Utari – Bagian 1

  • 56
  •  
  •  
  •  
    56
    Shares

DatDut.Com – “Sudah jalani saja, Ut,” kata ibu mencoba menenangkan aku, meski ia sendiri tidak setenang raut wajahnya.

Hari ini adalah hari pernikananku dengan Mas Dimas. Hari di mana semestinya aku bahagia akan hidup bersama lelaki yang kucintai dan mencintaiku.

Tapi, apa betul ini bisa disebut dengan cinta? Mungkin iya, cinta buta. Seperti Laila dan Majnun, Si Qais. Cinta menjadikan keduanya menderita tiada tara.

Aku tersedu, tangisku pecah seketika. Bagaimana bisa orang yang kucintai dan mencintaiku tidak bisa menjaga kehormatanku? Dan aku mau dengan begitu saja.

Sebenarnya keluarga Mas Dimas tidak menerima kehadiranku. Kecuali Mas Dimas dan Pak Leknya.

Aku hamil.

Tidak ada alasan lagi bagi keluarga Mas Dimas untuk menolakku menjadi bagian dari keluarganya. Meski sebenarnya banyak yang tidak menyukaiku, termasuk sang ibu.

Mereka harus rela dengan pernikahanku. Bisa dibilang dengan terpaksa. Untuk menutupi aib kami.

Entah setan apa yang merasukiku, sampai-sampai aku nekat mengambil jalan pintas dengan cara salah seperti ini.

Aku dan Mas Dimas sengaja melakukannya supaya bisa menikah dan hidup bersama.

Baca juga:  Singgah di Bulan (Cerpen Syarif Hade) – Bagian 2

Kami saling mencintai. Berpikir ini jalan satu-satunya yang bisa kami tempuh. Konyol. Tapi nasi sudah menjadi bubur.

Tidak semestinya aku menikah dengan lelaki yang merenggut harga diri dan kehormatanku. Dengan alasan cinta.

Bukankah seharusnya cinta itu saling menjaga. Agar tidak timbul malapekata.

**

“Gimana, kamu sudah siap?” tanya kakakku. Aku mengangguk. Tidak enak.

Kakakku adalah orang yang paling menyayangiku setelah ibu. Dia yang selalu menasehatiku meski hanya melalui telepon.

Aku harus pandai-pandai menjaga harga diri, katanya. Tidak murahan. Dengan begitu seorang perempuan punya nilai. Rating tinggi.

Aku belum bisa menjadi adik yang baik. Semua nasehatnya tidak ada yang kuhiraukan.

Hingga di hari pernikahanku, kakak pun hadir. Datang jauh-jauh dari kota seberang. Ingin melihat adiknya menikah. Adik yang disayanginya.

Sebenarnya kakak tidak setuju juga dengan Mas Dimas dari awal aku cerita. Ia pun terpaksa rida karena kesalahanku.

Aku ingat betul. Bagaimana di telepon ia menangis sejadi-jadinya. Marah. Marah karena cinta. Nasihat-nasihat keluar dari mulutnya tiada henti. Aku menangis. Minta maaf.

Kakak kecewa dengan apa yang telah kuperbuat. Padahal hampir tiap hari ia selalu mengingatkan aku dengan penuh kasih sayang.

Baca juga:  Singgah di Bulan (Cerpen Syarif Hade) - Bagian 1

Ia bilang, kalau memang keluarga Mas Dimas tidak restu ya sudah. Lagipula Mas Dimas usianya juga masih muda. Hampir seumuran denganku. Kuatir nanti belum bisa bertanggungjawab sepenuhnya.

Kupikir ini hanyalah kekuatiran seorang kakak. Seorang lelaki yang sudah menikah sudah seharusnya mengerti akan tanggungjawabnya, pikirku. Meski usia Mas Dimas beberapa bulan lebih muda dariku, aku yakin dia bisa menjadi pemimpin yang baik. Walau kami memulainya dengan cara yang salah.

Bagaimana tidak? Kami seorang pezina.

Dengan pernikahan ini, aku harus bersyukur atau menyesal? Harus bahagia atau sedih? Sementara telah tumbuh janin dalam rahimku.

Inilah aku, Utari. Tidak akan lama lagi menjadi istri dari orang yang kucintai dan mencintaiku. Pun akan menjadi seorang ibu, mungkin setelah enam bulan pernikahan kami dari hari ini.

Komentar

Windarti

Ibu rumah tangga yang nyambi jadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Terbuka.

Latest posts by Windarti (see all)

  •  
    56
    Shares
  • 56
  •  
  •  

One thought on “Utari – Bagian 1”

  1. Ping-balik: Utari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *