Inilah 5 Fenomena Tahunan yang Selalu Hangat Diperdebatkan Umat Islam Indonesia

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Sebagai negara yang memberi kebebasan beragama dan berkeyakinan, Indonesia selalu ramai dengan pergolakan antaragama, golongan, maupun mazhab. Karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, tentu yang menghangatkan dan memanaskan suasana adalah silang pendapat antar aliran dalam Islam sendiri.

Apalagi semenjak gencarnya usaha penyebaran faham Wahabi, perdebatan kian meruncing dalam beberapa hal. Itu dikarenakan cara-cara sebagian mereka yang keras dan cenderung merasa paling benar sendiri.

Lima hal berikut ini merupakan perbedaan dalam Islam yang selalu kembali terangkat ke permukaan setiap tahunnya. Karena 5 hal tersebut berkaitan dengan agenda hari-hari besar Islam. Berikut ulasannya:

1. Maulid

Peringatan Maulid Nabi telah berulang kali dibahas. Mayoritas Ahli Sunah sepakat tentang kebolehan memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw. Para ulama menggolongkannya sebagai bid’ah hasanah atau hal baru yang baik.

Sebagaimana telah disinggung bahwa perayaan Maulid atau festival Maulid diadakan pertama kali oleh Raja Muzhafar, Sultan di masa panglima Shalahuddin al-Ayubi (Baca: Agar Tidak Gunakan Hadis Palsu terkait Maulid Nabi, Baca 5 Uraian Ini).

Namun, kelompok yang getol mengatakan perayaan maulid adalah haram terus berupaya menyebarkan pemahamannya. Hal ini mengundang pembelaan dan bantahan dari pihak Muslim yang merayakan Maulid.

Meskipun dalil maupun argumen yang disampaikan Muslim pro-Maulid sudah sangat gamblang, namun itu tak membuat mereka surut membidahkannya. Ya itu tadi, karena merasa paling benar. Setiap menjelang Rabiul Awal, artikel-artikel lawas akan kembali diakses. Debat-debat kembali menyeruak (Baca: Masih Anggap Maulid Nabi Bidah? Baca 5 Argumen Ini)

2. Ucapan Selamat Natal

Karena tahun ini peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw. nyaris bersamaan dengan Natal, saya letakkan poin ini di nomor kedua (Baca: 5 Persamaan Maulid Nabi dan Natal Tahun Ini).

Ucapan Selamat Natal yang dilakukan Muslim kepada Nasrani selalu menimbulkan perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat boleh dan ada yang mengatakan haram.

Yang berpendapat haram mengatakan bahwa dengan ucapan Selamat Natal sama saja dengan ikut mengakui bahwa Isa adalah anak Tuhan, sebagaimana keyakinan Kristiani.

Yang membolehkan beralasan bahwa seorang Muslim yang mengucapkan “Selamat Natal” tidak berarti mengakui Isa atau Yesus itu anak Tuhan, tetapi ia meyakini Isa sebatas nabi sebagaimana ajaran Islam. Tidak lebih. (Baca: Ucapan Selamat Natal pada Non-Muslim Boleh, Ini 5 Pandangan Quraish Shihab)

Baca juga:  Mencermati Pandangan M. Quraish Shihab tentang Ucapan Selamat Natal pada Non-Muslim

3. Tarawih

Menjelang Ramadan, hampir bisa dipastikan munculnya pertanyaan berapakah bilangan rakaat tarawih yang paling sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad Saw. Bahasan dan perdebatan tentang ini pun tak juga dianggap selesai.

Pada dasarnya, para ulama mujtahid telah menyimpulkan pendapatnya berdasar istinbath (perumusan hukum) masing-masing dalam memahami Alquran dan Hadis.

Imam Hanafi berkesimpulan bahwa jumlah rakaat tarawih adalah 20 dengan 2 rakaat tiap salam dan diselingi istirahat setiap 2 kali salam. Hal ini seperti dijelaskan dalam kitab Fath al-Qadir.

Pendapat masyhur dari Imam Malik mengatakan bahwa tarawih justru berjumlah 39 rakaat termasuk 3 rakaat witir seperti diriwayatkan dalam al-Mudawwanah al-Kubro. Ada juga pendapat masyhur lain yang mengatakan bahwa tarawih berjumlah 46 rakaat.

Sementara itu, Imam Syafii yang mazhabnya dianut oleh mayoritas muslim Indonesia berpendapat bahwa tarawih berjumlah 20 rakaat, seperti dikutip dari kitab al-Umm. Ibnu Qudamah menyebutkan pendapat Imam Hanbali dalam al-Mughni bahwa rakaat tarawih berjumlah 20.

Kesimpulannya, pendapat yang unggul tentang jumlah rakaat salat tarawih adalah 20 rakaat + rakaat witir jumlahnya 23 rakaat. Akan tetapi, jika ada yang melaksanakan salat tarawih 8 rakaat + 3 witir jumlahnya 11 rakaat tidak berarti menyalahi Islam. Sebab ini hanya masalah furu’iyah, bukan masalah akidah yang tidak perlu dipertentangkan.

Masalahnya, ada yang ngeyel bahwa tarawih 20 rakaat justru bidah yang sesat. Mereka menganalogikan tarawih 20 rakaat sama halnya dengan menambah rakaat salat Zuhur menjadi 5 rakaat.

Sebagaimana disampaikan Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub dalam Hadits-Hadits Bermasalah, selama masa 1409 tahun, tidak ada ulama yang mempermasalahkan tarawih 20 rakaat. Tarawih 8 rakaat plus 3 rakaat witir baru disuarakan oleh Imam al-Shan’ani dan Syekh Muhammad Nashirudin al-Albani.

4. Tradisi Muharam atau Tahun Baru Islam

Peringatan tahun baru Islam dan berbagai tradisi di Bulan Muharam atau Suro juga tak luput dari pembahasan. Memang banyak kegiatan yang merupakan bagian kegiatan islami atau memang sekedar budaya.

Adapun yang jelas-jelas kesunahannya memang puasa 10 Muharam. Yang sering jadi isu untuk diperdebatkan adalah kegiatan-kegiatan keagamaan seperti pengajian dalam rangka menyambut tahun baru, santunan yatim piatu, dan sebagainya.

Baca juga:  Dari yang Religi hingga Komersil, Ini 5 Fenomena Rutin Jelang Ramadan

Acara-acara semacam itu tak luput dari vonis bidah. Karena upaya pembelaan dan tanggapan, maka bisa dipastikan perdebatan akan kembali menghangat tiap awal tahun. Sekedar contoh, Anda bisa akses situs-situ semacam Arrahmah.com dan sejenisnya. Niscaya pengajian menyambut tahun baru Islam yang di dalamnya biasa terdapat santunan yatim piatu akan dihukumi sebagai bidah.

5. Hilal Awal Ramadan dan Syawal

Menjelang Ramadan dan Syawal, perhatian seluruh Muslim Indonesia dan Mancanegara tertuju pada proses sidang isbat atau penetapan tanggal 1 (hijriah). Sekian banyak ormas yang mempunyai pegangan sendiri dalam menentukan hilal semakin meramaikan suasana. Lebih seru lagi jika ternyata ada yang hasil hisab atau hitungannya berbeda dari pemerintah.

Dulu, ketika awal-awal masa reformasi, perdebatan tentang metode mana yang paling sah dalam menentukan tanggal 1 sangatlah seru. NU dan Muhammadiyah sebagai dua ormas terbesar saat itu menjadi pemain utama dalam hal ini. Muhammadiyah menggunakan metode hisab, sedangkan NU mengkombinasikan antara hisab dan rukyat.

Biasanya Muhammadiyah telah memastikan hari dan tanggal tertentu sebagai awal Ramadan atau Syawal sejak jauh-jauh hari. NU meskipun memiliki banyak ahli hisab, tetapi hitungan itu hanya dipakai sebagai patokan untuk melakukan rukyat nantinya. Di sisi lain, NU memang selalu menanti keputusan sidang isbat sebagai hasil resmi.

Sebenarnya dalam tubuh NU sendiri juga ada sebagian warga yang menggunakan hisab sebagai satu-satunya metode. Tetapi sebagaimana ketentuan yang disampaikan ulama dalam kitab muktabar, mereka tak berhak mengumumkan hasil hisabnya. Seiring waktu, perdebatan tentang hal ini menjadi hal biasa saja. Namun tetap saja merupakan isu hangat.

nasrudin maimun

Kontributor : Nasrudin | Penggemar martabak dan bakso

FB: Nasrudin El-Maimun

Komentar

Nasrudin
Previous post IPB Umumkan Darurat Hepatitis, Perhatikan 5 Hal Ini
Next post Siapa Bilang Alumni UIN Cuma Jadi Ustaz, Ini 5 Pengamat Politik Alumni IAIN/UIN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *