Ini 5 Argumen Wanita Haid Boleh Beraktifitas di Masjid

0 0
  • 55
  •  
  •  
  •  
    55
    Shares

Dibaca: 796

Waktu Baca3 Menit, 23 Detik

Datdut.Com – Menstruasi atau haid adalah sesuatu yang alamiah dialami oleh kaum hawa dalam waktu-waktu tertentu. Bahkan, justru ketika wanita tidak haid perlu konsultasi ke dokter, karena di khawatrikan terkena Amenorrhea. Literatur fikih klasik maupun kontemporer menyebutkan bahwa ada aktifitas yang haram di lakukan oleh wanita haid. Salah satu yang diharamkan adalah berdiam diri (al-mukts) di dalam masjid.

Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Tapi, mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum wanita menstruasi berdiam diri di masjid adalah haram, khawatir atau tidak, darah menetes di masjid bukan suatu alasan bagi mereka. Alasan diharamkannya itu ta’abbudi (irrasional), karena masjid tempat suci. Gitu doang sih, simpel. Nah, saya punya 5 argumen yang berbeda dengan pendapat mayoritas ulama di atas. Simak baik-baik ya kawan, khususnya kaum hawa.

1. Ada Ulama Yang Membolehkan

Saya mau menghadirkan argumen yang serius dulu, nih. Perhatikan dan baca dengan seksama! Pendapat Daud al-Dzahiri, Ibn Hazm, Muzanni, Abu Daud, Ahmad bin Hanbal,  Ibn Hazm, Mushtafa ‘Azami, Abu Ishak al-Huwaini dan lainnya. membolehkan wanita haid beraktifitas dalam masjid, bahkan mereka juga membolehkan orang junub. Pendapat tersebut berdasarkan penilaian mereka akan daifnya hadis yang dijadikan pegangan oleh mayoritas ulama.

Hadis tersebut dinilai daif oleh sekelompok ulama di atas, mereka adalah Ada dua faktor yang menyebabkan hadis ini dha’if; (1) dua orang perawi hadis tersebut yaitu Abu al-Khitab dan Mahduj tidak diketahui identitasnya (majhul al-hal); (2) Jisrah binti Dajajah. Walaupun ada beberapa ahli hadis yang men-tsiqah-kannya, seperti al-‘Ijli, Ibn Hibban, Ibn Khuzaimh, akan tetapi al-Huwaini menganggap mereka mutasahil dalam menilai hadis. Selain itu, terdapat hadis sahih yang menyatakan bahwa ada seorang budak perempuan hitam yang dibuatkan kemah di dalam masjid sebagai tempat tinggalnya, padahal sesuatu yang pasti terjadi bagi wanita adalah haid, akan tetapi Rasulullah diam saja, tidak melarangnya. (H.R.Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Baca juga:  Ini 5 Metode Mengkhatamkan Alquran

2. Meringankan Beban Psikologis Wanita

Imam Sya’rani memiliki teori takhfif (diringankan hukumnya) dan tasydid (diperberat hukumnya) dalam karyanya, Al-Mizan Al-Kubra. Teori takhfif dapat diterapkan sesuai dengan pemahaman, kultur, psikologis wanita tertentu. Bagi wanita yang merasa bahwa larangan wanita haid masuk masjid itu terlalu repot, berat dan sebagainya, karena aktifitasnya selalu berinteraksi dengan masjid, maka diperbolehkan baginya beraktifitas di masjid seperlunya. Saya juga pernah survei ke istri, saudara, dan beberapa teman wanita lainnya terkait beban psikologis larangan ini ketika mereka berada atau beraktifitas dalam masjid.

3. Yang Penting Darah Tidak Menetes

Dalam permasalahan haid ini,  mayoritas ulama lebih cenderung pada alasan irrasional, yaitu bahwa wanita yang sedang haid tidak boleh beraktiftas dalam masjid apapun alasannya, baik darah menetes di dalam masjid, maupun enggak. Mereka yang awam atau bahkan santri sekalipun, ketika mereka sedang datang bulan dan diundang dalam suatu acara yang diselenggarakan di masjid, seperti pelantikan organisasi dan lain-lain, secara terpaksa mereka harus mendatangi masjid tersebut. Hal tersebut saya kira termasuk darurat. Itu keyakinan saya. Kalian mau percaya atau tidak, terserah! Pada intinya, asalkan darah tdiak menetes, boleh-boleh saja beraktifitas dalam masjid.

4. Melakukan Hal Positif di Masjid

Saya juga percaya bahwa masjid itu adalah tempat suci. Namun, apakah kesucian masjid lantas berdampak pada pengekangan wanita untuk beraktifitas di dalamnya? Bukankah lebih baik wanita mendengarkan ceramah, berdiskusi, melakukan hal positif lainnya, sekalipun semua itu dilakukan dalam masjid? Nah, kalian perlu mempertimbangkan juga argumen ini. Memang benar, ceramah, diskusi tidak mesti di dalam masjid, tapi kalo kebetulan acaranya berada di dalam masjid bagaimana hayo? Coba pikirin sendiri, deh!

Baca juga:  Jangan Kau Tanya Kenapa Harus Ada Hari Santri, karena Aku Sudah Siap dengan 5 Alasan Ini

5. Berdasarkan Survei

Saya pernah mengajar fikih wanita pada teman-teman kampus saya. Saya juga melakukan survei pada satu persatu murid saya terkait permasalahan waktu haid. Ceritanya sih, saya pengen kayak imam Syafii menerapkan metode istiqrâ’ (induktif) dalam menentukan permasalahan haid, hehe. Saya merasa bahwa wanita sudah sangat terbebani dengan nyeri saat haid, rasanya kok larangan aktifitas di dalam masjid menambah nyeri mereka. Ketika saya tunjukkan pendapat ulama yang membolehkan, mayoritas mereka terlihat senang dan tidak ragu lagi mengikuti ulama yang membolehkannya. Namun, dari semua pendapat di atas, saya hanya bisa mengakhiri dengan ucapan Wallahu a’lam.

(Editor : Neng Irin)

harisIbnu Harish – Peneliti Pusat Penerjemahan Alquran dan Hadis (PPQH)

Fb : Ibnu Harish

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Redaksi
  • 55
    Shares

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *