Jangan Monopoli Sifat Salat Nabi! Riwayatnya Tidak Cuma Satu

  •  
  •  
  •  
  •  

Dibaca: 2310

DatDut.Com – Salat adalah syariat yang paling utama dalam ajaran Islam yang tidak boleh ditinggalkan selama hayat masih di kandung badan.

Karenanya, dalam pelaksanaannya pun tidak boleh asal-asalan, harus memiliki dasar yang kuat dan benar yang bersumber langsung dari Nabi Muhammad saw.

Setiap tuntunan yang disampaikan oleh Nabi, pada hakikatnya selalu mendapat petunjuk dari Allah swt.

Ketika Nabi menerangkan tata cara salat, Nabi mendapat petunjuk dari Allah untuk menyesuaikan dengan kemampuan ummatnya.

Inilah yang menjadi sebab berbedanya sikap Nabi dalam mencontohkan ibadah salat ini.

Gerakan ketika hendak sujud, misalnya. Mana yang didahulukan menyentuh lantai, lutut atau telapak tangan?

Ditemukan dua tuntunan yang berbeda dari Nabi mengenai hal ini. Ada yang mengatakan bahwa Nabi memulainya dengan lutut, namun ada juga yang mengatakan Nabi memulainya dengan telapak tangan.

Baca juga:  Allah Bersemayam di Langit dan Arsy! Yuk Cari Tahu dari Hadis Mengenai Hal Ini

Jika ditelusuri lebih dalam lagi, maka akan kita dapati rawi yang menyampaikan bahwa Nabi memulainya dengan telapak tangan, adalah sahabat yang bernama Wail bin Hujur.

Salah satu sahabat yang memeluk Islam di awal masa kenabian sehingga banyak melalui peristiwa bersama Nabi.

Adapun hadis yang menyatakan bahwa Nabi memulainya dengan lutut, disampaikan oleh Abu Hurairah, salah satu sahabat yang memeluk Islam 3 tahun sebelum Nabi wafat atau pada saat Nabi sudah sepuh.

Sehingga bisa ditarik benang merahnya, Nabi mendahulukan tangannya daripada lututnya ketika beliau masih muda dan kuat yang kemudian dilihat lalu diriwayatkan oleh Wail bin Hujr.

Sedangkan ketika Nabi sudah memasuki usia renta yang mana problemnya biasanya di lutut, maka Nabi mendahulukan tangannya sebagai tumpuan ketika hendak sujud daripada lututnya.

Hal inilah yang didapati oleh Abu Hurairah ketika beliau masuk Islam lalu meriwayatkannya.

Baca juga:  Haji Backpacker, Apa Hukumnya?

Kesimpulannya, barangsiapa yang memiliki masalah dengan lututnya, maka tidak mengapa ia mendahulukan tangannya untuk dijadikan tumpuan.

Jika masih kuat dan lututnya masih sehat, maka lebih baik mendahulukan lutut seperti yang dicontohkan Nabi saat masih kuat.

Jadi, perbedaan gerakan salat mestinya mengajarkan kepada kita untuk lebih menghargai mereka yang berbeda selama masih ada dalil yang diperpegangi, bukan malah menganggap diri paling benar lalu menyalahkan yang lain yang berbeda dengan diri kita.

Komentar

Muhammad Salahudin Al-Ayyubi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *