragam ilmu yang lain.

Di pesantren ini, dua orang santri muda yang kelak akan turut berperan menumbuhkembangkan geliat Islam di Indonesia, juga sedang bergiat mengaji. Keduanya sama mewarisi darah Raden Paku atau yang dikenal sebagai Sunan Giri, seorang wali besar dari Gresik.

Santri pertama berumur 16 tahun (lahir 1868 M), bernama Mohammad Darwisy. Ia dilahirkan dari kedua orangtua yang dikenal alim, K.H. Abu Bakar (Imam Khatib Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan Nyai Abu Bakar (puteri H. Ibrahim, Hoofd Penghulu Yogyakarta).

Kakeknya adalah K.H. Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadha bin Kyai Ilyas bin Demang Jurung Juru Kapindo bin Demang Jurung Juru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Jatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin Maulana Ishaq bin Syekh Jumadil Kubro, yang dalam sumber lain dari buku karya Yunus Salam terbitan 1986 dikatakan bahwa Syekh Maulana Ishaq adalah putra Syekh Maulana Malik Ibrahim, salah satu Wali Songo yang dimakamkan di Desa Gapura, Gresik.

Baca juga:  Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub Berwasiat untuk Tidak Gunakan 5 Hadis Populer tapi Bermasalah Ini

Santri kedua berusia 15 tahun, Muhammad Hasyim. Ayahnya adalah kyai kenamaan, K.H. Asy’ari, Pengasuh Pondok Pesantren Keras, Jombang Selatan, bin Abu Sarwan bin Abdul Wahid bin Abdul Halim bin Abdurrahman (Pangeran Samhud Bagda) bin Abdul Halim (Pangeran Benawa) bin Abdurrahman (Jaka Tingkir) bin Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri).

Dari garis ibu, Halimah, Muhammad Hasyim memiliki kakek bernama Kiyai Usman (pimpinan Pesantren Gedang). Buyutnya, Kiyai Sihah, juga pendiri pondok pesantren Tambakberas. Jika dirunut ke atas, Muhammad Hasyim adalah turunan ke delapan Raja Brawijaya VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang kemudian menjadi Raja Pajang setelah keruntuhan Kerajaan Demak.

Muhammad Hasyim, lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur, pada Selasa 24 Dzulqo’dah 1287 H/14 Februari 1871 M. Masa dalam kandungan dan kelahirannya sudah menampakkan keistimewaan isyarat yang menunjukkan kebesarannya kelak.

Satu di antaranya, ketika dalam kandungan, Nyai Halimah bermimpi melihat bulan purnama yang jatuh ke dalam kandungannya. Begitu pun ketika melahirkan, Nyai Halimah tidak merasakan sakit yang dialami kaum perempuan saat melahirkan.

Setelah sekitar sembilan tahun mukim dan belajar di Pesantren Keras sampai berusia 15 tahun), Muhammad Hasyim mulai melakukan pengembaraannya mencari ilmu ke pondok-pondok pesantren yang masyhur di tanah Jawa, khususnya Jawa Timur.

Di antaranya adalah Pondok Pesantren Wonorejo di Jombang, Wonokoyo di Probolinggo, Tringgilis di Surabaya, dan Langitan di Tuban, kemudian Bangkalan, Madura, di bawah bimbingan Syaikhona Muhammad Khalil bin Abdul Latif (Syaikhona Khalil Bangkalan).

Di Bangkalan inilah, Mohammad Darwisy bertemu pertama kali dengan Muhammad Hasyim. Dalam jangka waktu yang cukup lama mereka berteman dan belajar, maka setelah tuntas belajar pada Kyai Khalil, keduanya masing-masing dibekali kitab sebagai bekal mengaji lanjutan kepada kawan Kyai Kholil di Semarang, yakni Kyai Sholeh Darat.

Baca juga:  Ini 5 Perempuan Berpengaruh dalam Hidup Nabi

Kala itu, Kyai Sholeh Darat adalah ulama terkemuka, ahli nahwu, ahli tafsir, dan ahli falak. Keluarga besar RA Kartini yang dikenal dengan pejuang emansipasi wanita di Indonesia juga mengaji pada beliau.

Bahkan atas masukan Kartini-lah, Kyai Sholeh Darat menerjemahkan al-Quran ke dalam bahasa Jawa agar bisa dipahami banyak orang di tanah Jawa. Buku Habislah Gelap Terbitlah Terang yang dikarang oleh tokoh kelahiran Mayong Jepara ini berasal dari tafsir tersebut diambil dari potongan ayat “Minaddzulamati ilan nuur”.

Selama nyantri di bawah naungan Kyai Sholeh Darat yang dimakamkan di pemakaman umum Bergota, Kota Semarang (dalam sumber lain di dekat masjid Desa Darat) sepanjang dua tahun penuh, Mohammad Darwis memanggil Hasyim—teman sekamarnya, dengan sebutan Adi Hasyim. Sementara Muhammad Hasyim menyapa Mohammad Darwisy dengan sebutan Mas Darwisy.

Ketekunan dua santri yang cerdas ini kemudian berbuah pengutusan mereka oleh Mba Sholeh untuk melanjutkan studi ke Tanah Suci Mekah.

 

Komentar

Abid Muaffan
Previous post Buya Hamka; Ulama, Ilmuwan, Sastrawan, Politikus, atau Penulis? Ini Penilaian A Suryana Sudrajat
Next post Viral! Ketika Prof. K.H. Didin Hafidhuddin Tidak Enak Badan, Ini Penuturan Putrinya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *