Meski dalam Pengasingan, Bung Hatta Tetap Belajar, Mengajar, dan Menulis

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Jika Soekarno diasingkan di Pulau Ende, maka Mohammad Hatta diasingkan di wilayah Timur Indonesia yaitu, di Boven Digul di Pulau Papua sesuai keputusan pengadilan pada 16 November 1934.

Hatta tiba di Digul pada 28 Januari 1935, Boven Digul adalah tempat pembuangan atau pengasingan untuk seseorang yang melakukan tindakan membahayakan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Tempat ini dikenal sebagai tempat yang jauh dari perdaban karena tempat ini berada wilayah hutan rimba nan lebat, tempat ini semakin terasa mencekam dengan banyaknya nyamuk malaria yang ganas.

Di tempat ini Hatta tinggal disebuah rumah berlantaikan tanah bersama Burhanuddin selama tujuh bulan sampai ketika istrinya datang. Setiba istrinya di Ende mereka menjalani hidup berdua di rumah itu.

Sebelum istrinya datang semua pekerjaan rumah seperti, memasak, mencuci piring, menyapu rumah dan halaman dikerjakan oleh Hatta dan Burhanuddin. Keadaan ini adalah sesuatu hal yang baru karena sebelumnya bisa dipastikan Hatta tidak pernah melakukannya, karena kehidupannya serba berkecukupan.

Baca juga:  Empat Teori Mengkader dan Memproduksi Ulama Menurut Gus Qoyyum Lasem

Penyebab diasingkanya Hatta karena dia dianggap melakukan tindakan revolusioner yang bersifat provokatif terhadap pemerintah Belanda. Sepulangnya dari Belanda pada bulan Juli 1932, Hatta mendirikan partai baru yaitu Pendidikan Nasional Indonesia atau lebih dikenal dengan PNI baru.

PNI baru inilah yang menjadi media pergerakan Hatta yang memusatkan diri pada pendidikan politik untuk rakyat Indonesia. Oleh karena semakin masifnya pergerakan PNI baru ini, maka pemerintah Belanda menjegal aksinya dengan menangkap Hatta bersama enam orang pengurus PNI untuk diasingkan ke Boven Digul.

Selama di pengasingan, Hatta melakukan aktivitas belajar dan mengajar. Hatta membawa sekitar enam belas peti buku untuk dibaca dan dia mengajar ekonomi, sejarah, politik, dan filsafat kepada kawan-kawannya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Hatta menjadi penulis tetap di surat kabar Pemandangan, karena sikap dia yang tidak ingin menerima tawaran menjadi pegawai pemerintah. Dalam masa pengasingannya ini Hatta tetap bisa produktif dengan menulis, dan mengajar.

Baca juga:  Pernyataan Tegas K.H. Said Aqil Siradj: Masyarakat DKI yang NU Nggak Akan Pilih Ahok

Karya tulisnya yang monumental selama pengasingannya adalah, tiga jilid buku yang berjudul Alam Pikiran Yunani. Dalam Pengantar buku tersebut Hatta mengatakan, “Buah karangan ini lahir berangsur-angsur sebagai hasil pelajaran di alam yang sunyi. Lahirnya bermula di tempat pembuangan di Boven Digul. Tatkala kami di sana memimpin pelajaran beberapa orang kawan dalam ekonomi.”

Buku ini disusun karena tuntutan yang harus dipenuhi untuk masuk ke dalam ilmu ekonomi. Masa pengasingan di Boven berakhir pada bulan Februari 1937 kemudian Hatta dipindahkan ke Banda Nair

 

Komentar

Irvan Hidayat
Previous post Allah Bersemayam di Langit dan Arsy! Yuk Cari Tahu dari Hadis Mengenai Hal Ini
Next post Waspadai Ancaman Gangguan Kesehatan Selama Lebaran, Bijaklah dalam 5 Hal Ini!