Yang Tersisa dari Ospek Mahasiswa Baru UIN Jakarta

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com- Pagi ini Ciputat lebih dingin dibanding empat hari sebelumnya. Mentari pun seakan malu menampakan diri berlindung di balik awan kelabu menutupi langit biru dan bersiap mengguyur tumbuhan menghijau.

Merahnya raut muka mahasiswa baru juga mulai ikut redup dengan selesainya rangkaian kegiatan PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan) UIN Jakarta.

Bagi mahasiswa baru (maba) momen PBAK adalah hal yang sangat ditunggu karena merupakan pintu gerbang awal untuk menyandang gelar mahasiswa.

Bagi kating (kakak tingkat) juga tak kalah penting karena PBAK adalah ajang modus terbesar untuk berikhtiar mencari pasangan foto wisuda nanti. Kan nggak lucu kalau wisuda nggak ada yang ngasih bunga?

Nah yang paling ngotot adalah para aktifis organisasi yang menjadikan PBAK sebagai ajang kontestasi perekrutan kader terbesar dalam dunia kampus.

Maka tidak heran kalau selama empat hari ini kita mendengar yel-yel lucu dan kadang tidak jelas apa maksudnya.

Setidaknya terdengar aneh bagi maba yang masih polos, kalau senior sih lebih menganggap yel-yel itu sebagai mantra indoktrinasi. Yang nggak tahu indoktrinasi silahkan buka KBBI ya!

Yel-yel yang diteriakan maba seperti “langit biru menaungi UIN” atau “hijaulah kampusku” atau “merah-merah” dengan memakai atribut yang unyu-unyu kadang memancing netizen medsos berkoar-koar.

Baca juga:  Satu Universitas di Satu Fakultas

Ospek tak mendidiklah, ospek tak bermanfaatlah dan beragam nyinyiran lain yang maha dahsyat embernya. Buat saya itu adalah komentar dari sudut pandang kacamata kuda.

Kalau Anda merasakan langsung pasti akan maklum. Dan nyatanya ospek UIN jauh dari perpeloncoan seperti terjadi di kampus lain. Karena yang ada bukan perpeloncoan tapi sebatas perebutan masa.

Budaya fanatisme organisasi di UIN baik yang berbendera biru, hijau atau merah memang sangat mencolok dan mendarah daging. Tidak heran kalau setiap momen PBAK sudah pasti memanas.

Saking fanatiknya sampai paranoid jika melihat sesuatu yang berwarna sama dengan bendera rivalnya. Dianggapnya sebagai kampanye terselubung.

Seperti pergantian warna jaket almet UIN yang tadinya berwarna biru gelap menjadi biru terang. Sebagian mereka yang menolak meluapkan ketidaksetujuan pergantian warna almet itu.

Puncaknya terjadi ketika rektor dan jajaran rektorat memasuki lapangan Triguna disamping gedung UiN 1 (selasa, 27-08) hari ke 2 PBAK. Luapan protes pun menggema dengan yel-yel “UIN-nya jadi UNPAM”.

Sebenarnya yel-yel itu hanya sebatas bentuk protes pergantian warna jaket almet yang dianggap warnanya sama dengan warna bendera salah satu organisasi ekstra kampus yang menjadi rival si penolak.

Baca juga:  Ketika Mahasiswa Terjebak pada Gaya Hidup, Nilai, dan Tuntutan Cepat Kerja

Namun cara protes yang kurang elegan dan cenderung ceplas-ceplos tanpa dipikirkan terlebih dahulu ternyata mengundang polemik yang lebih jauh.

Kini bukan hanya menjadi polemik internal mahasiswa UIN saja, kasus ini menjalar menjadi polemik antara dua kampus. UIN dan UNPAM.

Sebagai mahasiswa UIN saya berharap kasus ini diselesaikan di meja kopi saja tanpa harus ada pengerahan masa. Karena statement itu muncul dari oknum bukan dari jajaran Dema atau Sema UIN jakarta.

Terakhir, baik biru, hijau, ataupun merah semua adalah harmoni yang sama-sama menjunjung pancasila sebagai ideologi.

Jadi jangan habiskan energimu hanya untuk sibuk berseteru, Sementara di kejauhan sana. Bibit-bibit anti-Pancasila berkembang dalam sepi.

Maka bergeraklah setelah berhimpun!

100 %
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Fauzan A'maludin A'lam

Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan International Institute of Hadith Sciences Darussunnah
Fauzan A'maludin A'lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close