Paham

Wacana Khilafah di Dunia Maya Dikuasai Kelompok Anti-Pancasila

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, tentu menjadi pasar terbuka dan menjanjikan dalam pemanfaatan internet sebagai sarana ekspresi baru seseorang atau kelompok untuk menunjukkan eksistensinya.

Apalagi pada saat yang hampir bersamaan masyarakat Indonesia baru saja menikmati kebebasan berserikat dan menyatakan pendapat setelah tumbangnya rezim otoriter dan bergulirnya orde reformasi.

Oleh karena itulah, kelompok-kelompok Islam baik yang moderat, radikal, maupun liberal, memanfaatkan internet tidak hanya untuk menunjukkan eksistensinya, tetapi juga sekaligus sebagai wahana memasarkan gagasan dan ide yang diusungnya, termasuk melakukan serangan balasan terhadap kelompok lain yang berseberangan.

Isu-isu yang diusung itu tidak hanya yang berhubungan dengan problematika masyarakat Muslim di Indonesia, tetapi juga masyarakat Muslim di belahan dunia lainnya. Bahkan, sebagian isu diimpor dari tempat lain.

Hal ini biasanya dilakukan oleh kelompok atau organisasi Islam transnasional. Perkembangan paling mencengangkan soal ini, belakangan isu yang berkembang pesat di dunia maya justru didominasi oleh kelompok radikal.

Salah satu isu yang berkembang cukup dominan di dunia maya adalah model negara Islam versi khilafah. Inilah yang menjadi fokus penelitian Dr. Moch. Syarif Hidayatullah, Elve Oktafiyani, M.Hum, dan Ibnu Harish.

Tim peneliti dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengangkat tema “Cyber Islam di Indonesia: Perang Ideologi NKRI dan Khilafah di Dunia Maya”. Penelitian ini sendiri dibiayai oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Kementerian Agama RI.

Diktis sendiri memang setiap tahun membuka kesempatan seluas-luasnya pada dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) untuk mendapatkan dana penelitian baik di tingkat nasional maupun internasional.

Bahkan mulai tahun ini sesuai amanat UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang pendidikan tinggi, Diktis mengamanatkan kepada pengelola perguruan tinggi untuk mengalokasikan 30 persen anggaran untuk penelitian.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Syarif dkk. ini dapat dikatakan penelitian rintisan, karena tema ini masih jarang dilirik oleh para peneliti dalam negeri. Padahal tema ini sudah menjadi subdisiplin ilmu tersendiri di luar negeri.

Baca juga:  Wahai Kaum Terpelajar! Adillah Sejak di Alam Pikiran hingga Perbuatan

Bahkan, jurnal yang khusus membicarakan tema ini pun sudah ada. Dari penelitian tersebut dihasilkan 5 temuan berikut:

1. Situs yang Terlibat Perang Wacana

Ada 3 situs yang terlibat dalam perang wacana terkait isu khilafah. Masing-masing situs ini mewakili kelompok moderat, radikal, dan liberal dalam konteks Islam di Indonesia.

Ketiga situs itu: (1) situs hizbut-tahrir.or.id mewakili kelompok Islam radikal yang memperjuang-kan sistem khilafah; (2) situs islamlib.com mewakili kelompok Islam liberal yang menolak dengan keras isu khilafah; (3) situs nu.or.id mewakili kelompok Islam tradisional-moderat terkait isu khilafah.

2. Situs NU Berseberangan dengan Situs HTI 

Berdasarkan analisis topik, diketahui bahwa situs NU dan situs HTI mempunyai kecenderungan selalu berbeda dalam menyikap isu ideologi khilafah. Isu yang diangkat cenderung berseberangan. Hasil pengolahan dan analisis data diketahui, situs JIL ternyata tidak banyak menurunkan berita dan artikel terkait dengan isu khilafah.

Meskipun ini tidak berarti pengelola situs islamlib.com mengabaikan dan tidak fokus dalam merespons isu-isu yang ada seputar khilafah. Ini bisa dipahami karena situs JIL memang dibuat tidak hanya untuk menanggapi isu ini.

Ini juga tidak berarti situs ini tidak membicarakan isu khilafah. Berdasarkan hasil pengolahan data, diketahui situs JIL cukup banyak membicarakan isu khilafah, namun dilakukan secara sporadis, tidak ada fokus yang hendak dicapai selain penolakan terhadap sistem khilafah.

3. Dominasi Situs HTI dalam Perang Wacana Khilafah

Masing-masing situs juga berbeda dalam kadar dan intensitas pemberitaan. Dalam analisis wacana dunia maya, jumlah menandakan fokus dari pengelola situs. Semakin banyak dan semakin sering isu atau topik tertentu diangkat, maka semakin tinggi perhatian pengelola situs itu terhadap isu tertentu.

Secara umum, situs HTI lebih banyak dan lebih beragam dalam mengembangkan wacana ideologi khilafah. Ini karena memang situs HTI mempunyai misi utama untuk mengkampanyekan ideologi khilafah dan menangkal semua pandangan yang berbeda. Ini sekaligus memberi pesan bahwa kelompok HTI serius menggarap isu ini, paling tidak dalam kurun 2011-2015 yang menjadi kurun waktu penelitian ini.

Baca juga:  5 Keunggulan Buku "Ibadah tanpa Beban"

4. Enam Isu Besar dalam Perang Wacana Khilafah

Dari analisis topik pula dapat diketahui ada 6 (enam) isu besar yang digunakan oleh ketiga situs ini terkait ideologi khilafah. Pertama, khilafah adalah solusi. Kedua, khilafah dan demokrasi. Ketiga, khilafah dan NKRI. Keempat, khilafah dan penerapan syariah Islam. Kelima, khilafah dan ISIS. Keenam, khilafah utopis dan hanya mitos.

Dalam upaya pengarusutamaan paham agar menjadi ideologi masyarakat, masing-masing situs memasang nama beberapa tokoh untuk mendukung isu yang dikembangkannya.

5. Alat Wacana dalam Ideologisasi 

Yang dimaksud alat wacana di sini adalah perangkat yang dipergunakan untuk mengembangkan wacana, seperti fungsi, gaya bahasa, pemanfaatan jenis makna. Terkait fungsi wacana yang dikembangkan oleh ketiga situs, masing-masing secara umum sama-sama memanfaatkan fungsi direktif dan fungsi referensial pada ideologisasi.

Terkait gaya bahasa yang dipergunakan oleh ketiga situs ini, terlihat bahwa gaya bahasa bersifat persuasif lebih dominan daripada yang bersifat naratif. Makna yang dikirimkan mayoritasnya berupa gaya bahasa langsung. Makna denotatifnya pun lebih kental daripada makna konotatif. Pada beberapa judul terlihat lebih lugas dan cenderung provokatif.

Hal ini memang yang sering ditemui dikembangkan oleh para pengelola media online, karena dengan cara ini biasanya mereka bisa memudah mendatangkan pengunjung dan memancing para pembacanya untuk men-share konten yang di-publish.

Measha

Measha

Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ibu rumah tangga yang menggemari film korea dan martabak manis juga pesmol gurame.
Measha