Ustaz, Brand, dan Diksi

  • 72
  •  
  •  
  •  
    72
    Shares

DatDut.Com – Beberapa hari ini netizen dikejutkan dengan dua hal terkait materi dakwah seorang ustaz. Pertama, kriteria kesalehan seorang wanita yang dikaitkan dengan berat badannya. Kedua, diksi yang dipakai sang ustaz ketika mendeskripsikan tentang Nabi Musa, Nabi Muhammad, dan istri-istri Nabi.

Terkait yang pertama, memang bisa saja ini hanya lelucon dalam berdakwah saja. Namun, agak sembrono juga membuat lelucon yang tidak perlu seperti itu. Apalagi tidak ada argumen berdasarkan dalil baik dari Alquran, hadis, maupun pendapat ulama yang terdapat di literatur keislaman.

Nah, terkait yang kedua ini memang agak menyedihkan. Meskipun sudah diberikan klarifikasinya oleh sang ustaz, namun klarifikasi itu tidak menjawab persoalan. Tetap saja menyisakan berbagai persoalan dalam klarifikasi itu.

Menurut saya, sang ustaz tak perlu membuat klarifikasi, karena yang dibutuhkan publik adalah permintaan maaf dan pengakuan dari sang ustaz bahwa dia sudah keliru memilih diksi dalam menjelaskan dan mendeskripsikan Sirah Nabawiyah. Ada persoalan adab yang dilanggarnya.

Persoalan diksi ini kerap kali menjadi masalah bagi banyak dai. Sebelumnya ada dai yang materi dakwahnya menjadi viral karena menyebut di surga ada “pesta seks”. Beberapa hari ini netizen juga mempersoalkan penyebutan Nabi Musa a.s. sebagai “preman”.

Baca juga:  Jangan Silau dan Terperdaya Oleh Para Penjual "Islam" dan "Kesalehan"

Pada bagian lain ceramahnya, sang ustaz juga menyebut ada “geng-gengan” dalam kehidupan rumah tangga Nabi bersama istri-istri Nabi. Bahkan, menyebut Khadijah dengan panggilan “DJ”. Ini tentu sudah melampaui batas akhlak, terutama bagi seseorang ustaz yang menurut pengakuannya pernah kuliah di kampus terkemuka di Mesir.

Caranya dalam menceritakan Sirah Nabawiyah, seperti yang bisa dilihat di video-video yang beredar, cukup mengagetkan serta membuat terperangah dan terhenyak. Ini soal adab pada Nabi, keluarga Nabi, juga nabi-nabi terdahulu. Apa pantas menceritakan Nabi beserta keluarganya, juga nabi-nabi terdahulu, dengan mengabaikan adab kepada mereka?!

Di sinilah letak persoalan utamanya. Sang ustaz seperti sengaja mengabaikan kehati-hatian dalam memilih diksi. Padahal, ini terkait dengan pribadi-pribadi mulia dan dimuliakan dalam ajaran dan tradisi Islam.

Sang ustaz seperti terjebak pada “brand” sebagai “ustaz gaul” yang disandangnya. Maka, ia pun terlihat menyesuaikan diri dengan brand dan label itu. Setidaknya terlihat dari gayanya berbusana dan caranya menyampaikan ceramah. Ini pula yang akhirnya berimbas pada diksi yang dipilihnya dalam berceramah.

Akhirnya, ia terjebak dalam takalluf (memaksakan diri) dengan brand yang menjadi mereknya itu. Karena bila brand itu yang menentukan gaya ceramahnya, maka mau tidak mau itu akan mengarahkannya untuk sesuai dengan brand itu.

Baca juga:  Ketika Goenawan Mohamad Pun Tak Kuasa Menahan Diri Sebar Hoax

Inilah yang membuat dakwah akhirnya terjebak pada kemasan, bukan pada bagaimana ia menempelkan nilai-nilai dalam hati yang akhirnya menunjukkan orang ke jalan yang diridai Allah Swt.

Meski pada akhirnya kita perlu menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna, termasuk juga ustaz. Ustaz juga bukan nabi yang terbebas dari salah dan dosa. Karenanya, bila ada seorang ustaz yang melakukan kesalahan, perlakukanlah secara proporsional sesuai kesalahan.

Tak perlu berlebihan membela dan tak perlu juga berlebihan dalam mencela, apalagi sampai mengkafirkan tanpa paham duduk persoalan. Perlu diingat bahwa kalau hanya prinsip adab yang dilanggar, tak serta-merta membuat seseorang menjadi “kafir”.

 

 

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

  •  
    72
    Shares
  • 72
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *