Teroris Bukan Islam [?]

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – “Teroris bukan Islam”, ungkapan itu sering dilontarkan untuk menanggapi aksi seseorang atau kelompok yang membuat kekacauan yang dikaitkan dengan Islam.

Sebenarnya ada ambiguitas dari ungkapan tersebut meskipun tujuannya dapat dimengerti yakni memutus kawat yang menghubungkan antara kekerasan yang dilakukan oleh seorang muslim dengan Islam sebagai ideologi yang mengedepankan kedamaian.

Ambiguitas ungkapan itu terletak pada tujuannya, apakah dia dimaksudkan untuk menyampaikan pesan bahwa terorisme bukanlah ajaran Islam ataukah mengatakan bahwa teroris itu bukan orang Islam?

Kalau yang dimaksud adalah pernyataan yang pertama (terorisme bukanlah ajaran Islam), maka case’s closed! Semua orang paham kecuali hanya sedikit saja yang enggan. Namun jika yang dituju adalah pernyataan kedua, yakni teroris itu bukan orang Islam, maka hal itu akan menemui beberapa masalah.

Pertama, menafikkan fakta bahwa seorang teroris bisa jadi seorang pemeluk Islam berarti menafikkan keyakinannya, dengan kata lain kita mengeluarkannya dari keislamannya.

Menurut hemat saya, hal itu sepatutnya dihindari, meskipun kita beralasan untuk menjaga nama baik agama. Mengikuti pendapat Grand Syaikh al-Azhar Syaikh Ahmad Thoyyib, saya rasa adalah hal yang lebih bijak meskipun hal itu akan meninggalkan beban di pundak kita berupa upaya untuk meyakinkan khalayak bahwa Islam sejatinya jauh dari nilai-nilai kekerasan.

Kita tidak boleh terjerumus ke dalam lubang yang sama seperti kelompok teroris ISIS dan semisalnya dengan mengafirkan masyarakat, baik pemimpin maupun rakyat meskipun mereka melakukan dosa besar,” demikian perkataan beliau sebagaimana dikutip oleh situs ruwaqazhar.com.

Baca juga:  Ini Keistimewaan Masjidil Aqsa dan Palestina dalam Alquran dan Hadis

Bahkan.. bisa jadi para takfiri yang menghalalkan darah sesama muslim itu justru seorang muslim yang secara dhahir lebih bagus ibadahnya daripada kita. Sebagaimana sabda Rasululullah berikut:

”Nanti akan muncul di antara umatku kaum yang membaca Al-Quran, bacaan kamu tidak ada nilainya dibandingkan bacaan mereka, dan shalat kamu tidak ada nilainya dibandingkan shalat mereka, dan puasa kamu tidak ada artinya dibandingkan puasa mereka, mereka membaca Al-Quran sehingga kamu akan menyangka bahwasanya Quran itu milik mereka sahaja, padahal sebenarnya Quran itu akan melaknat mereka, Tidaklah shalat mereka melalui kerongkongan mereka, mereka itu akan memecah agama Islam sebagaimana keluarnya anak panah daripada busurnya.” (Shahih Muslim/2467 )

Jika yang kita pahami adalah bahwa seorang teroris atau ekstrimis itu adalah orang yang dangkal ilmunya, bukan selalu berarti dia bodoh dalam arti yang hakiki, tidak shalat, tidak bisa membaca Quran dan sejenisnya.

Kelalaiannya terletak pada pemahaman agama secara tekstual, di antaranya mengenai jihad. Jihad selalu diartikan sebagai qital, perang. Padahal 2 hal ini berbeda cakupan, jihad memiliki cakupan yang lebih luas daripada qital.

Mungkin juga penyempitan makna jihad itu disebabkan oleh fakta lapangan akan begitu banyaknya kedhaliman yang dilakukan terhadap kaum muslim hingga memunculkan kemauan keras untuk melakukan counter attack.

Bisa disebutkan di antaranya adalah pendudukan negara adikuasa di negeri-negeri muslim yang membawa stigma bahwa semua kepentingan mereka sah untuk diperangi, termasuk penguasa-penguasa yang mendukung negeri tersebut.

Baca juga:  Setelah Heboh Iwan Bopeng, Foto Kece yang Bikin Kejang Kubu Penista Ini Viral

Kedua, mengatakan ‘teroris bukan Islam’ berarti mengingkari keberadaan orang-orang Islam yang berpikiran ekstrim, yang mewarisi sifat khawarij masa lalu yang di antaranya telah menghalalkan darah amirul mukminin, Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Apakah mereka berpaling dari Quran dan hadits? Tidak! Mereka justru bermaksud untuk menegakkan hukum Allah, menurut versi mereka. Tekstualitas dalam memahami nash adalah kunci dari kakunya pengejawantahan syariat oleh kelompok itu, sampai pada tahap menganggap pelaku dosa besar sebagai orang kafir atau murtad secara hakiki.

Ahmad Indra
follow me

Ahmad Indra

Alumni Universitas Diponegoro yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan IT multinasional. Penyuka ubi goreng dan tongseng kambing.
Ahmad Indra
follow me

2 thoughts on “Teroris Bukan Islam [?]”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *