Utari – Bagian 2

  • 17
  •  
  •  
  •  
    17
    Shares

DatDut.Com – “Kak Lis, apa pernikahanku sah? Aku kan hamil sebelum nikah.”

“Sah.” Jawabnya singkat sekali.

Kakakku, Lisa, sepertinya masih enggan bicara. Mungkin masih sedih karena cintanya tidak kubalas dengan cinta. Dia mencintaiku melebihi cintanya pada diri sendiri.

Sampai rela melepas keinginannya untuk melanjutkan sekolah demi menyekolahkan aku, adiknya.

Kak Lisa telah banyak berjuang untukku, tapi aku belum bisa menjadi seperti yang ia harapkan.

Suatu saat, entah kapan. Mudah-mudahkan aku dapat melebarkan senyumnya.

***

Hari menjelang sore, saat penghulu selesai memimpin akad nikahku dengan Mas Dimas, cinta pertamaku.

Hati perempuan mana yang tak girang jika menikah dengan lelaki pujaan hatinya? Sementara aku juga harus melihat kesedihan dari wajah-wajah keluargaku, terlebih ibu.

Entah sedih karena aku hamil atau sedih karena aku akan segera pergi dan tinggal bersama suamiku. Entahlah. Aku belum berani banyak berkata-kata kepada ibu.

Ibu selalu bilang, semoga aku bisa seperti Dewi Utari. Yang sangat bakti kepada orangtua. Maka, aku dinamainya Utari.

Tapi apa yang telah kuperbuat. Aku membuatnya sedih. Malu. Dan menangis.

Aku telah mencoreng nama baik keluarga.

***

“Ut!” panggil Kak Lisa.

” Jika anakmu lahir lebih dari enam bulan sesaat setelah pernikahanmu, nasabnya bisa ikut bapaknya kok. Tapi jika kurang, ikut kamu.”

Baca juga:  Mungkin Karena Kita Berjodoh

Kak Lisa buka mulut. Aku tahu, ia masih peduli. Dia masih cinta. Setelah apa yang aku lakukan.

“Aku tahu dari temanku yang lebih ngerti,” imbuhnya.

Aku bersyukur punya kakak seperti Kak Lisa. Bagaimana pun aku, dia tetap berupaya mendukungku. Meski mungkin dia masih diselimuti duka.

Bukan duka karena aku dahului menikah. Tapi duka karena alasan aku menikah.

Memang aku salah. Aku mudah sekali dihasud oleh setan. Menikah dengan cara yang salah dan tak disukai Allah. Harus kutebus dengan apa semua ini?

Mas Dimas pun berkali-kali minta maaf selepas pernikahan kami. Dia mengaku salah, khilaf telah melakukan semuanya.

Di kamar. Dipeluknya aku dengan penuh kasih. Cinta. Sebenarnya apa yang telah kami perbuat? Kami saling mencintai, tapi kenapa harus melalui jalan seperti ini?

“Mas, kamu betul sayang sama aku, kan? ” ucapku menyelidik.

Aku kuatir. Takut. Kalau sebenarnya Mas Dimas cuma mempermainkan aku. Jika iya. Kenapa dia mau bertanggungjawab, dan menikahiku?

“Aku sayang kamu, Dik.” Ia tersenyum. Menatapku lekat.

“Sehari lagi, kita tinggal bareng orangtuaku ya?”

Aku mengangguk. Kubayangkan rupa satu per satu anggota keluarga Mas Dimas. Yang menyukaiku dan tidak menyukaiku. Seperti ibunya. Ibu mertuaku.

Pasti beliau begitu benci pada menantunya ini.

Baca juga:  Singgah di Bulan (Cerpen Syarif Hade) – Bagian 2

Menantu yang sejak awal tidak diharapkan hadir dalam hidup anak lelaki satu-satunya. Mas Dimas.

Menantu yang menjerumuskan putranya dengan modal cinta masuk ke dalam lembah dosa.

Menantu yang sudah merenggut putra kesayangaannya. Padahal beliau ingin Mas Dimas fokus kerja dan mengurus adiknya yang masih sekolah. Sebab sang ibu hanya seorang diri. Sedang jauh sebelum aku mengenal Mas Dimas, bapak mertua sudah tiada.

Sehari lagi. Ketika aku tinggal bersamanya, apa beliau mau memberi maaf dan menerimaku? Apalagi dengan keadaanku seperti sekarang ini. Aku telah mengandung calon cucunya.

Aku tahu. Dengan mengandung, bukan berarti ibu mas Dimas mau menerima aku sebagai menantunya. Tapi, kuharap beliau mau menerima cucunya ini. Cucu yang masih berjuang tumbuh dalam rahim.

“Kuat ya, Nak. Semoga nenek mau menerimamu,” ucapku dalam hati.

Kuelus perutku yang belum membesar. Berharap janin di dalam rahimku ini mengerti dan mendengar doa yang kuselipkan dalam hati dan pikiranku.

Tak terasa air mataku menetes. Rasanya, membayangkan saja aku tak sanggup. Bagaimana dengan menjalani semuanya nanti? Aku tak berpikir sampai sejauh ini.

“Kenapa, Dik? Kenapa kamu menangis?”

Tetiba Mas Dimas membuyarkan semua lamunanku. Aku menggeleng. Belum mampu menjelaskan uneg-uneg yang telah menggangguku.

Komentar

  •  
    17
    Shares
  • 17
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *