Jangan Gunakan Ujaran Ini Bila Beda Pendapat dengan Sesama Muslim

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Perbedaan adalah hal yang pasti terjadi dan lumrah adanya. Baik beda pendapat dalam hal pemahaman terhadap teks keagamaan maupun beda pendapat soal dukungan politik. Hanya saja cara orang menyikapi perbedaan secara kurang tepat akan menimbulkan perpecahan. Jangankan beda keyakinan dan aliran atau mazhab, beda pilihan politik pun saat ini telah mengkotak-kotakkan kaum muslimin.

Terkait beda pendapat, saat berdiskusi, debat atau cekcok sekalipun, ada ungkapan-ungkapan yang sebaiknya tidak dilontarkan terhadap sesama muslim. Selain hal itu menyakitkan, terkadang merupakan jalan setan masuk ke hati. Merasa diri paling suci, atau lebih suci, ataupun menganggap diri paling benar, sedangkan orang lain salah karena beda memahami landasan atau dalil adalah sebagian ciri sifat ujub yang dibisikkan setan.

Ujarannya terkesan religius, tapi sebenarnya kasar dan ekstrim. Itu jika dilihat dari sisi makna yang tersiratnya. Sebagian merupakan kutipan ayat kitab suci, ada juga yang ungkapan dengan gaya bahasa bermakna mendalam.

Sejalan dengan ujaran itu ada yang lebih dulu memvonis orang lain yang beda pendangan meski muslim dan menjalankan shalat sebagai orang munafik ataupun fasik. Dengan alasan itu lantas merasa berhak melontarkan ujaran-ujaran tak pantas.

Nah, apa saja ujaran sok religius yang tak selayaknya dilontarkan kepada saudara yang muslim? Berikut ulasan singkatnya:

1. Lakum Dinukum Waliyadin

Ungkapan ini tak lain menyitir ayat terkahir surat al-Kafirun. “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku,” begitulah maknanya. Melihat asbabu nuzul surat ini maka ungkapan itu sepantasnya adalah prinsip berakidah terhadap orang yang berbeda agama. Bukan disampaikan kepada orang yang sama-sama muslim hanya karena beda pendapat atau beda pandangan.

Baca juga:  Ajak Orang di Sekitar Anda untuk Tobat dan Keluar dari Khilafah ala HT/HTI

Jika itu dilontarkan kepada sesama muslim, maka makna tersiratnya adalah sama dengan mengatakan orang lain kafir, sudah beda agama.

2. Lanaa A’maluna wa Lakum A’malukum

Ungkapan ini juga menyitir dari ayat Alquran. Ada dua tempat dalam Alquran yang memuat ungkapan diatas. Pertama surat al-Qashash (28:55): “dan apabila mereka mendengar Perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi Kami amal-amal Kami dan bagimu amal-amalmu, Kesejahteraan atas dirimu, Kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.

Sekilas memang ungkapan dalam ayat ini lebih ringan ketimbang ungkapan pertama di atas. Namun berdasarkan tafsirnya, misalnya dalam Tafsir al-Jalalain ucapan itu digunakan untuk menjawab makian orang-orang musyrik.

Tempat kedua adalah dalam surat asy-Syura(42:15): “…bagi Kami amal-amal Kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara Kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita).”

Jadi sebaiknya tidak menggunakan ayat Alquran sembarangan. Karena kedua ayat tersebut sama artinya dengan menganggap saudara seagama sebagai kafir.

3. Anda Muslim?

Ungkapan ini sangat marak saat ini. Terutama karena perbedaan pandangan terkait pilkada DKI. Tak hanya itu, ungkapan ini juga sering terlontar dari kalangan berpaham radikal. Setiap yang dianggap beda pandangan dengannya membantah argumen maupun pandangan dari kelompoknya, tak segan terlontar ungkapan Anda muslim?

Seolah-olah yang disebut muslim hanyalah orang yang satu pandangan, satu aliran, dan satu kelompok dengannya. Ungkapan ini pun tak beda makna tersiratnya dari 2 ungkapan sebelumnya. Kasarnya sama dengan kalimat, “Kamu kafir, ya?”

Dari Abu Dzar Ra. beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kata fasiq, dan menuduhnya dengan kata kafir, kecuali tuduhan itu akan kembali kepada si penuduh jika orang yang tertuduh tidak seperti yang dituduhkan.” [HR Bukhari]

Baca juga:  Ini 5 Klarifikasi UIN Sunan Kalijaga terkait Keterlibatan Mahasiswanya dalam Acara Natal

Senada dengan ungkapan tersebut, tuduhan fasik dan munafik tak layak dilontarkan terhadap sesama Muslim. Karena pada hakikatnya kefasikan dan kenifakan seseorang adalah ranah hati dan hanya Allah Swt. yang berhak menghukumi.

Pesan Imam al-Ghazali dalam Bidayah al-Hidayah hal.72, artinya:

Yang keenam, melaknat. Maka takutlah untuk melaknat sesuatu dari makhluk Allah baik hewan, makanan ataupun diri seseorang dengan langsung tertuju pada dirinya. Jangan memastikan kesyirikan, kekufuran atau nifaknya seorang ahli kiblat (muslim) berdasarkan penyaksianmu. Karena yang mengetahui isi hati hanya Allah Swt. Maka janganlah masuk dalam ranah antara hamba dan Allah. Ketahuilah, engkau di akhirat nanti tak akan ditanya, ‘Kenapa kamu tidak melaknat fulan? Kenapa kamu mendiamkannya?’ Bahkan, jika kau tak melaknat Iblis seumur hidupmu sekalipun dan tak menyebut-nyebutnya, maka engkau tak akan dituntut di hari kiamat. Namun jika engkau melaknat satu dari makhluk Allah, maka engkau akan dituntut.

Demikian, Wallahu a’lam bi ash-shawaab…

Komentar

Nasrudin
Previous post Pemahaman Salah tentang Asy’ariyah yang Meracuni Pikiran Orang Awam
Next post Muhammadiyah: Jokowi harus Buktikan Komitmen Menegakkan Keadilan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *