Berani Membantah Kelompok Salafi, Anda Harus Siapkan Mental untuk Menerima 9 Kosakata Khas Ini

  • 116
  •  
  •  
  •  
    116
    Shares

Dibaca: 1467

Waktu Baca6 Menit, 7 Detik

DatDut.Com – Pernah membantah kelompok salafi? Apa yang Anda alami? Berdasarkan pengalaman pribadi maupun rekan-rekan terutama di media sosial, orang-orang dari kelompok salafi sering tampil garang dalam diskusi. Meskipun ada juga yang bisa santun dan santai, namun lebih banyak yang tak segan memuntahkan kata-kata kasar.

Dalam menyikapi perbedaan/khilafiyyah, semestinya bisa saling menghargai dalil dan landasan orang yang berbeda. Sayangnya, meskipun banyak tokoh maupun masyarakat dari kelompok selain Salafi mencoba menjelaskan dan menjawab berbagai tuduhan dan vonis, kebanyakan mereka tidak peduli dan selalu merasa paling benar. Meskipun menghentikan berdebat langsung, namun di belakang, mereka tetap mengumbar kata-kata. Terlebih akun-akun medsos model abal-abal atau istilahnya kloningan. Nama, foto profil dan keterangan tidak jelas, biasanya akun model ini sangat ganas menebar kebencian.

Nah, siapapun Anda dan dari kelompok muslim manapun, bila sering berdebat atau membantah statemen tokoh dan penganut Salafi, maka siapkan mental, hati, kendali emosi, dan diri Anda untuk menerima 9 kosakata khas salafi ini.

1. Ahli Bidah, Syirik/Musyrik dan Sesat

Kata-kata ini sudah lama dan terlalu biasa kita dengar. Memang vonis bidah, syirik, musyrik dan sesat adalah beberapa kata yang mengawali kedatangan dakwah salafi. Berbagai amaliyah dan tradisi yang tak sejalan dengan Alquran dan sunah versi pemahaman mereka akan segera dianggap bidah. Tindakan yang dianggap mengkultuskan dan mengagungkan dan tergolong menyembah makhluk dalam pengertian mereka segera saja divonis sebagai syirik dan pelakunya adalah musyrik. Kalau sudah bidah, jelas tak ada namanya bidah hasanah, dan pasti sesat, lalu pasti neraka.

Berbagai tanggapan, jawaban dan penjelasan dari kelompok tervonis, bagai angin lalu. Tak sedikitpun mengurangi tensi dan menyelesaikan pertentangan. Ini karena landasan berpikir yang mengklaim bahwa pemahaman mereka sajalah yang pasti sesuai dengan Alquran dan sunah. Sehingga apa pun jawaban dari tervonis ahli bidah, pasti dianggap sebagai syubhat dan berdasarkan dalil palsu.

2. Menentang Dakwah Tauhid

Statemen menentang dakwah tauhid biasa terlontar ketika ada orang atau masyarakat yang menunjukkan perlawanan tegas terhadap keberadaan kelompok salafi di daerah mereka. Dalam beberapa kasus penolakan Ustadz-ustadz salafi oleh masyarakat, muncullah kata-kata ini.

Padahal tindakan masyarakat di daerah yang akan ditempati kajian tersebut hanyalah reaksi terhadap statemen para ustadz itu sendiri. Ketika soal khilafiyah bidah sudah terlalu biasa, masyarakat masih sabar.

Tapi ketika khilafiyah yang dibahas sudah pada soal orangtua nabi di neraka, Sayyid Alawi al-Maliki sesat, Wali Songo fiktif, bukankah reaksi penolakan tersebut adalah hal wajar? Dakwah tauhid macam apa yang sibuk mengkafirkan orangtua nabinya sendiri dan menafikan tokoh-tokoh yang dihormati kelompok lain lalu mengklaimnya sebagai kebenaran dan dakwah tauhid?

3. Jangan Berdebat

“Jangan Berdebat! Musuh kita adalah para kafir!” kalimat yang bijak sebenarnya. Tapi sayangnya ungkapan ini sering muncul dari kelompok yang suka memancing perdebatan. Ketika amaliyah kelompok lain dituduh bidah, syirik, dan sesat, lalu ada yang mengetengahkan jawaban dan dalil, hal itu dianggap mendebat.

Baca juga:  Pencipta Hits Aisyah Istri Rasulullah Kecewa pada Para Pengcover Lagunya

Dalam berbagai kajian yang dokumentasinya disebarkan, mereka sangat gencar menebar fatwa bidah terhadap berbagai amaliyah kelompok lain, namun ketika dibantah malah menasihati untuk diam saja. Membingungkan, bukan?

Nasehat ini biasanya muncul di tengah perdebatan dalam komentar panjang, dan dari akun lain yang “numpang lewat”.

4. Tabayun Dulu

Nasihat yang tak kalah bijaknya adalah anjuran untuk bertabayun atau meminta penjelasan. Ini biasa dilontarkan ketika pihak mereka tersudut dan dalam posisi diserang balik pemahaman ataupun statemennya. Contohnya soal bidahnya tahlilan dari sisi menentukan hari untuk melakukan amal. Ketika dijawab bahwa daurah salafi yang memilih hari tertentu pun tak ada dalilnya, ada yang menasihati agar tabayun dulu.

Apakah ketika memvonis tahlil, maulid,haul dan sebagainya sebagai bidah, syirik dan sesat, mereka benar-benar melakukan tabayun? Tidak. Tabayun atau klarifikasi seharusnya menyelesaikan tuduhan. Nyatanya ketika ada yang menjelaskan bahwa tahlilan isinya acara ini dan itu, maulidan isinya salawatan dan sebagainya, tuduhan dan fatwa menyakitkan tak juga berhenti. Artinya, nasihat itu ibarat senjata makan tuan. Salafi-lah yang seharusnya menghentikan melontarkan ujaran bidah dan sesat agar tak ada debat.

5. Liberal

Cap liberal atau JIL juga mudah disematkan kepada orang yang membantah berbagai statemen kelompk salafi. Ketika ada yang menguraikan dalil, mengetengahkan pendapat ulama dalam kitab-kitab klasik, membela tradisi baik di masyarakat, maka dia adalah orang yang menuhankan akalnya dan itu berarti liberal. Kurang lebih begitu rangkaiannya.

Lihat saja bagaimana K.H. Said Aqil yang selain dikatakan sebagai agen syiah, juga sekaligus menyandang gelar sebagai liberal. K.H. Musthofa Bisri (Gus Mus) dengan dakwahnya yang sejuk dan santun juga dianggap liberal. Apalagi beliau memiliki menantu pentolan JIL.

6. Pemecah Belah Persatuan Umat Islam

Akun-akun medsos kalangan yang membantah berbagai lontaran fatwa salafi biasanya tak luput dari tuduhan ini. Memecah belah persatuan umat islam. Kenapa? Karena dengan adanya orang-orang yang kerjaannya membantah dan menjawab, maka upaya kelompok salaf untuk menyatukan umat islam dalam satu pemahaman saja akan terganggu. Orang, tokoh, akun medsos pembantah itu adalah pemecah belah persatuan umat yang akan didakwahi dengan pemahaman mereka. Nampaknya itulah kesimpulan yang tepat.

7. Penebar Fitnah

Tukang fitnah/penebar fitnah, biasa disematkan pada mereka yang intens menguak sisi tersembunyi dari paham salafi. Baik dari sisi sejarah, sepak terjang maupun fakta-fakta lainnya. Tuduhan sebagai tukang fitnah akan segera diperoleh karena tentu saja mereka tidak terima dibongkar kekurangannya.

Tentu saja referensi maupun bukti dari buku sejarah ataupun kitab pendukung tak akan dianggap sebagai bukti. Apalagi saat ini kelompok salafi sudah punya senjata andalan yang baru-baru ini dijadikan untuk menyerang orang yang coba mengusik dakwah mereka. Apa itu? Baca lanjutannya…

Baca juga:  Ahli Bahasa Tegaskan Surat Al Maidah 51 sebagai Alat Kebohongan

8. Syiah

Ya. Syiah adalah tuduhan terampuh dan senjata paling umum dipakai saat ini. Siapapun yang mengusik dakwah salafi, membantah berbagai fatwa tokohnya, membongkar sisi kelamnya, siap-siap saja dibully dan dicap sebagai syiah atau minimal agen syiah.

Hebatnya lagi, apabila yang dicap sebagai syiah atau antek syiah adalah tokoh berpengaruh, maka stempel itu sulit sekali dihilangkan. Media-media yang berafiliasi dan menyebarkan pemahaman kelompok ini akan satu suara menyebarkan bukti-bukti pembenaran yang meyakinkan masyarakat bahwa si A adalah Syiah tulen yang menyusup, sedang taqiyah dan sebagainya. Dan itu akan diamini dan dijadikan bagian keyakinan para pengikut.

Bukti paling nyata adalah Prof. Quraish Shihab, KH. Said Aqil Siradj, Haddad Alwi dan beberapa tokoh lain. Hingga sekarang, keyakinan bahwa orang-orang tersebut adalah syiah sudah mengakar kuat dalam kelompok salafi. Penulis sendiri pernah menerima pesan via inbox FB dari akun palsu yang memaki-maki saya sebagai kafir, karena masih termasuk murid Prof. Quraish Shihab yang Syiah menurut mereka.

9. Kafir

Inilah kosakata puncak yang sering dibawa orang salafi. Berapa banyak dalam sehari akun-akun kloningan mereka dengan lancar mengetik kata kafir, musuh Islam, dan sejenisnya. Miris. Dari mereka pula slogan “Syiah Bukan Islam” muncul pertama kali dan massif disebar lewat media. Hebat sekali efek dari slogan pengkafiran ini. Bahkan orang yang tak kenal dan tak mengerti tentang aliran-aliran dalam Islam pun bisa ikut mengatakan bahwa Syiah Bukan Islam.

Cobalah rangkai dari poin sebelumnya, maka hasilnya begini: Tokoh A adalah Syiah, Syiah bukan Islam, bukan Islam = kafir, berarti tokoh A adalah kafir. Masih belum puas sampai di sini, saya juga baru mendapat pesan bahwa Syiah adalah Majusi. Rancu bukan? Anda percaya kalau orang seperti Kiai Said Aqil adalah Majusi?

Padahal, efek pengkafiran ini adalah penghalalan darah/pembunuhan. Dan ini telah terbukti pada diri Syekh Ramadlan al-Buthi. Media yang menebar tuduhan, lalu kelompok tertentu yang mengeksekusi.

Itulah 9 kosakata khas salafi yang harus siap-siap Anda terima jika berusaha membantah dakwah mereka. Semoga saja pertikaian dan silang pendapat di negeri kita tak berujung tragis layaknya Timur Tengah selanjutnya. Aaamiiin.

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Nasrudin
  • 116
    Shares

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *