Benarkah Raja Salam akan Bebaskan Indonesia dari Cengkeraman China?

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Menjelang kedatangan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz al-Saud, salah satu isu yang menjadi bahan perdebatan adalah kabar investasi yang dibawa orang nomor satu di Arab Saudi tersebut.

Seperti dikatakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution bahwa kedatangan Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud dan rombongannya juga akan melakukan penandatanganan investasi dengan Saudi Aramco untuk pembangunan kilang minyak di Cilacap.

Total investasi untuk proyek di Cilacap adalah enam miliar dolar AS. Selain itu ada proyek lain yang investasinya bernilai 1 miliar dolar AS. Total Investasi yang akan ditandatangani nanti adalah senilai 7 miliar dollar.

Disebutkan pula bahwa pemerintah akan berupaya agar investasi Arab Saudi di Indonesia nantinya mencapai target US$25 miliar. Jika benar target ini terealisasi, maka jumlah itu akan menggeser dominasi investasi China di Indonesia yang menurut industri.bisnis.com masih sejumlah US$1,6 miliar.

Tapi benarkah seperti itu? Mengutip dari Jawa Pos, sampai saat ini realisasi investasi Arab Saudi di Indonesia masih kalah jauh dari China. Menurut data Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi dari Arab Saudi sepanjang 2016 baru mencapai 900 ribu dolar AS atau sekitar Rp 11,9 miliar (kurs Rp 13.300) untuk 44 proyek.

Baca juga:  Penampilan Paslon pada Debat Perdana Pilkada DKI di Mata Pengamat Wacana UIN Jakarta

Jumlah tersebut menempatkan Arab Saudi pada urutan peringkat ke 57. Masih tertinggal jauh dari Singapura, Jepang, Korea Selatan, China, dan Amerika Serikat.

Sementara itu, selain melakukan investasi ternyata kunjungan kali ini juga dalam rangka menawarakan saham Saudi Aramco kepada investor di sejumlah negara Asia. Kompas.id (26/2) melansir bahwa Arab Saudi akan melepaskan 5% saham Aramco pada 2018 mendatang.

Hal ini terlihat dari kunjungan Raja Salman yang rencananya setelah Malaysia dan Indonesia akan ke China, Jepang dan Maladewa. Memang anjloknya harga minyak membuat Arab Saudi harus melakukan diversifikasi ekonomi/penganekaragaman produk atau jenis usaha selain minyak.

Asal tahu saja, pada 30 Agustus 2016 Deputi Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Mohammed bin Salman telah menandatangani 15 perjanjian awal dengan China.

Seperti dilansir oleh Reuters, termasuk dalam perjanjian itu adalah pambangunan penyimpanan minyak, sumber daya air, kerjasama ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kerjasama kebudayaan hingga pembangunan 10.000 unit perumahan di utara Riyadh.

Baca juga:  Lirik Lagu Aisyah Tuai Kontroversi, Mari Move On ke Versi Arabnya

Melihat fakta-fakta dari sumber diatas, maka tentu tak perlu saling klaim dan saling bully terkait kunjungan Raja Salman yang heboh pemberitaan membawa investasi miliaran dolar dan akan membantu Indonesai bebas dari China. Ini murni urusan kenegaraan dan bisnis.

Bagaimana Arab Saudi akan melepaskan Indonesia dari China, sedangkan mereka sendiri juga ada ketergantungan dengan negara tersebut? Jadi, meskipun membawa investasi, saat yang sama Arab Saudi juga membawa misi untuk menawarkan saham perusahaan minyaknya, Aramco kepada investor Asia termasuk China.

Komentar

Nasrudin
Previous post Heboh! DDII Terbitkan Larangan Mensalati Pendukung Pemimpin Kafir
Next post Pemahaman Salah tentang Asy’ariyah yang Meracuni Pikiran Orang Awam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *