Ayat Mutasyabihat dan Keyakinan yang Benar terkait Allah Bertempat atau Tidak

  •  
  •  
  •  
  •  

Dibaca: 2889

DatDut.Com – Tentang ayat-ayat terkait Allah Swt. bersemayam di langit dan ayat pembandingnya sudah dibahas. Demikian juga dengan hadis-hadis yang mejadi dalil dan juga hadis pembandingnya. Kali ini coba kita kuak kembali tentang cara ulama memahami ayat-ayat dan hadis mutasyabihat. Dan akhirnya ditutup dengan keyakinan yang dianut oleh para ulama terkait keberadaan Allah bertempat ataukah tidak.

1. Muhkamat dan Mutasyabihat

Ayat Alquran terbagi dalam ayat muhkamat dan mutasyabihat. Muhkamat yaitu ayat yang dari sisi kebahasaan memiliki satu makna saja dan tidak memungkinkan untuk ditakwil ke makna lain. Atau ayat yang diketahui dengan jelas makna dan maksudnya. Seperti firman Allah:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ

Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya.” (QS asy-Syura[36]: 11)

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dia (Allah) tidak ada satupun yang menyekutui-Nya.” (QS al-Ikhlash[112]: 4)

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

Allah tidak ada serupa bagi-Nya.” (QS Maryam[19]: 65)

Sementara itu, ayat Mutasyabihat adalah ayat yang belum jelas maknanya, atau yang memiliki banyak kemungkinan makna dan pemahaman sehingga perlu direnungkan agar diperoleh pemaknaan yang tepat yang sesuai dengan ayat-ayat muhkamat. Ayat-ayat yang dipakai berdalil dan meyakini bahwa Allah Swt. bersemayam di arsy merupakan golongan ayat mutasyabihat. Hal itu karena kata istawa’ sendiri memilik makna tak hanya bersemayam/menempati.

Ada sekitar 13 makna bahkan ada yang mengatakan 15 makna istawa. Antara sekian makna itu, manakah yang pantas dan sesuai untuk menyifati Allah Swt.? Begitu juga kata yad, wajh, ain, saq yang umumnya diartikan dengan tangan, wajah, mata, betis. Padahal kata tersebut mempunyai makna lain, sedangkan tak pantas Allah punya keserupaan dengan makhluk sebagaimana ayat yang telah disebutkan.

Menyikapi ayat dan hadis yang berkaitan dengan bagaimana Allah Swt. menyifati diri-Nya, maka ulama menempuh dua metode. Metode Tafwidh dan Takwil. Sering juga disebut dengan metode salaf dan khalaf. Salaf adalah mereka para ulama yang hidup hingga 3 abahd pertama hijriyah. Selebihnya sudah tergolong sebagai khalaf.

Metode tafwidh disebut juga sebagai takwil ijmali. Ibnu Katsir menegaskan bahwa metode inilah yang ditempuh banyak ulama salaf seperti Imam Malik, al-Auza’i, al-Tsuri, al-Laits bin Sa’ad, Imam Syafi’I, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan lainnya dari para ulama Islam masa lalu dan masa sekarang. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/427).

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir memaparkan metode itu dengan ungkapannya:

وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل. والظاهر المتبادر إلى أذهان المشبهين منفي عن الله

Baca juga:  Masih Perlukah Mengganti Arah Kiblat?

“Madzhab salaf adalah memperlakukan ayat tersebut sebagaimana datangnya, dengan tanpa takyif (memerincikan kaifiyatnya), tanpa tasybih (menyerupakan dengan makhluk), tanpa ta’thil (meniadakan). Adapun makna dhohir (bahasa) yang terbayang dalam hati golongan musyabbihin, itu tidak ada pada Allah.”

Perhatikan ungkapan “makna dhahir”. Pada poin inilah perbedaan metode tafwidh yang ditempuh ulama salaf dan yang ditempuh golongan yang meyakini Allah bersemayam di Arsy. Ulama salaf meyakini kata istawa sebagai kata istawa yang memang difirmankan Allah Swt. Dan tercantum dalam Alqur’an. Namun mereka tidak menentukan maknanya dengan bersemayam, menguasai atau lainnya. Inilah tafwidh (menyerahkan) yang sebenarnya.

Sedangkan yang dilakukan golongan musyabbihah adalah memaknai, menerjemahkan kata istawa dengan mengikuti dhahir ayat sehingga menetapkan makna bersemayam, bertempat, bahkan duduk. Dan ini yang mereka doktrinkan sebagai keyakinan paling sahih.

Sedangkan metode kedua adalah takwil tafsili yang banyak dianut ulama khalaf. Yaitu mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara terperinci dengan menentukan makna-maknanya sesuai dengan penggunaan kata tersebut dalam bahasa Arab. Namun, seperti halnya metode tafwidh, mereka tidak memahami ayat-ayat tersebut sesuai dengan dhahirnya.

Metode ini pun dipakai oleh sebagian ulama salaf seperti Ibnu Abbas yang menakwil ayat 51 surat al-A’raf,  ننساهم dari makna asli “lupa” diartikan sebagai natruku (tinggalkan/biarkan dalam azab).

Begitulah. Dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat terkait sifat Allah Swt., memaknai dan menerjemahkan secara lahiriyah makna ternyata menyesatkan keyakinan orang sehingga terjerumus ke pemahaman aliran mujassimah (meyakini Allah berbadan/bentuk) ataupun musyabbihah (menyifati Allah seperti makhluknya). Dan meyakini Allah bersemayam di Arsy di langit adalah bagian dari memahami ayat-ayat secara terkstual dan bertentangan dengan pemahaman ulama salaf baik secara metode tafwidh maupun takwil.

[nextpage title=”2. Allah Bertempat atau Tidak?”]

2. Allah Bertempat atau Tidak?

Menjawab ini, mari kita perhatikan keterangan yang tercantum dalam tafsir an-Nasafi, 3/47 berikut ini:

استوى  استولى . عن الزجاج ، ونبه بذكر العرش وهو أعظم المخلوقات على غيره . وقيل : لما كان الاستواء على العرش وهو سرير الملك مما يردف الملك جعلوه كناية عن الملك فقال استوى فلان على العرش أي ملك وإن لم يقعد على السرير ألبتة وهذا كقولك «يد فلان مبسوطة» أي جواد وإن لم يكن له يد رأساً ، والمذهب قول علي رضي الله عنه : الاستواء غير مجهول والتكييف غير معقول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة لأنه تعالى كان ولا مكان فهو على ما كان قبل خلق المكان لم يتغير عما كان .

Istawa artinya istawla (menguasai), dikisahkan dari az-Zajjaj (241-311 H). dan mengingatkan dengan penyebutan Arsy atas yang lainnya, sedangkan Arsy adalah makhluk terbesar.”

Baca juga:  Jangan Buru-buru Menilai Jelek Salat Tarawih Kilat sebelum Tahu Alasannya

Sampai batas ini, kita mengetahui bahwa ternyata ulama salaf ada yang memakai metode takwil atas kata istawa. Pemilihan penyebutan Arsy menunjukkan bahwa makhluk lain yang lebih kecil berarti dalam kekuasaan Allah.

“Dikatakan: ketika Istiwa’ atas ‘Arasy yaitu singgasana Raja adalah sepadan artinya dengan memiliki, maka para ulama menjadikan Istiwa’ sebagai kinayah/ungkapan tidak langsung dari memiliki. Maka diucapkan, “Si Fulan menguasai singgasana” meskipun ia sama sekali tidak duduk. Ini seperti ucapan Anda, “Tangan Fulan terbuka lebar” meskipun ia tak punya tangan, sebagai kiasan dari “si Fulan dermawan.”

Itulah cara ulama salaf memahami ayat istiwa’. Tidak dengan makna mengikuti dzahir kata, namun dengan pemikiran mendalam. Sedangkan pendapat yang paling kuat adalah apa yang diungkapkan oleh Sahabat Ali Ra. yaitu,

الاستواء غير مجهول والتكييف غير معقول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة لأنه تعالى كان ولا مكان فهو على ما كان قبل خلق المكان لم يتغير عما كان

Istiwa’ bukanlah perkara majhul …

Maksudnya, istiwa’ sudah jelas adalah bagian ayat Alquran dan sudah diketahui pula makna dzahirnya.

Menguraikan kaifiatnya, itu tidak masuk akal/mustahil …   

Menjelaskan kaifiyat bagaimana istawa sendiri oleh Allah adalah tidak masuk akal. karena apapun yang terlintas dalam pikiran, maka Allah tidak akan seperti itu.

Mengimaninya wajib. Dan mempertanyakan/mengurai maksud istiwa’ adalah bidah

Beriman bahwa kata ayat istiwa’ ada dalam Alquran. Bukan mengimani makna dzahirnya. Hal ini karena …

Allah Ta’ala telah ada saat tempat tidak ada, maka Dia tetap sebagaimana sebelum terciptanya tempat (tidak bertempat), tidak berubah sebagaimana ia telah Ada.

Akhirnya … kami cukupkan dari satu tafsir saja agar tidak memperpanjang bahasan. Intinya Allah Swt. Maha Suci dari membutuhkan tempat. Tempat (termasuk Arsy) adalah ciptaan-Nya, sebelum adanya segala ciptaan, maka setelah Dia menciptakan tempat, Dia tetap tidak bertempat. Wallahu A’lam.

Komentar

Nasrudin