Tren Menghafal Alquran dan Menghormati Penghafalnya

  • 3
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares

DatDut.Com – Bangsa Indonesia patut bersyukur. Beberapa tahun belakangan, menghafal Alquran jadi tren nasional. Tua, muda, bahkan anak-anak pun berlomba-lomba menjadi penghafal Alquran.

Fenomena ini tentu sulit dibayangkan pada beberapa tahun yang lalu. Tapi kini itu benar-benar ada dan nyata. Sekarang kalau kita ingin mencari orang yang hafal Alquran, mudah sekali mendapatkannya, bahkan di kota sekalipun.

Maka tidak heran, rumah tahfiz merebak. Pesantren-pesantren tahfiz pun penuh. Bahkan, tren ini pula yang mengubah banyak pesantren dan sekolah memasukkan tahfiz Alquran sebagai bagian dari kurikulum mereka.

Para penghafal Alquran pun saat ini menempati status sosial yang tidak sama dengan sebelumnya. Bahkan, para penghafal Alquran juga jadi idola-idola baru. Dielu-elukan, bahkan dipuja sedemikian rupa.

Tren ini positif, meskipun jangan sampai ini hanya jadi tren sesaat. Kita semua punya tanggung jawab agar tren ini terus bertahan dan menjadi bagian dari hidup kita.

Baca juga:  Jangan Olok-olok NU setelah Ahok Kalah

Semoga tidak hanya berhenti pada menghafal Alquran, tapi juga hadis dan ilmu-ilmu penting yang lain. Kita berharap akan muncul kembali ulama-ulama kelas dunia lahir dari Indonesia. Karena bila membaca riwayat para ulama besar, semua bermula dari menghafal Alquran.

Jangan sampai tren ini hanya jadi semakin tren industri pop. Ramai sesaat, lalu hilang ditelan bumi setelahnya. Kita perlu membuat kurikulum baku dan menetapkan lembaga-lembaga rujukan yang bisa jadi model lembaga yang lain, terutama yang baru merintis.

Kita perlu mengangkat figur-figur penghafal Alquran. Karena kita memang diminta untuk menghormati para penghafal Alquran. Tapi kita perlu menghormati para penghafal Alquran pada tempatnya. Jangan berlebihan.

Jangan terlalu mengekspos kalau kita menghormati penghafal Alquran karena wajahnya yang menawan atau suaranya yang indah. Beri penghormatan yang lebih hanya pada mereka yang bisa mengamalkan hafalannya dalam akhlak dan tindakan.

Baca juga:  Tak Usah Berzikir Bila Tak Ingin Dapat 5 Manfaat Besar Ini

Semoga akan segera muncul generasi qurani. Qurani yang bukan hanya pada lisan, tapi pada tindakan. Qurani tidak hanya di masjid, tapi dalam kehidupan profesionalnya. Qurani tidak hanya saat beribadah, tapi juga dalam kesehariannya. Semoga.

 

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Moch. Syarif Hidayatullah

Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media. Pengajar di Program Magister Fakultas Adab dan Humaniora. Ketua Program Studi Tarjamah FAH UIN Syarif Hidayatullah. Doktor Filologi Islam dan Analisis Wacana.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *