Kategori
Intisari

Ini 5 Keunggulan Memaknai Kitab Kuning ala Pesantren Salaf

4. Melatih Konsentrasi dan Fisik

Pengajian kitab kuning di pesantren biasa disebut bandongan. Prosesnya, guru atau kiai membaca kitab dan santri menulis makna. Sesekali diselingi keterangan dan penjelasan dari guru. Panjang pendeknya uraian keterangan tergantung kelimuan guru dan situasi serta tuntutan khatam.

Oh ya, tuntutan khatam biasa jadi patokan kajian kitab di pesantren. Para kiai dan santri berharap berkah dengan mengaji kitab hingga tuntas. Kadang kalau sudah mendekati batas waktu khataman yang telah ditentukan, maka ritme baca kitab bisa semakin cepat. Ngebut.

Hal ini menuntut santri untuk lebih berkonsentrasi. Dibutuhkan keseimbangan maksimal antara telinga yang mendengar suara guru, mata yang mencari posisi tepat menulis makna, dan tangan yang harus lincah menulis.

Baca juga:  Qasidah Maulid yang Biasa Dibaca di Majelis Rasulullah
Nasrudin

Oleh Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.

2 tanggapan untuk “Ini 5 Keunggulan Memaknai Kitab Kuning ala Pesantren Salaf”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *