Viral! Pak Kapolri, Polisi Puncak Ini Kok Arogan Banget dan Main Ancam, Ya?!

0 0
  •  
  •  
  •  
  •  

Dibaca: 1118

Waktu Baca4 Menit, 24 Detik

DatDut.Com – Yang sering liburan di kawasan Puncak Bogor-Cianjur, tentu akrab dengan kemacetan. Di tengah kemacetan itu biasanya para pengendara sering menyaksikan polisi-polisi di kawasan wisata tersebut yang lebih sibuk mengurusi pengawalan mobil-mobil tertentu.

Perlu diketahui, bukan mobil pejabat atau orang penting, tapi biasanya pengawalan mobil-mobil mewah yang disebut-sebut berbayar. Mereka lebih sigap melakukan pengawalan daripada mengurai kemacetan. Biasanya para pengendara hanya bisa mengelus dada dengan apa yang disaksikannya.

Tak jarang arogansi berlebih, disaksikan langsung para pengendara ketika mereka dibiarkan bermacet-macet ria, eh polisinya malah sibuk melakukan pengawalan dan bahkan melawan arah.

Mohon hal-hal seperti ini juga menjadi perhatian Pak Kapolri. Pak Tito mohon tidak hanya disibukkan dengan masalah pengamanan penista sampai lupa tugasnya yang lebih pokok. Kalau Kapolri ingin jajaran kepolisan mendapat kepercayaan luas dari masyarakat, lakukan sesuai prosedur hukum tanpa pandang bulu dan berantas hal-hal yang di luar kewajaran.

Inilah yang kemarin dialami oleh Ihsan Amaludin, pemilik salah satu klinik di Purwakarta. Pengalaman tidak menyenangkan karena diancam oleh polisi di hadapan istri dan anak-anaknya, juga keluarga besarnya.

Ia menuangkan hal itu di akun Facebooknya dan dalam waktu singkat langsung jadi viral. Hingga tulisan ini dibuat, protes Ihsan disukai lebih dari 30 ribu orang dan dibagikan kepada 32.464 orang. Berikut protes Ihsan Awaludin di akun Facebooknya:

Diancam polisi di jalan raya cipanas, puncak, sabtu 4 Februari 2017.

Siang sekitar pukul 14.30 sy bersama keluarga (4 mobil) bergerak dari arah jakarta ke puncak.
Sy mengendarai mobil innova putih bersama istri dan anak2 saya (11thn, 8thn, 3thn) seorang ponakan (6thn) dan seorang ART.

Dalam kemacetan menuju arah puncak ada sebuah mobil alphard hitam berplat B, menyusul saya dikawal oleh seorang forerider polantas bernomor kendaraam BM 11. Setelah berlalu beberapa saat, sy melihat mobil2 bergerak kearah bahu jalan di kiri seakan ada mobil yg mogok di jalur saya.

Sy pun mengikuti kendaraan lain melipir kebahu jalan dan melihat ternyata forerider yg tadi menyusul saya, tengah berhenti di tengah jalan, sehingga menghalangi kendaraan lain dibelakangnya..

Setelah sy melewati polisi tersebut, sy memotret kondisi lalu lintas yang menjadi semakin macet karena ulah forerider itu dengan menggunakan kamera handphone sy.

Kemudian saat polisi tsb mengetahui sy melakukan pemotretan, dia memotret balik kendaraan saya dengan HP-nya kemudian menghampiri kendaraan saya dan mengetuk kaca mobil.
Sy pun menurunkan kaca mobil dan terjadi pembicaraan sbb:
(P=polisi, S=saya, I=istri)

P: “mengapa anda tadi memotret saya? Tidak boleh memotret tanpa ijin.”

S: “Sy memotret kondisi jalan raya, sy tidak khusus memotret anda”.

P: “Sy mau lihat SIM dan STNK!” (Nada nya mulai tinggi).

S: “Untuk apa ya pak? Apa kesalahan saya sehingga bapak mau lihat SIM & STNK?”

P: “Anda harusnya tidak memotret saya tanpa ijin!”

S: “Baik, kalau begitu saya minta disebutkan sy melanggar perundangan apa, pasal berapa?”

P: “Daripada saya kempeskan ban mobil anda!” (Nada-nya semakin tinggi)

S: “Wah, kok jadi mengancam begitu? Sy hanya meminta disebutkan kesalahan saya melanggar pasal berapa?”

“Bunda!” (sy bicara pada istri sy disebelah sy) “rekam ini polisi yang mengancam2!”.

Kemudian polisi itu berteriak sangat keras, dengan ekspresi pemain sinetron terkenal didepan wajah saya..

P: “Mana SIM dan STNK!!!”

S: “Jelaskan dulu, apa kesalahan saya?”

Kemudian polisi itu menunjuk2 wajah saya dengan keras, sehingga melukai mulut saya dengan kuku-nya sambil berkata kurang lebih sebagai berikut:

P: “Sudah pintar kamu ya, pintar!”

Istri saya kemudian berkata kepada polisi tsb:

I: “Pak, jangan kasar begitu, disini banyak anak2”.

Saya kemudian bermaksud keluar dari mobil, namun setelah pintu terbuka didorongnya pintu mobil saya oleh polisi tsb sehingga tertutup kembali dengan keras.

Dia masih membentak2 yang saya lupa apa yg dikatakan-nya, namun sepersekian detik kemudian bbrp anggota keluarga saya dari mobil lain mulai berdatangan.

Kakak ipar sy yg wanita mencoba melerai dengan menarik tangan polisi tsb dan bicara baik2, namun polisi itu mendorong-nya sehingga terjadi saling dorong antara polisi tsb dan keluarga yang bermaksud melerai. Sampai akhirnya sy bisa keluar dari mobil.

Merasa terkepung, polisi itu kemudian berkata: “kalau berani jangan keroyokan!”

Diapun bergegas menuju motor-nya sambil mendorong saya cukup keras dan hampir memicu keributan kembali.

Dan kemudian dia pergi, kembali mengawal mobil alphard hitam berpelat B tsb.

Untuk saya pribadi, ini adalah bukti arogansi aparat sekelas polantas.
Sy tidak bisa bayangkan jika aparat dengan pangkat dan jabatan yg lebih tinggi(?)

Secara klise akan dikatakan mereka adalah “oknum”.
Tapi sepanjang pagi di perjalanan menuju puncak, para “oknum” ini banyak berlalu lalang mengawal moge2 atau mobil2 mewah yg menyewa mereka.

Moge2 itu bahkan diistimewakan dengan dikawal melawan arus saat lalu lintas padat.

Pertunjukan “money above the law” ini dengan lantang berkata:
“semua harus antri, KECUALI YANG MAMPU BAYAR FORERIDER”.
Yang ga mampu bayar MINGGIR!!

Sy dengan sengaja memotret kondisi lalu lintas yg menjadi semakin macet dengan berhenti-nya forerider di tengah jalan saat itu, namun respon polisi itu sangat tidak etis.
Polisi itu berlaku kasar, membentak, melukai dan mengancam. Dia berani melakukan-nya didepan keluarga saya dan didepan umum.

Maka dapat dibayangkan bagaimana perlakuan mereka pada seorang terduga pelanggar yg ada ditempat tertutup?

Mudah2an semua bisa ambil pelajaran dari apa yg saya dan keluarga saya alami hari ini.

Namun satu yang pasti, kepolisian RI telah sekali lagi menyakiti masyarakat tanpa sebab dan kembali kehilangan kepercayaan kami, masyarakat Indonesia, sebagai pemegang kedaulatan dan pembayar pajak di negeri ini.

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Redaksi
Baca juga:  Nggak Paham Makna Nisbah, Stiker “Nariyah = Pengikut Neraka” Dibully Nitizen

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

2 thoughts on “Viral! Pak Kapolri, Polisi Puncak Ini Kok Arogan Banget dan Main Ancam, Ya?!

  1. Selamat siang pa Ikhsan Awaluddin…saya telah baca info berita bapak…dan saya juga sering ketemu dgn petugas lalu lintas tsb kalo di situs lain bapak sebitkan namanya tapi disini pak tdk sebutkan namanya…saya sering ke Puncak bolak balik kearah sana pak Ikhsan Awaludin….kalau boleh saya kasih saran sebaiknya bapak jangan terpancing situasi dan mungkim dilain waktu bisa untuk pembelajaran…lain kali ikuti saja arahan petugas…saya dan beliau tdk saling kenal hanya saya sering jumpai beliau di jalanan puncak….di Simpang gadog juga….mungkin kalau lagi dijalan kita jangan terlalu terpancing situasi yg tdk bikin nyaman…saya juga sering mengalami…kalau boleh kasih saran ya pak…mungkin bapak situasi sdg liburan bersama keluarga…tapi kita sendiri tdk tahu situasi yg dialami beliau sepanjang karir beliau di Puncak…sudah berapa hari beliau atur jalan di Puncak…mungkin pak Awaludin ketemu polisi tsb 1 orang saja…tapi polisi tsb ketemu dan atur mobil sudah dari hari apa kita tdk tahu apakah kerja mulai pagi ataukah bapak itu sdh bbp hari belum sempat pulang krn tugas perintah pimpinan bertumpuk…setahu saya juga petugas lapangan semacam beliau jika bukan perintah pimpinan beliau tdk akan mungkin kawal mobil mobil khusus…memang hati kita kesel pak..liat mobil2 mewah bersliweran ditengah kita antri ria….tapi kita ambil sisi positif nya pak awaludin…krn saya sering ke Puncak urusan pekerjaan jadi kalau ada petugas kawalan tsb kita bisa ikuti rombongan kawal…dan alhamdulillah sepanjang skill kita mumpuni dalam hal safety driving ditengah kemacetan dan kita mengedukan kendaraan kita smooth tdk senggol pengendara lain petugas tsb fine fine aja…mereka diam saja….kalaupun mereka twgor kita kasih senyuman pak…mohon maaf pa Awaludin…saya rasa jika mereka dikasih pilihan saat ini untuk ganti posisi mereka mau spt pa awaludin yg mohon maaf akhor pekan bisa ajak keluarga jalan jalan….kembali ke perilaku beliau mungkin beliau kecape an dan khilaf…ini juga mungkin peer bagi pihak kepolisian juga saya rasa…tapi melihat situasi saya yg sering ekorin kawalan dan tanpa bayar hehehehe…spepanjang bisa ikuti ya mereka fine fine aja liat aja pak kalo di tol jam jam sibuk pagi dan sore…keael tapi ambil positip nya saja pak awaludin…..semoga ini bisa buat masukan kepolisian juga…institusi tdk pernah ajarkan pisi bentak penduduk sipil….hanya situasi tekanan pekerjaan dan istirahat kurang bisa bikin situasi tdk terkendali…terima kasih pa awaludin

    1. Saya kasih saran..jika ambil liburan ke Puncak sebaiknya ambil hari Senin ss rabu saja pak…agak susah tapi ya memang.kondisi Puncak sdh tdk bosa ditambah lagi….dari jumat sampai Minggu sore sdh pemandangan biasa liat mobil parkir di sepanjang tol…dan saya heran….dari tahun ke tahun pengunjung Puncak tdk bosen bosen parkir di tengah jalan tol spt itu…harus dicari jalan keluar mungkin pak…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *