Toleransi sebagai Pondasi Perdamaian

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Konflik antara agama dan negara yang terjadi akibat pengaburan batas-batas agama dan negara, sebab keduanya dianggap bersaing dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama, sehingga orang harus memilih salah satunya.

Berkaca pada kasus penistaan agama di indonesia, saya mencoba melihat dari berbagai aspek ataupun pandangan. Sehingga kita bisa mengetahui lebih dalam terjadinya kasus penistaan agama yang baru-baru kemarin terjadi yang sedang panas-panasnya dibahas. Bahkan dijadikan lahan berpolitik oleh sebagian orang.

Harun Nasution menuturkan, teori Descartes dipengaruhi oleh berbagai pertentangan pemikiran filsafat pada zamannya. Pertentangan ini menyebabkan ia bersikap meragukan segala sesuatu.

Dalam konteks ini hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu bahwa aku ragu-ragu (aku meragukan segala sesuatu). Sifat meragukan ini bukan khayalan, melainkan suatu kenyataan. Aku ragu-ragu, atau aku berpikir, dan oleh karena aku berpikir maka aku ada (cogito ergo sum).

Memang menurut teori Descartes, apa saja yang dipikirkan bisa saja merupakan suatu khayalan, akan tetapi bahwa kegiatan berpikir bukanlah khayalan. Dalam hal ini “tiada seorang pun yang dapat menipu saya, bahwa saya berpikir, dan oleh karena itu di dalam hal berpikir ini saya tidak ragu-ragu, maka aku berada.”

Baca juga:  Akal Sehat Bisa Tumpul! Ini 5 Sikap yang Jadi Pemicunya

Pertautan antara keduanya tidak dengan mudah dapat dilakukan. Keduanya memiliki perbedaan mendasar sehingga upaya menyandingkan keduanya dalam satu ”kotak”, tentu akan memicu beberapa persoalan, terutama terkait dengan benturan-benturan konseptual, metodologis dan ontologis antara agama dan negara.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah “menarik garis pemisah secara jelas sebagai penunjuk kontras keduanya. Langkah berikutnya, setelah perbedaan kedua bidang itu jelas, baru dapat dilakukan kontak.

Langkah ini didorong oleh dorongan psikologis yang kuat bahwa bagaimanapun agama sangat berpengaruh terhadap perkembangan negara.

Berkaca pada sejarah Peradaban Islam (Sains) antara abad 8-12 M, kita dapat mengenal sejumlah figur intelektual muslim yang menguasai dua disiplin ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum (sekalipun pada hakikatnya dalam pandangan Islam ilmu umum itu juga merupakan ilmu Agama, merupakan kalam tuhan yang kauniyah/tersirat).

Sebut saja misalnya Ibn Miskawaih (320-412/ 932-1032), Ibn Sina (370-428/980-1037), al-Ghazali (450-505/ 1059-1111), Ibn Rusd, Ibn Thufail, dan seterusya. Mereka adalah para figur intelektual muslim yang memiliki kontribusi besar terhadap kemajuan-kemajuan dunia Barat modern sekarang ini.

Jika pada awalnya kajian-kajian keislaman hanya berpusat pada Alquran, Hadis, Kalam, Fiqih dan Bahasa, maka pada periode berikutnya, setelah kemenangan Islam di berbagai wilayah, kajian tersebut berkembang dalam berbagai disiplin ilmu: fisika, kimia, kedokteran, astronomi, dan ilmu-ilmu sosial lainnya.

Baca juga:  Ini 5 Kesan Setelah Menonton Film ‘Bulan Terbelah di Langit Amerika’

Kenyataan ini bisa dibuktikan pada masa kegemilangan/keemasan antara abad 8-15 M, dari Dinasti Abbasiyyah (750-1258 M) hingga jatunya Granada tahun 1492M.

Pemerintah harus benar-benar berkomitmen dalam mengatur agar nanti ketika mengambil sebuah, keputusan tidak keluar dari rana agama dan tidak juga mengedepankan Negara.

Indonesia lahir dari pancasila yang mempuyai hirarki yang satu sama lain saling bersinambungan dari sila ke satu sampai sila ke lima. Itulah sebab adanya perbedaan karena perbedaan itu fitrah lahir dari agama dan bagaimana Negara nantinya mengatur sedemikian perbedaan itu agar menjalakan nilai-nilai kebersamaan itulah pancasila.

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Sirajudin

Mahasiswa Prodi Tarjamah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta asal Bima
Sirajudin

Latest posts by Sirajudin (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close