• 5
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares

DatDut.Com – Mentahdzir (memperingatkan) itu bagus, karena tahdziran itu bagian dari nasihat. Bukankah agama adalah nasihat? Tapi itu pun kalau tahdzirannya terkait dengan akidah atau hal-hal ushul yang disepakati oleh semua ulama.

Nah, bagaimana kalau tahdzirannya hanya soal manhaj yang tak sama, apalagi hal yang belum disepakati banyak ulama? Apa malah tidak terjerumus pada sikap memonopoli kebenaran untuk kelompok sendiri dan menolak kebenaran dari kelompok lain.

Satu lagi, zaman dulu tahdziran itu dilakukan oleh ulama yang ilmunya jauh di atas orang yang ditahdzir. Yang boleh mentahdzir hanya ulama yang memenuhi kualifikasi ilmu yang mendalam (mutabahhir), kesalehan paripurna, paham jarh wa ta’dil, paham ilmu muqaranah mazhahib (perbandingan mazhab).

Coba perhatikan orang-orang yang gemar mentahdzir belakangan ini? Pada level apakah mereka? Sudahkah mereka sampai di level orang yang boleh mentahdzir? Jangan-jangan justru iri dan dan hasad ada orang yang lebih terkenal dan perasaan tersaingi, yang justru melatarbelakangi tahdziran mereka.

Baca juga:  Ini Makna "Khilafah" dalam Al-Qur'an dan Hadis

Ternyata orang-orang yang gemar mentahdzir itu pula yang gemar melarang orang bermazhab. Anehnya orang-orang itu selalu meributkan manhaj orang. Saya jadi bingung. Jangan-jangan mereka ini belum paham betul perbedaan dan persamaan manhaj dan mazhab.

Mereka juga suka sekali melarang-larang  orang taklid, tapi yang diagung-agungkan selalu ulama tertentu. Ulama yang tak semanhaj selalu disalahkan. Hanya ulama semanhajnya yang dianggap selalu benar. Jangan-jangan makna taklid, dia juga belum paham. Karena yang dipraktikkannya sesungguhnya adalah taklid buta.

Mereka juga selalu mengajak untuk hanya kembali kepada Alquran dan Sunnah. Tapi pemahaman soal Alquran dan Sunnah justru diambil dari ulama-ulama sefikrah dan semanhaj dengannya. Lalu, apa bedanya dengan kelompok lain yang juga ambil pendapat ulama untuk memahami Alquran dan Sunnah?!

Di sinilah saya rasa kita perlu membiasakan melihat halaman orang. Jangan cuma melihat halaman rumah sendiri. Kadang rumput tetangga lebih hijau dari rumput kita. Jangan menjadi katak dalam tempurung. Kadang-kadang menengok dan menyelami sudut pandang orang lain itu penting. Semoga mereka tidak cuma gemar mentahdzir orang lain, tapi juga berani mentahdzir diri sendiri.

Baca juga:  Ketika Takbir Bersama dan Takbiran Keliling Juga Dibidahkan!

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah
Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)
  •  
    5
    Shares
  • 5
  •  
  •