Ini 5 Puasa Tirakat Santri untuk Mendapatkan Ilmu Berkah

  • 342
  •  
  •  
  •  
    342
    Shares

DatDut.Com – Para santri pondok pesantren salaf banyak yang mengistikamahkan berbagai amalan untuk mencari keberkahan ilmu yang dipelajari. Santri biasa melakukan ritual-ritual tertentu, seperti melakukan tahajud, menjaga wudhu (dawamul wudhu), tirakat puasa, dsb.

Puasa juga merupakan hal umum yang dilakukan para santri. Jenisnya pun bermacam-macam. Puasa Senin-Kamis, puasa ayyamul bidh (setiap tanggal 13, 14, 15 pada bulan hijriyah), dan puasa sunah lainnya.

Nah, 5 macam puasa berikut ini tergolong sebagai puasa yang istimewa, atau bisa dikatakan enggak umum, karena semakin jarang yang melakukannya. Selain itu, perlu kesabaran tingkat tinggi untuk menjalani tirakat yang 5 ini. Berikut uraiannya:

1. Puasa Mutih

Puasa mutih adalah puasa yang saat berbuka menunya hanya nasi putih dan air bening saja. Ingat, nasi putih tok, tanpa sayur, tanpa garam, tanpa lauk apalagi minum susu. Untuk mengakali rasa hambar, nasi ditanak sampai kira-kira berkerak.

Nah, kerak nasi yang hangat itu dituangi air yang nantinya untuk minum. Tahukah Anda rasanya? Saya kasih bocoran. Rasanya itu gurih dan segar, lho. Lumayan, daripada makan nasi putih hambar yang kadang bikin mual.

Durasi waktu puasa mutih ini berbeda-beda. Hal tersebut tergantung anjuran dan petunjuk yang diterima dari kiai. Ada yang 3 hari, 7 hari, bahkan 40 hari. Biasanya, puasa empat puluh hari hanya makan nasi. Di hari terakhir, akan disertai puasa pati geni, yaitu puasa puasa selama satu hari satu malam, tanpa berbuka di waktu Magrib. Baru berbuka puasa saat subuh hari setelahnya.

Tata cara wishal (tidak berbuka puasa di waktu Magrib) ini masih sesuai batasan yang disabdakan Rasulullah Saw. yaitu: “Janganlah kalian melakukan puasa wishal. Siapa yang ingin wishal, maka lakukanlah hingga waktu sahur (sehari semalam),” (H.R. Bukhari).

2. Puasa Daud

Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash  r.a. adalah seorang sahabat Nabi yang tekun beribadah sampai-sampai bertekad untuk selalu ibadah malam dan berpuasa siang hari sepanjang hayatnya. Rasulullah Saw. lantas menyarankan agar ia mengurungkan hal itu.

Baca juga:  Pilihlah Pesantren untuk Anak Anda Berdasarkan 5 Kriteria Ini

Beliau menganjurkan untuk puasa 3 hari di tengah bulan. Abdullah meminta porsi lebih. Lalu, Nabi bersabda, “Puasalah sehari dan tidak puasa sehari, itulah puasa Nabi Daud a.s. dan itulah puasa teradil.” Abdullah berkata, “Sungguh saya mampu untuk yang lebih utama dari itu.” Nabi menjawab, “Tiada yang lebih utama lagi,” (H.R. Muslim).
Di kalangan santri, puasa Daud termasuk puasa yang berat. Biasanya disertai ijazah doa tertentu dari kiai. Pada umumnya, dilakukan dalam satu tahun atau lebih. Namun, ada juga yang kemudian mengistikamahkan dan terus berpuasa Daud.

3. Puasa Ngerowot

Ngerowot adalah istilah untuk puasa yang menghindari makan nasi. Hanya makan sayuran, lauk dan pengganti nasi seperti singkong, ubi jalar, dan lainnya. Ada juga ngerowot tanpa puasa. Bahkan, amalan yang dilakukan minimal satu tahun ini kadang menjadi candu bagi santri. Sehingga, santri tersebut enggak doyan nasi.

4. Puasa Dalailul Khairat

Kitab Dalailul Khairat adalah kitab yang berisikan kumpulan salawat nabi yang disusun dalam pembagian tertentu (hizib-hizib) untuk dibaca tiap hari. Misalnya, bacaan salawat untuk hari Senin berbeda dengan bacaan salawat untuk hari Selasa, dan begitu seterusnya hingga hari Senin kembali. Setiap selesai satu hizib, diakhiri doa khataman yang sudah ditentukan oleh pengarang kita tersebut.

Salawat tersebut ada yang redaksinya dari Rasulullah Saw., ada pula yang dirangkai oleh sahabat dan ada pula yang merupakan gubahan para ulama. Kitab yang ditulis oleh Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli (870 H) ini termasuk kitab yang paling dimusuhi oleh Wahabi dan para simpatisannya.

Padahal, yang dibaca itu salawat. Alquran pun menganjurkan kita membaca salawat. Tirakat puasa dan membaca kitab ini bertingkat-tingkat. Ada yang puasa hanya 3 hari, 7 hari, 40 hari sampai yang terlama adalah 3 tahun. Ini tergolong puasa dahr (tahunan) dan hanya ada rehat saat hari-hari yang haram untuk berpuasa.

Baca juga:  5 Keusilan Santri yang Buat Anda Ingat Masa-masa di Pesantren

Terkait puasa tahunan ini kalangan ulama Syafi’iyyah berpendapat makruh bagi orang yang khawatir membahayakan diri atau terbengkalai dari memenuhi kewajiban pokok. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam hadis, “Orang yang berpuasa sepanjang tahun tidaklah berpuasa,” (H.R. Bukhari-Muslim).

Sementara itu, bagi yang tidak khawatir bahaya dan terbengkalainya kewajiban, maka ia sunah berpuasa tahunan, sebagaimana hadits, “Siapa yang puasa dahr, sempitlah neraka jahanam baginya seperti ini,” (H.R. Bahaqi dan Ahmad). Artinya, dia tidak akan masuk neraka Demikian penjelasan dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, juz III, hlm. 222.

5. Puasa Samber Nyowo

Namanya kok sangar, ya? Samber nyowo (menyambar nyawa). Tapi santai aja. Ini puasa unik yang mungkin hampir punah. Orang yang melakukan puasa ini hanya makan dari sayuran atau daun-daunan yang masih mentah dan didapat dengan cara mengambil dari pohon sambil berlari. Oleh karena itu, dinamakanlah samber nyowo.

Lha, terkait istilah nyowo itu senditi saya enggak paham. Bisa jadi karena menyambar makanan sekedar penyambung nyawa. Ada juga yang menamakannya puasa ngidang alias berlaku seperti kijang. Mengambil makanan sambil berlari.

‘Ala kulli hal, amaliah seperti di atas tak lepas dari tujuan untuk olah jiwa (riadat), melatih disiplin, sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah sebagai wasilah diijabahnya permohonan serta bagian dari mujahadah seperti yang ditempuh oleh para ulama.

 

Komentar

Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin
  •  
    342
    Shares
  • 342
  •  
  •  

3 thoughts on “Ini 5 Puasa Tirakat Santri untuk Mendapatkan Ilmu Berkah

  1. Beragama itu yg sesuai dgn petunjuk para salafushaleh saja yaitu para sahabat, tabiin, tabiut tabiin lebih bersih dan ilmiah tdk nyeleneh dan tdk ada bau kebid’ahan dan kesyirikan

  2. menjalankan ibadah tanpa adanya sariat tuntunan alqur’an dan as sunnah pahalanya tidak akan sampai kpda allah
    ngpain kita susah2 puasa mutih ,40 hari.ngbleng dst. yg gak ada untungnya buat qta. mending puasa senin.kamis /puasa daud yg jelas ada tuntunannya

  3. wkwk sok tau, wahabi juga baca sholawat, tapi bukan sholawat buatan atau kreasi ulama. wahabi yang dibaca shalawat di hadis yang sudah disebutkan nabi,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *