Selain Najis, Islam Mengharamkan Daging Babi karena Ada Penyakit dan Cacing Ini

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Salah satu syariat Islam adalah pengharaman daging babi untuk dikonsumsi. Allah Swt. berfirman, “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah,” (QS Al-Maidah, 3).

Para ulama telah bersepakat mengenai keharaman babi berdasarkan ayat tersebut. Oleh sebab itu, tidak dibolehkan memakan apa pun yang berasal dari babi, baik daging, lemak, urat, tulang rawan, jerohan, otak, kaki-kaki, atau bagian tubuh lain dari babi.

Allah Swt. telah menjelaskan alasan mengapa memakan babi diharamkan, yaitu karena babi adalah rijsun atau najis. Najis adalah suatu hal yang harus dijauhi oleh seorang muslim. Keharaman tidak hanya karena babi adalah najis, tetapi juga dikarenakan dia membawa penyakit dan bahaya yang bisa menyebabkan orang yang mengonsumsinya bisa mati.

Penelitian-penelitian ilmiah dan medis telah menyatakan bahwa babi adalah salah satu kelompok hewan yang banyak menyimpan atau mengandung bakteri yang berbahaya bagi tubuh manusia. Di antara penyakit yang muncul karena memakan daging babi adalah sebagai berikut:

Baca juga:  Ini 5 Sahabat dan Tabiin yang Lakukan Kreasi dalam Doa dan Salawat, Masih Anggap Bidah?!

1. Penyakit parasit. Penyakit ini ditimbulkan oleh beragam cacing yang ada di dalam tubuh babi. Setidaknya ada enam jenis cacing di dalam tubuh babi.

Pertama, cacing sekrup (screwworm), yaitu salah satu cacing yang sangat berbahaya bagi manusia. Kedua, cacing pita yang panjangnya mencapai 10 kaki dan menyebabkan kacaunya sistem pencernaan dan kekuarangan darah.

Ketiga, cacing ascaris (ascariaisis) yang dapat menimbulkan radang paru-paru (pneumonia), atau penyumbatan usus dan penyakit lainnya. Keempat, cacing tambang (ancylostoma), cacing schistosoma, serta cacing tanah (worm dysenteriae) yang bisa menyebabkan pendarahan dan penyakit lain yang mendatangkan kematian.

2. Penyakit-penyakit bakteri, seperti TBC, kolera tipus, demam tifoid (paratifoid), demam malta, dan lainnya.

Baca juga:  Pandangan Fikih terkait Tik Tok dan Aplikasi Sejenis

3. Penyakit virus, seperti radang otak, radang otot jantung (miokarditis), flu (influenza), radang mulut sapi dan penyakit lainnya.

4. Penyakit bakteri, seperti bakteri toksoplasma.

Dengan kata lain, selalu ada alasan mengapa Allah melarang sesuatu atau memerintahkan melakukan sesuatu. Semua ini tidak lain demi kebaikan kita umat manusia.

Komentar

Redaksi
Previous post Ternyata Sebelum Wafat, Nabi Yaqub Justru Mengkhawatirkan Orang Yahudi
Next post Ini Pandangan Gus Dur tentang Jihad dalam Konteks Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *