Tindakan Sahabat dan Tabiin Berikut Jadi Landasan yang Kuat Adanya Bidah Hasanah

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Pembahasan tentang bidah seakan tidak pernah usang. Dari pihak yang antibidah hasanah, selalu saja mengulang-ulang pembahasan. Sehingga perkara pembagian bidah yang sudah sejak dahulu tuntas seakan adalah barang baru yang tak pernah basi dibahas.

Mayoritas ulama salaf shalih sejak dahulu telah sepakat mengatakan adanya bidah hasanah dan sayyi’ah atau dhalalah. Mereka yang tidak sependapat pembagian bidah hasanah dan sayyi’ah dan mengatakan semua bidah pasti sesat pada akhirnya harus menjelaskan konsep dan membuat pembagian pula. Yaitu bidah duniawi dan syar’i. Padahal kedua hal tersebut pada dasarnya sudah tercover dalam pengertian dan pembagian yang lebih dahulu ada.

Nah, soal dalil bidah hasanah, hadis-hadis yang mengisahkan berbagai amal para sahabat yang belum diajarkan oleh Rasululullah adalah termasuk dalil. Di mana mereka melakukan perbuatan yang belum diajarkan. Meskipun hal tersebut juga tidak bisa dikatakan bidah karena pada akhirnya Rasulullah membenarkannya atau menetapkannya dan menjadi sunah taqririyyah.

Sahabat berbuat, Rasulullah membenarkan. Namun dari sisi inovasi dalam beragama, dan melakukan hal yang belum diajarkan tetapi tidak bertentangan dengan yang diajarkaan Rasulullah, maka tindakan para sahabat tersebut bisa menjadi dalil adanya bidah hasanah.

Bahkan, setelah Rasulullah wafat pun, para sahabat melakukan berbagai hal yang tergolong urusan ibadah namun belum pernah diajarkan Rasulullah. Berikut ini beberapa tindakan para sahabat yang semakin menguatkan adanya bidah hasanah.

[nextpage title=”1. Penghimpunan Mushaf Alquran di masa Khalifah Abu Bakar”]

1. Penghimpunan Mushaf Alquran di masa Khalifah Abu Bakar

Siapapun tidak bisa membantah bahwa mushaf yang kita baca saat ini bukanlah mushaf yang sama 100% dengan mushaf zaman Rasulullah. Zaman Rasulullah pun Alquran belum terkumpul menjadi satu mushaf. Ia tersebar dalam berbagai lembaran kulit binatang, tulang, hingga lembaran pelepah kurma. Bacaannya tersimpan dalam memori para sahabat. Baru pada zaman khalifah Abu Bakar Shidiq, lembaran-lembaran dan hafalan itu dikumpulkan menjadi satu mushaf pertama.

Dalam Hadis riwayat Bukhari dijelaskan: Dari Ubaid bin as-Sabbaq bahwa Zaid bin Tsabit berkata, “Abu Bakar mengirim utusan kepadaku tentang terbunuhnya ahli perang Yamamah. Ketika aku datang, ternyata Umar bin Khattab ada di sisi Abu Bakar Berkata Abu Bakar.

Umar datang kepadaku lalu berkata, ‘Saat Perang Yamamah sungguh banyak ahli Quran yang terbunuh. Dan saya takut jika di berbagai daerah para ahli Quran juga meninggal, lalu banyak bagian dari Alquran yang hilang. Sesungguhnya aku berpendapat agar Anda memerintahkan pengumpulan Alquran.

Lalu aku berkata kepada Umar , ‘Bagaimana Anda akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan Rasulullah r? Umar menjawab, ‘Demi Allah hal ini adalah baik’. Lalu Umar tidak henti mengulangi pendapatnya padaku hingga Allah lapangkan dadaku untuk melakukan hal itu. Dan aku sependapat dengan Umar dalam hal itu.”

Menurut Zaid, Abu bakar lalu berkata padaku, “Sungguh Anda adalah seorang lelaki muda dan cerdas yang kami tidak punya prasangka buruk terhadapmu. Dan Anda telah menulis wahyu untuk Rasulullah. Maka telitilah Alquran lalu kumpulkanlah.” Demi Allah kalau mereka memerintahkanku untuk memindahkan gunung, niscaya tidaklah lebih berat ketimbang perintah Abu Bakar untuk mengumpulkan Alquran.

Baca juga:  Makna Dua Kalimat Syahadat yang Tak Banyak Diketahui

Saya (Zaid bin Tsabit) menjawab, “ Bagaimana Anda akan melakukan perbuatan yang belum dilakukan oleh Rasulullah r?” Abu bakar berkata, “Demi Allah, hal ini adalah baik.” Maka tidak henti ia mengulangi perkataannya kepadaku hingga Allah lapangkan dadaku untuk menerima pendapat itu sebagaimana Abu Bakar dan Umar …”

Hadis di atas juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Sunan-nya. Dan menurut Abu Isa, hadis ini tergolong hadis hasan dan shahih. Perhatikanlah bagaimana para sahabat mempertimbangkan perbuatan yang belum perah dilakukan Rasulullah lalu mendapati sisi baiknya lalu sepakat.

[nextpage title=”2. Penyatuan Standar Mushaf di Masa Khalifah Utsman”]

2. Penyatuan Standar Mushaf di Masa Khalifah Utsman

Dalam Shahih Bukhari pada bab yang sama, juga dikisahkan bagaimana Khalifah Utsman bin Affan melakukan bidah hasanah selanjutnya terkait mushaf Alquran.

“Dari Anas, bahwasanya Khudzaifah menghadap Utsman bin Affan. Khudzaifah telah berperang bersama penduduk Syam dan Irak dalam kemenangan atas Armenia dan Adzirbaijan. Ia melihat perselisihan mereka dalam membaca Alquran. Maka ia berkata kepada Utsman bin Affan.

“Wahai Amirul Mukminin, kejarlah umat ini sebelum mereka berselisih tentang kitab suci sebagaimana perselisihan Yahudi dan Nasrani!”

Maka Utsman mengirim utusan kepada Khafshah dengan pesan, “Kirimkan kepada kami lembaran-lembaran mushaf agar kami salin dalam beberapa mushaf, kemudian kami akan kembalikan lembaran-lembaran itu kepadamu.”

Kemudian Hafsah menyerahkan lembaran-lembaran Alquran kepada Utsman, lalu Utsman mengirimkan lembaran itu kepada Zaid bin Tsabit, Said bin Ash, Abdurrahman bin Harits bin Hisyam, dan Abdullah bin Zubair.

Ia memerintahkan “Salinlah lembaran-lembaran itu dalam beberapa mushaf.” Dan ia berkata kepada 3 orang yang tergolong keturunan Quraisy (Said bin Ash, Abdurrahman bin Harits bin Hisyam, dan Abdullah bin Zubair), “Bila ada sesuatu perselisihan (tulisan) kalian dengan Zaid bin Tsabit maka tulislah menurut dialek Quraisy, karena Alquran turun dalam dialek mereka.”

Pengumpulan Alquran dan penyatuan mushaf jelas merupakan tindakan yang tidak dilakukan dan diperintahkan oleh Rasulullah, namun para sahabat memandang kebaikan dalam hal itu. Sehingga mereka melakukannya. Membaca Alquran adalah ibadah bukan? Akankah para sahabat Anda vonis sesat dan ahli neraka?

[nextpage title=”3. Pemberian Tanda Titik pada Mushaf”]

3. Pemberian Tanda Titik pada Mushaf

Tak cukup sekadar penyatuan mushaf saja yang bidah hasanah, pemberian titik pada mushaf ternyata juga perkara bidah. Pada masa Rasulullah, penulisan Mushhaf al-Qur’an yang dilakukan oleh para sahabat adalah tanpa pemberian titik terhadap huruf-huruf seperti ba’, ta’ dan lain-lainnya.

Bahkan saat Khalifah Utsman menyalin mushhaf menjadi 6 salinan dalam rangka penyatuan bacaan kaum Muslimin, itu juga tanpa pemberian titik terhadap huruf-hurufnya. Pemberian titik pada Mushhaf Alqur’an baru dimulai oleh seorang ulama tabi’in, Yahya bin Ya’mur (wafat sebelum tahun 100 H/719 M), sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Daud dalam al-Mashahif, hal.158.

Ah, bukankah Alquran memang sudah ditulis sejak zaman rRasulullah? Sahabat hanya mengumpulkan dan menyatukannya, jadi tidak bisa dikatakan hal baru. Silakan baca atsar sahabat selanjutnya. Kisah kali ini terjadi pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib.

[nextpage title=”4. Shalat Sunah Sebelum dan Sesudah Shalat Id”]

Baca juga:  Ketika Salat Tidak Khusyu Sekalipun, Ternyata Ada Banyak Kenikmatan yang Didapat

4. Shalat Sunah Sebelum dan Sesudah Shalat Id

Dalam Majma’ az-Zawaid, juz 2, h. 203, Alhafidz Abu Bakar al-Haytsami mengkhususkan satu bab tentang shalat sebelum dan sesudah shalat ‘Id. Beberapa sahabat seperti seperti Anas dan al-Hasan mengerjakan shalat sebelum shalat Id, sedangkan Muhammad bin Sirin tidak melakukan. Ibnu Mas’ud setelah shalat Id shalat 4 atau 8 rakaat. Namun ia melarang orang shalat sebelum shalat Id.

Di akhir bab ini al-Haitsami memuat atsar riwayat al-Bazzar bahwa ketika Khalifah Ali Bin Abi Thalib ditanya tentang orang-orang yang melakukan shalat sebelum dan sesudah shalat Id, ia tidak melarang mereka.

… Kemudian mereka bertanya: “Hai Amirul Mu’minin, mereka melakukan shalat sunnah sesudah shalat ’id!” Beliau menjawab, “Apa yang akan aku lakukan? Kalian bertanya kepadaku tentang sunnah. Sesungguhnya Nabi belum pernah melakukan shalat sunnah sebelum shalat ‘id dan sesudahnya. Tetapi siapa yang mau melakukan, lakukanlah, dan siapa yang mau meninggalkan, tinggalkanlah. Aku tidak akan menghalangi orang yang mau shalat, agar tidak termasuk “orang yang melarang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat.”

Perhatikan sikap Ali bin Abi Thalib yang memandang shalat sebelum dan sesudah shalat id dari sisi lain. Yaitu keumuman bolehnya melakukan shalat. Ia juga tidak mau tergolong orang yang melarang orang yang melakukan shalat. Bandingkan dengan tindakan dan sikap mereka yang selalu merasa benar dan sembarang vonis bidah dan sesat terhadap amaliyah yang dianggapnya tidak berdasar.

[nextpage title=”5. Hadis Talbiyah”]

5. Hadis Talbiyah

Dalam Shahih Bukhari, juz 2, h. 138, diriwayatkan bacaan talbiyah yang biasa kita kenal, yaitu dari Abdullah bin Umar. Meskipun Ibnu Umar meriwayatkan bacaan talbiyah Rasulullah tersebut, namun beliau menambahkan beberapa kata dalam talbiyahnya.

Dalam Sunan Ibnu Majah, juz 2, h. 974, diriwayatkan bahwa selain bacaan tersebut, Ibnu Umar menambahkan kata, “لَبَّيْكَ لبيك لبيك وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ لَبَّيْكَ وَالرُّغَبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ”. Hal ini dikomentari oleh Imam Syafi’I, seperti diriwayatkan dalam Sunan Tirmidzi juz 3, h. 187, sebagai berikut:

“Bila seseorang menambahkan suatu ungkapan pengagungan kepada Allah, maka tidak apa-apa, Insyaallah. Dan saya lebih suka jika ia mencukupkan dengan talbiyahnya Rasulullah. Kami katakan “tidak apa-apa” karena adanya riwayat dari Ibnu Umar yang mana ia telah menghafal talbiyah dari Rasulullah, lalu ia menambahkan ucapan لَبَّيْكَ وَالرُّغَبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ sebelum bacaan talbiyah Rasulullah tersebut.”

Demikianlah beberapa perbuatan atau tindakan para sahabat dan tabi’in yang menguatkan adanaya bidah hasanah. Wallahu a’lam.

 

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close