Ini 5 Lembaga yang Jadi Pusat Penyebaran Syiah di Indonesia

  •  
  •  
  •  
  •  

Datdut.Com – Syiah yang dianggap sebagai salah satu sekte terbesar di Republik Islam Iran memiliki peran penting dalam menyebarkan paham-paham ajarannya di seluruh negara Islam lainnya, termasuk Indonesia. Perdebatan terkait kapan awal mula Syiah masuk ke Indonesia pun tidak dapat diabaikan.

Peran Syiah dalam bidang politik dipaparkan oleh Yunus Jamil dan Hasymi bahwa sejak masa awal kedatangan Islam di Indonesia politik Sunni dan Syiah mengalamai pergumulan dan pertarungan untuk memperebutkan kekuasaan di Nusantara.

Kekuasaan politik Syiah tersebut di wakili dengan berdirinya Kerajaan Peurelak (Perlak) yang konon didirikan pada abad ke-8 Masehi. Pendiri kerajaan ini adalah para pelaut-pedagang Muslim asal Persia, Arab dan Gujarat (Zainudin dkk, Syiah dan Politik di Indonesia, hlm 9).

Terlepas benar atau tidak data tersebut. Toh, Syiah Indonesia sudah menjalar di berbagai pelosok Nusantara (Indonesia), dan bahkan banyak lembaga-lembaga Syiah yang sudah berdiri kokoh. Ini nih 5 Lembaga Syiah Besar di Indonesia:

Baca juga:  5 Pelajaran Berharga dari Valentino Rossi

1. ICC (Islamic Cultural Center) Pusat Kebudayaan Iran

Secara umum, setiap kedutaan besar di Indonesia memiliki pusat kebudayaan dan pendidikan. Program-program yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga semacam ini pun tidak jauh dari pameran pendidikan, musik, film, dan kuliner negara terkait.

Nah, ICC ini adalah Pusat Kebudayaan yang dimiliki oleh Republik Islam (Syiah) Iran.  Kalau kamu mau nyobain jadi Syiah, sehari aja, biar tahu Syiah itu sesat atau enggak, coba deh datang ke ICC yang beralamatkan Jl. Buncit Raya No.35, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

2. YAPI (Yayasan Pesantren Islam) Bangil

Lembaga ini adalah salah satu pesantren Syiah terbesar yang ada di Bangil. Yayasan YAPI (Yayasan Pesantren Islam di Bangil) ini didirikan oleh Husein al-Habsyi pada tahun 1976. Pesantren ini kemudian menjadi corong Syiah dan menjadi yayasan tertua di Indonesia.

Baca juga:  5 Bantahan untuk Buku "Ada Pemurtadan di IAIN/UIN"

Santri pada pesantren ini kemudian dituntut untuk mengkaji secara dalam aqidah Syi’ah. Untuk ‘mengimbanginya’, pesantren ini kemudian mempelajari buku-buku sunni, seperti buku mazhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hambali.

Redaksi

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga dan sudut pandang yang khas nan unik.
Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *