Tinggal Di Mana Setelah Menikah?

  • 39
  •  
  •  
  •  
    39
    Shares

DatDut.Com –¬†Mempunyai rumah tinggal sudah pasti menjadi keinginan banyak orang, apalagi bagi pasangan yang baru menikah. Saya pun begitu.

Tapi seperti halnya saya, tidak semua orang dapat membeli rumah saat itu juga atau sesegera mungkin memilikinya setelah menikah.

Lalu, bagaimana? Ada di antara mereka yang memilih tinggal serumah dengan orangtua atau sementara bersama mereka, ada juga yang langsung memilih hidup pisah dengan orangtua.

Kurang lebih sekitar setahun empat bulan, saya dan suami tinggal bersama orangtua kami (mertua saya).

Sampai Januari 2017 lalu, kami memutuskan untuk mengontrak rumah sementara sebelum mempunyai rumah tinggal sendiri.

Memang, jauh sebelum menikah saya sempat melontarkan pertanyaan kepada suami melalui pesan, begini “setelah menikah, tinggal dimana?”

Suami saya pun menjawab, “terserah Allah, dimana nanti menempatkan kita. Tapi untuk sementara tinggal di rumah orangtua aja dulu”.

Kira-kira seperti itu. Saya hanya sekedar memastikan, kalau kami punya misi yang sama ke depannya nanti. Belajar untuk tidak merepotkan orangtua, walau sebenarnya mereka tidak merasa direpotkan

Banyak alasan kenapa saya lebih memilih hidup pisah dari orangtua atau mertua daripada hidup numpang dan cenderung bergantung kepada mereka.

Alasan pertama, karena saya ingin belajar hidup mandiri walau harus memulai semua dari nol bersama suami.

Sampai pernah ada yang bilang, hidup saya sudah enak tinggal dengan orangtua (mertua), kok malah mencari susah.

Bagi saya ya keren. Lebih baik susah sekarang daripada susah nanti. Toh, apa dengan adanya omongan tersebut, maka tidak ada omongan lain jika saya tetap tinggal dengan orangtua? Misal, “enak sekali, hidup numpang apa-apa masih diurusin orangtua”.

Baca juga:  Dulu Seksi, Sekarang Berhijab Rapi, Justru 5 Artis Ini Tambah Terlihat Cantik Menawan Hati

 Padahal tidak selalu pasangan suami istri yang masih tinggal dengan orangtua, lantas seenaknya sendiri ingin dipenuhi kebutuhan hidupnya oleh mereka.

Begitulah orang-orang berceloteh, kita mau melakukan apa saja. Ada celah bagi mereka untuk mengeluarkan gunjingan.

Saya tidak peduli dengan omongan mereka. Saya berupaya tegas, harus ‘ngeyel’ untuk hal-hal yang positif, yang mungkin dianggap buruk orang lain. Seperti halnya memilih untuk mulai belajar hidup mandiri ini.

Alasan kedua, mengenai kenyamanan. Saya lebih nyaman tinggal di rumah sendiri, meski sebenarnya itu pun masih rumah kontrakan.

Terlebih saya seorang muslimah, tidak nyaman rasanya serumah dengan orangtua (mertua) jika ada di antara mereka juga adik laki-laki suami.

Bayangkan saja, bagaimana ribetnya saya jika tinggal bersama mereka. Punya ‘baby’, bila ingin menyusui harus sembunyi-sembunyi. Kalau tidak di kamar, di ruang keluarga pun harus pakai jilbab.

Padahal kita sebagai perempuan paling suka jika bebas melakukan apa saja di rumah. Bisa buka jilbab semau kita di rumah, meski tidak sedang menyusui.

Itu salah satu contoh yang pernah saya alami. Ribet banget pokoknya.

Ketiga, butuh ruang privasi. Yap! Saya dan suami tentu dong ingin ruang privasi juga, kami kan sudah menikah.

Biasanya yang sering terjadi jika serumah dengan orangtua, apa-apa persoalan rumahtangga kita dan suami kemungkinan mereka juga tahu.

Baca juga:  Ini 8 Manfaat dan Hikmah Mengapa Wanita Menstruasi Setiap Bulan

Kecuali jika terjadi suatu masalah, diam-diam diselesaikan di kamar. Nangis pun ditahan-tahan agar tidak ada yang mendengar dan jangan sampai seisi rumah mengerti apa yang terjadi.

Tapi, mayoritas yang seringkali dialami orang-orang sepanjang yang saya tahu. Jika tinggal bersama dengan orangtua, maka banyak orangtua yang ikut campur masalah rumahtangga anaknya. Ini menjadikan masalah yang ada semakin pelik. Bukannya selesai, malah tambah ruwet.

Itu sebabnya, saya lebih memilih hidup pisah dengan orangtua. Tidak lain juga untuk meminimalisir hal semacam itu dan ingin lebih banyak belajar menyelesaikan masalah rumahtangga dengan suami, tanpa harus melibatkan orangtua.

Dan alasan keempat, saya yakin dengan hidup pisah dari orangtua, suami akan menjadi pribadi yang lebih bertanggungjawab dan terhomat dimata orang.

Mungkin saja alasan kita berbeda, jika memang sama-sama tidak serumah dengan orangtua setelah menikah.

Yang jelas, “setelah menikah, tinggal di mana?” tergantung masing-masing orang yang menjalaninya, setiap orang punya alasan. Entah pada akhirnya akan memilih tinggal dengan orangtua atau pisah dengan mereka.

Dan yang tidak kalah penting, memulai hidup mandiri bersama suami, tidak akan mengurangi bakti kita kepada orangtua.

Komentar

Windarti

Ibu rumah tangga yang nyambi jadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Terbuka.

Latest posts by Windarti (see all)

  •  
    39
    Shares
  • 39
  •  
  •  

One thought on “Tinggal Di Mana Setelah Menikah?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *