Belajarlah Kelembutan dalam Berdakwah dari Almarhum Habib Munzir Al-Musawa

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Almarhum Habib Munzir Al-Musawa semasa hidupnya dikenal sebagai pendiri sekaligus pimpinan Majelis Rasulullah. Habib Munzir bukan hanya seorang ulama biasa, yang ceramahnya hanya yang itu-itu saja.

Beliau amat lembut dalam bersikap, dan amat toleran terhadap umat beragama lain. Semasa hidup, saat kira-kira 3 sampai 5 tahun lalu, saat saya masih rajin mengikuti taklim, isi ceramah Habib Munzir tak pernah berisi ajaran radikalisme, provokasi, atau apa pun sebutan untuk ajaran keras lainnya.

Beliau selalu menekankan hal-hal ukhrawi, dan kadang beliau sampaikan pula keutamaan duniawi lainya. Benar-benar seorang Guru Bangsa yang amat patut ditiru, dan dicontoh oleh muslim lainnya. Di saat umat Islam lainnya saling menyerang dan mengafirkan satu sama lain, tak pernah saya dengar ucapan-ucapan beliau yang menyerang dan mengafirkan.

Tak hanya santun, beliau juga sangat hormat terhadap orang-orang pemerintahan. Maksud “hormat” di sini bukan berarti “tunduk”, tapi dalam artian mematuhi dalam koridor kebenaran. Hal ini terlihat saat perayaan Maulid Nabi Muhammad tahunan yang bertempat Monumen Nasional, yang selalu dihadiri Presiden Indonesia kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono.

Baca juga:  K.H. Zayadi Muhajir, Ulama Besar Betawi yang Makamnya Banyak Diziarahi

Tetapi, perjuangan beliau kala sebelum memimpin majelis sebesar itu amat perih. Bahkan, sebuah kata-kata mungkin tak akan mampu menggambarkan. Sebuah dakwah yang dijalankan dengan penuh ujian. Dulu, sekitar tahun 90-an setelah belajar di Tarim., Munzir muda kembali ke Jakarta, kembalj untuk menjalankan risalah dakwah dari kakeknya, Muhammad SAW.

Tak berjalan mulus, dan selalu ditolak sekitarnya, Munzir muda berdakwah dari musala ke musala. Sedikit demi sedikit, hingga jamaah bertambah. Pernah suatu ketika juga, Munzir muda terpaksa tidur depan rumah seorang jamaah yang ia kenal, dikarenakan ia sedang tak enak badan, dan waktu sudah larut malam. Tetapi, saat diketuk pintu rumahnya, orang tersebut tak menjawab. Akhirnya, terpaksa Munzir muda tidur depan rumahnya.

Sampai hingga tahun 2000-an, majelis Habib Munzir mulai masyhur senatero Nusantara. Yang bemulai hanya taklim kecil-kecilan di musalla, lalu terkenal sampai pulau Indonesia paling timur, Irian Jaya. Yang dulu dihina, hingga diacuhkan masyarakat sekitar, kini jadi panutan sebagian umat Muslim di Indonesia.

Baca juga:  Ketika Buya Hamka Qunut dan K.H. Idham Chalid Tidak Qunut

Tetapi, saat umur 40 tahun Tuhan memanggil dirinya, kembali ke hadiratnya. Seperti seorang kekasih yang telah memendam mati rasanya, Sang Pencipta tak dapat memungkiri keadaanya. Maka, dia kembali ke tempat asalnya. Tempat di mana dia diukir dan dicipta.

Tahun 2013 tepatnya, menjadi akhir perjalanan Munzir dalam syiar agama suci. Tak terelakkan, semua mata menuju ke pemakamanya saat 3 tahun yang lalu. Menjadi lautan, lautan umat manusia. Hadir pula jajaran orang Pemerintah dan para ulama. Mereka hadir, menyampaikan bela sungkawa kepada sang Habib muda.

Komentar

Nasrullah Alif Suherman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *