Ternyata Ushul Fikih Punya Cara Memastikan Suatu Berita Hoax atau Tidak

DatDut.Com – Kita yang hidup di era media sosial seperti ini sering kali dipusingkan dengan berita atau informasi yang berseliweran di beranda atau timeline medsos kita. Kita kadang bingung apakah berita-berita yang dimuat oleh berbagai media atau dishare teman medos kita itu bisa dibuat pegangan atau tidak, hoax atau fakta?

Dalam kajian Usul Fikih, terdapat beberapa kriteria dan batasan untuk mengetahui kebenaran berita. Ada berita yang harus dibenarkan tanpa keraguan dan pasti benarnya, yang disebut dengan istilah mutawatir. Ada berita yang kemungkinan besar kebenarannya, yang disebut khabar shadiq. Ada berita yang kemungkinan kecil kebenarannya dan mendekati hoax. Ada pula berita yang pasti hoaxnya dan harus ditolak tanpa keraguan, yang disebut khabar kadzib. Masing-masing punya kriteria dan syarat tersendiri.

Khusus terkait berita yang pasti hoaxnya, dalam kajian Usul Fikih terdapat 6 (enam) kriteria untuk mengetahui dan memastikannya. Pertama, berita yang memuat informasi tentang suatu peristiwa atau kejadian umum dan tidak ada orang lain atau situs lain yang mengabarkannya. Hanya satu situs atau satu orang saja yang mengabarkannya. Kabar yang dimuat oleh satu situs atau satu orang tentang kejadian atau peristiwa umum tersebut bisa dipastikan hoaxnya. Kenapa? Karena jika suatu peristiwa atau kejadian itu sifatnya umum, diketahui oleh masyarakat luas, pastilah banyak orang atau situs lain yang meliputnya.

Misalnya, ada satu situs media yang menayangkan kabar berita bahwa sedang terjadi kecelakaan bis di suatu lokasi terbuka hingga bis tersebut terbakar dan banyak penumpang yang meninggal. Setelah kita cari sumber lain dan media lain, kita tidak menemukan sama sekali berita yang sama dengan berita yang dimuat tersebut. Atau kalau pun ada cuma kopasan belaka. Berita tersebut adalah berita yang bisa divonis jelas hoaxnya. Karena, jika memang benar kabar tentang peristiwa tersebut yang terjadi di tempat umum dan pasti diketahui oleh banyak orang, pastilah reporter dari berbagai media, atau orang-orang lain akan mengabarkan kabar tersebut pula. Namun terkait kriteria ini ada sebagian kecil ulama yang mengatakan tidak pasti hoaxnya, karena ada sedikit kemungkinan dalam kebenarannya.

Baca juga:  Kenali 5 Ciri Pembeda antara Pesantren Salaf, Modern, dan Salafi

Kedua, berita atau informasi yang memuat hal yang kontradiktif dan tidak masuk akal. Misalnya, ada orang yang bercerita, memuat berita, atau kita membaca suatu tulisan yang mengatakan bahwa ada manusia atau hewan yang tidak mati dan tidak hidup, atau tidak bergerak dan tidak diam. Berita seperti ini kita bisa langsung memvonis kebohongannya, karena kedua sifat tersebut tidak bisa hilang bersamaan dan tidak bisa muncul bersamaan.

Ketiga, berita yang harus ditolak setelah melalui sedikit penelitian. Misalnya adalah ucapan para ahli filsafat yang mengatakan bahwa alam semesta ini sudah ada tanpa diciptakan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Setelah kita teliti dan amati, alam semesta ini adalah semuanya bergerak. Matahari, rembulan, bumi, semuanya kadang menghilang. Dari sini kita bisa mengetahui dan memastikan bahwa ucapan filosof tersebut adalah ucapan tak berdasar dan hoax.

Contoh lain adalah teori Darwin yang menyebut bahwa manusia itu bernenek moyang kera. Setelah kita amati terus-menerus asal manusia dan kita mengetahui bahwa ayahanda dan ibunda dari semua manusia adalah Nabi Adam dan Ibunda Hawwa. Maka, teori Darwin tersebut harus kita tolak, karena tak berdasar dan bohong belaka.

Keempat, berita dari orang yang mengaku sebagai nabi atau penyampai risalah Ilahi. Jadi, jika kita melihat berita, membaca suatu situs yang memuat bahwa ada orang yang mengaku-ngaku sebagai nabi atau sebagai utusan Tuhan, bahkan telah mengaku sebagai Tuhan atau Malaikat Jibril dan semisalnya, tidak perlu diragukan lagi bahwa kita harus menolaknya dan tidak mempercayainya. Hal itu juga bertentangan dengan firman Allah Swt. yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan dan nabi yang terakhir.

Baca juga:  Cerdaslah Menyikapi Berita di Media Sosial Jelang Pilkada! Ini 5 Polanya

Kelima, berita atau informasi yang menisbatkan kebohongan kepada beliau Muhammad Saw. Misalnya, jika ada berita dari situs mana saja, ucapan siapa saja yang mencaci maki, menjelek-jelek kan, menisbatkan kekurangan kepada manusia yang sudah diakui semua orang dan semua kalangan tentang kesempurnaannya, Muhammad Saw., maka jelas kalau informasi tersebut adalah berita hoax.

Keenam, informasi yang diberitakan atau disampaikan oleh seseorang akan tetapi setelah kita klarifikasi ternyata kabar tersebut adalah berita hoax. Dalam kasus ini, perlu klarifikasi pada berita dan informasi yang beredar di tengah-tengah kita.

Komentar

Muslihin

Muslihin

Alumni Pon Pes Al-Ma'ruf Bandungsari, Pon Pes Al-Maymun Kauman Klambu Grobogan. Saat ini sedang berkuliah di Universitas Imam Syafi'i Mukalla Hadramaut Yaman. Anggota Bahtsul Masail PCNU Kab. Grobogan
Muslihin

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*