Kategori
Intisari

Kenali Ciri Ulama Ahli Waris Nabi Versi Kiai Ali Mustafa Yaqub

5. Empat Puluh Tahun

Empat puluh tahun juga menjadi salah satu ciri penting keulamaan. Mengapa empat puluh tahun? Menurut para ahli, pada usia empat puluh tahun, seseorang umumnya telah mencapai kematangan jiwa. Pada usia itu ia sudah dapat istikamah, stabil dan tenang jiwanya.

Kemapanan pribadinya cukup menjadi alasan dia layak menjadi panutan kaumnya. Sebelum mencapai usia itu, jiwanya masih bergejolak dan kepribadiannya labil. Pada kondisi ini, selain kemampuannya untuk memimpin umat masih dipertanyakan, ia juga acapkali telah merasa besar sebelum waktunya.

Diangkatnya para nabi, kecuali Nabi Isa, menjadi nabi sesudah berumur empat puluh tahun kiranya cukup memberi isyarat bahwa ada hikmah tertentu di balik empat puluh tahun usia seseorang.

Baca juga:  Bukan Cuma Calon Gubernur, Ini 5 Keturunan Arab yang Jadi Menteri

Terakhir, Pak Kiai, yang dalam bukunya diperankan oleh “Kiai Duladi”, berpesan kepada Kang Ngadimin, “Apabila Sampean menemukan orang yang memiliki tanda-tanda atau sifat-sifat seperti yang saya sebutkan tadi, silakan Sampean ikuti nasihat-nasihatnya, silakan Sampean cium tangannya, dan silakan Sampean ikuti jejaknya. Tetapi sebaliknya, bila Sampean menemukan orang yang gelarnya Kiai Haji, Ustad, dan sebagainya, tetapi tidak memiliki tanda-tanda dan sifat-sifat seperti yang saya sebutkan tadi, Sampean harus waspada. Jangan-jangan dia adalah musang berbulu ayam.” (Pengajian Ramadan Kiai Duladi, 164).

Muhammad Al-Faiz

Oleh Muhammad Al-Faiz

Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Alumni Fakultas Dirasah Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan International Institute for Hadith Sciences Darus-Sunnah Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *