Ternyata Ushul Fikih Punya Cara Memastikan Suatu Berita Hoax atau Tidak

  • 41
  •  
  •  
  •  
    41
    Shares

DatDut.Com – Kita yang hidup di era media sosial seperti ini sering kali dipusingkan dengan berita atau informasi yang berseliweran di beranda atau timeline medsos kita. Kita kadang bingung apakah berita-berita yang dimuat oleh berbagai media atau dishare teman medos kita itu bisa dibuat pegangan atau tidak, hoax atau fakta?

Dalam kajian Usul Fikih, terdapat beberapa kriteria dan batasan untuk mengetahui kebenaran berita. Ada berita yang harus dibenarkan tanpa keraguan dan pasti benarnya, yang disebut dengan istilah mutawatir. Ada berita yang kemungkinan besar kebenarannya, yang disebut khabar shadiq. Ada berita yang kemungkinan kecil kebenarannya dan mendekati hoax. Ada pula berita yang pasti hoaxnya dan harus ditolak tanpa keraguan, yang disebut khabar kadzib. Masing-masing punya kriteria dan syarat tersendiri.

Khusus terkait berita yang pasti hoaxnya, dalam kajian Usul Fikih terdapat 6 (enam) kriteria untuk mengetahui dan memastikannya. Pertama, berita yang memuat informasi tentang suatu peristiwa atau kejadian umum dan tidak ada orang lain atau situs lain yang mengabarkannya. Hanya satu situs atau satu orang saja yang mengabarkannya. Kabar yang dimuat oleh satu situs atau satu orang tentang kejadian atau peristiwa umum tersebut bisa dipastikan hoaxnya. Kenapa? Karena jika suatu peristiwa atau kejadian itu sifatnya umum, diketahui oleh masyarakat luas, pastilah banyak orang atau situs lain yang meliputnya.

Baca juga:  Cerdaslah Menyikapi Berita di Media Sosial Jelang Pilkada! Ini 5 Polanya

Misalnya, ada satu situs media yang menayangkan kabar berita bahwa sedang terjadi kecelakaan bis di suatu lokasi terbuka hingga bis tersebut terbakar dan banyak penumpang yang meninggal. Setelah kita cari sumber lain dan media lain, kita tidak menemukan sama sekali berita yang sama dengan berita yang dimuat tersebut. Atau kalau pun ada cuma kopasan belaka. Berita tersebut adalah berita yang bisa divonis jelas hoaxnya. Karena, jika memang benar kabar tentang peristiwa tersebut yang terjadi di tempat umum dan pasti diketahui oleh banyak orang, pastilah reporter dari berbagai media, atau orang-orang lain akan mengabarkan kabar tersebut pula. Namun terkait kriteria ini ada sebagian kecil ulama yang mengatakan tidak pasti hoaxnya, karena ada sedikit kemungkinan dalam kebenarannya.

Baca juga:  Fakta di Balik Foto Pembunuhan di Mushalla Ini Diviralkan dan Dikaitkan dengan Bangkitnya PKI

Kedua, berita atau informasi yang memuat hal yang kontradiktif dan tidak masuk akal. Misalnya, ada orang yang bercerita, memuat berita, atau kita membaca suatu tulisan yang mengatakan bahwa ada manusia atau hewan yang tidak mati dan tidak hidup, atau tidak bergerak dan tidak diam. Berita seperti ini kita bisa langsung memvonis kebohongannya, karena kedua sifat tersebut tidak bisa hilang bersamaan dan tidak bisa muncul bersamaan.

Muslihin, Lc.

Muslihin, Lc.

Alumni Universitas Imam Syafi'i Mukalla Hadramaut Yaman. Anggota Bahtsul Masail PCNU Kab. Grobogan. Alumni Pon Pes Al-Ma'ruf Bandungsari, Pon Pes Al-Maymun Kauman Klambu Grobogan.
Muslihin, Lc.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *