Terkait Gus Dur, Ini 5 Kenangan K.H. Husein Muhammad

  • 65
  •  
  •  
  •  
    65
    Shares

DatDut.Com – Di penghujung Desember, seluruh elemen masyarakat pecinta Gus Dur biasanya akan melaksanakan haul wafatnya Gus Dur. Mereka yang mengagumi Gus Dur tergabung dalam komunitas Gusdurian. Haul tersebut dilaksanakan tidak hanya terfokus di satu titik tempat saja, seperti Ciganjur atau Jombang. Namun semua Gusdurian hampir serentak mendoakan Gus Dur di daerah masing-masing.

Salah satu sahabat Gus Dur, K.H. Husein Muhammad, menceritakan kembali kenangannya enam tahun silam, saat Gus Dur menghadap Allah Swt. Kiai kelahiran Cirebon ini, menulis kenangan tersebut dengan judul “Mengenang Gus Dur 6 Tahun Silam”. Berikut saya sarikan tulisan tersebut dari facebook milik Husein Muhammad menjadi 5 poin:

1. Langit Murung pada Bulan Desember

Kiai aktivis gender ini, mengawali cerita dengan mengenang kepergian Gus Dur pada 30 Desember 2009. Saat Gus Dur wafat, posisi Husein Muhammad saat itu sedang berada di rumah makan “Jepun”, yang terletak sekita kampus IAIN Syekh Nurjati, Cirebon. Husein mendapat berita wafatnya Gus Dur dari temannya, wartawan Koran Sindo. Seakan tak percaya kepergian Gus Dur, ia mencoba menghubungi A.W. Maryanto, temannya yang selalu mendampingi Gus Dur di Rumah Sakit. “Aku baru saja istirahat dari rumah sakit, dan sekarang sedang makan. Jam 17.00 tadi, 18 orang dokter khusus telah memeriksa kesehatan Bapak dan beliau sudah membaik,” jawab Maryanto.

Rasa penasaran terus menghantui kiai alumni Pesantren Lirboyo ini. Ia mencoba menelpon Yeni Wahid, putri ke dua Gus Dur. Namun yang mengkonfirmasi telepon tersebut adalah Inayah, putri bungsu Gus Dur. Inayah memastikan kepergian Gus Dur untuk selamanya. Kiai Husein sempat menyesal karena tidak dapat mendampingi Gus Dur di tutup usianya. Ia pun mengirim pesan singkat ke istri Gus Dur. “Ibu, saya sangat menyesal tidak berada di samping Bapak, seperti sebelumnya, mohon maaf.” “Begitu saja, dan saya tak berharap Ibu membalasnya,” sesal Husein.

Saat itu juga Kiai Arjawinangun, Cirebon ini, meluncur menuju Ciganjur, rumah Gus Dur. Menurutnya, dia mendapat kehormatan memimpin mendoakan Gus Dur dengan jamaah lainnya untuk ke sekian kalinya.

Baca juga:  Akibat Tolak Muslim Masuk Amerika, Donald Trump Dapat 5 Hukuman Ini

2. Ribuan Orang Menangisi Gus Dur Sosok Sufi Sejati

Pria kelahiran Cirebon ini, mengingat-ingat sebuah syair Arab yang juga biasa ditembangkan Gus Dur saat menatap jasadnya. Waladatka ummuka ya ibna Adam, wan nasu haulaka yadhakuna surura, fajtahid linafsika an takuna idza bakau, fi yaumi mautika dhahikan wa surura ‘ketika ibu melahirkanmu, hai anak cucu Adam. Engkau menangis, ketika orang-orang di sekitarmu menyambutmu dengan riang. Maka, bekerjalah sungguh-sungguh untukmu sendiri ketika engkau tak lagi bersama mereka selamanya. Mereka menangis tersedu-sedu, ketika engkau pulang sendiri dengan senyuman menawan’.

“Seperti bunyi syair di atas, ribuan orang di seluruh negeri, malam itu, berduka dan menangis tersedu-sedu. Sebagian histeris, meski tak dibolehkan Nabi, dan sebagian lagi diam, membisu, dengan wajah lesu, tak bergairah. Sementara itu, Gus Dur memang pulang sendirian dengan riang. Beliau akan segera memasuki gerbang rumah abadi yang damai,” seolah mengingat-ingat kembali sosok Gus Dur yang telah pergi pada waktu itu.

3. Kematian Pintu Gerbang Kehidupan

Gus Dur disemayamkan di Pesantren Tebuireng, Jombang, bersama ayah, K.H. Hasyim Asyari, dan kakeknya, K.H. Hasyim Asyari. Kiai Husein pun mengenang bagaimana iring-iringan para jamaah yang ingin mengantar Gus Dur ke luar rumah menuju mobil yang kemudian diberangkatkan ke Bandara Halim Perdanakusuma. “Pasukan segera disiapkan dan penghormatan kenegaraan dilakukan di bawah komando Presiden SBY. Seluruh hadirian berdiri sambil menundukkan wajahnya dengan dada berdegup-degup. Mereka hanyut dalam suasana hati yang berduka,” tuturnya mengenang.

Kiai Husein pun berkeyakinan bahwa Gus Dur masih membagi kegembiraan dan pesan kepada para pengantar jasadnya untuk tidak menangisi kepulangannya, seperti pesan Maulana Jalaluddin Rumi, “Jangan teriak-teriak menangis pada hari pemakamanku. Bagiku, inilah pertemuan yang bahagia.” Bagi para sufi, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Para sufi meyakini bahwa kematian justru adalah awal kehidupan sejati.

4. Gus Dur Akan Selalu Dikenang seperti Walisongo

Kiai Husein mensejajarkan Gus Dur dengan Walisongo. Ia memaparkan bahwa beberapa pengamat meramalkan Gus Dur untuk satu atau dua abad kemudian akan berubah menjadi pribadi yang dimitoskan. Kuburannya, tempat ia diistirahkan selamanya, akan dikunjungi banyak orang setiap hari. Mereka yang berziarah kepadanya dengan tulus ingin mendoakannya, seperti para Walisongo. Bahkan, orang-orang Nahdlatul Ulama mengkategorikan Gus Dur sebagai wali yang kesepuluh, melengkapi Walisongo.

Baca juga:  Memaafkan Itu Memang Akhlak NU yang Patut Ditiru, Tapi Kali Ini Memang Sudah Keterlaluan

“Mungkin ini pandangan yang berlebihan bagi manusia yang hidup hari ini, tetapi masa depan yang panjang adalah kemungkinan-kemungkinan yang tak terpikirkan. Ketika pikiran-pikirannya ditulis sebagai babad, sejarah hidupnya didongengkan kepada anak-anak dan pesan-pesannya dipahat di mana-mana, serta ketika puisi-puisinya disenandungkan di surau-surau, ia sangat mungkin menjadi sarat makna mitis, menjadi Sang Legenda,” Husein menduga-duga.

5. Semua Agama Turut Mendoakannya

Saat kematian Gus Dur, orang-orang yang mendoakan bukan hanya orang Muslim dari kalangan NU saja. “Umat Kristen mendentangkan lonceng gereja-gereja mereka, untuk menyelenggarakan ritual dan doa khusus bagi Gus Dur. Boleh jadi mereka juga membaca kitab suci: Injil. Kuil-kuil, sinagog-sinagog, vihara-vihara, pure-pure, klenteng-klenteng dan tempat-tempat penyembahan kepada Tuhan yang lain, apa pun namanya, juga menyelenggarakan ritual, mantra, dan doa untuknya. Kata mereka, Gus Dur adalah orang suci, sang Santo,” jelas kiai Husein.

“Apa yang dikatakan dan dijalani Gus Dur, itulah yang difirmankan Yesus, diajarkan Moses, dituturkan Sang Budha, disabdakan dalam Baghawad Gita, disabdakan dalam Tripitaka dan diceramahkan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Melalui beliau kata-kata Yesus, Moses (Nabi Musa), Budha Gautama, Gita dan Hazrat Mirza, menjadi hidup kembali,” kenang Kiai Husein mendeskripsikan simpati pemeluk agama lain pada Gus Dur.

ibnu kharish1Penulis : Ibnu Kharish | Penulis Tetap Datdut.com

Fb : Ibnu Harish

Komentar

Redaksi

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi
  •  
    65
    Shares
  • 65
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *